9 Adab Membaca Alquran yang Baik menurut Islam

9 Adab Membaca Alquran yang Baik menurut Islam

10 Adab Membaca Alquran yang Baik menurut Islam

Membaca Alquran merupakan salah satu bentuk ibadah dalam umat Islam. Tentunya, ada adab membaca Alquran yang baik serta perlu dicontoh menjadi umat muslimin dan muslimat. agama Islam mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan manusia. Termasuk tentang tata krama adab membaca Al-Quran.

karena itu kita wajib mengikuti ajaran-Nya serta menjadi Al-Quran sebagai pedoman dalam hidup. Kita harus selalu buat selalu membaca, melafalkannya setiap hari, agar kita bisa lebih dekat dengan Allah SAW.

Manfaat Membaca Alquran

Adab Membaca Alquran

Alquran adalah kitab suci Allah SWT yg diturunkan pada Nabi Muhammad SAW. kitab suci ini dijadikan pedoman bagi umat manusia dalam menjalani kehidupan, supaya memperoleh berkah di dunia maupun akhirat. Barangsiapa yang membaca, mengkaji, dan mengamalkan isi yang terkandung di dalam Alquran, maka dia akan memperoleh manfaatnya.

Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW yg berbunyi:

“Bacalah Al-Qur’an, sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat memberi syafaat kepada para pembacanya.” (HR. Imam Muslim).

Adab Membaca Alquran dalam Islam

menjadi orang Muslim yg taat dan baik, teman – teman serta Dads perlu mencontohkan bagaimana adab yang baik serta benar waktu membaca Alquran kepada Si kecil. Selain harus menutup aurat, ada adab lainnya yang perlu diikuti agar manfaat membaca Alquran dapat teman – teman rasakan.

ayo ikuti adab membaca Alquran menurut Islam dengan tepat serta benar, diantaranya:

1. Membersihkan lisan

Adab membaca Alquran yg pertama yakni dengan menjaga kebersihan mulut. Membersihkan mulut termasuk dalam adab dalam membaca Alquran. Hal ini dikarenakan mulut sebagai tempat makharijul huruf atau tempatnya keluar huruf dalam Alquran.

Mengutip AZ Islam, sunnah hukumnya menjaga kebersihan mulut sebelum membaca kitab suci Alquran. dalam keadaan mulut yg bersih, kita juga akan nyaman dan percaya diri buat membaca Alquran.

seperti dalam hadits Rasulullah berkata,

عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْْمَانِ رَضِيَ اللهَ عَنْهُ قُالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ إِذَا قَامَ مِن اللَّيْلِ يَبَوْهسو ف

“Dulu, Jika Nabi terbangun pada malam hari, maka dia menyikat mulutnya dengan siwak.” (HR Bukhari dan Muslim)

Cobalah untuk menggosok gigi dengan siwak menggunakan dahan atau akar dari pohon Salvadora persica untuk membersihkan gigi, gusi, dan mulut.

2. dalam Keadaan Bersuci

Sebelum memulai membaca kitab suci ini, seorang wajib pada kondisi bersuci, baik dalam pakaian maupun berwudhu yang merupakan prasyarat dari setiap ibadah. Alquran merupakan kitab suci yg mulia serta kewajiban umat Muslim untuk menjaganya dengan baik. salah satu adab membaca Alquran berikutnya ialah dengan berwudhu.

Rasulullah SAW bersabda,

“Jika ada seorang berwudhu dengan membaguskan wudhu’nya, maka keluarlah dosa-dosanya asal kulitnya sampai dari kuku jari-jemarinya.” (HR. Muslim).

Ayat ini menekankan pada kehormatan besar menjadi Muslim untuk menunjukkan rasa hormat yg luar biasa terhadap-Nya. untuk anak-anak sendiri, wudhu bukanlah kewajiban, namun kita perlu mengajarkan mereka buat memahami etika dan adab membaca Alquran ya, teman – teman.

3. Duduk Tegak Menghadap Kiblat

77c5dd41 d1b3 439e 819b bc3c9648a2d8 1

karena Alquran adalah bentuk ibadah, cobalah buat duduk menghadap kiblat. Melansir Tanfond Online, arah suci atau kiblat umat Islami adalah menuju Mekah, atau lebih tepatnya, menuju Kabah suci di Mekah. Ini merupakan adab membaca Alquran yang berikutnya dalam Islam.

Alquran bukanlah sembarang kitab biasa, melainkan kitab suci yg diturunkan dari Allah SWT. karena itu, menjadi umat Muslim kita wajib menghargainya dengan duduk di tempat yang layak serta pada posisi tegak. Selain itu, seorang juga wajib duduk dengan penuh perhatian, menghadap kiblat, sambil memegang Alquran di tangannya buat memulai membaca serta melafalkannya.

4. Membaca Ta’awudz

Bila kita ingin membaca Alquran, kita wajib membaca Ta’awudz terlebih dahulu. Taawuz atau Ta’awudz adalah doa memohon perlindungan kepada Allah SAW dari setan yg terkutuk. Meski hukumnya sunnah, adab membaca Alquran ini tentu sebagai langkah berikutnya yg wajib diterapkan.

dari Jumhur (mayoritas ulama), bacaan ta’awudz adalah seperti “a’udzu billahi, inasy syaithonir rajiim”, yang artinya adalah “aku berlindung kepada Allah dari setan yg terkutuk.”

Adapun perintah membaca Ta’awudz disebutkan di ayat pada bawah ini:

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآَنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Jadi ketika seseorang membaca Al-Qur’an, [pertama] berlindung kepada Allah dari Setan, diusir [dari rahmat-Nya].(Q.S. An-Nahl: 98)

5. Tartil Alquran

sahabat – sahabat, adab membaca Alquran berikutnya adalah dengan memerhatikan cara membacanya. Bila ingin membaca Alquran, harus menentukan tempat yg tenang dan membacanya secara perlahan (tartil). Mengutip Al Hasanah, tartil menurut arti kata adalah perlahan-lahan.

dalam tafsir Ibnu Katsir, tartil berarti membaca sesuai hukum tajwid. dan , membaca secara perlahan akan membantu seseorang untuk memahami serta mentadabburi maknanya. karena hukum membaca Al-Qur’an pelan-pelan (tartil) adalah sunnah serta makruh Jika membacanya dengan cepat.

seperti yg disebutkan dalam Al-Qur’an di bawah ini:

اأَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا

“Atau tambahkan, serta bacalah Al-Qur’an dengan bacaan yang terukur.” (Q.S. Al-Muzzamil: 4)

6. Memegang dengan Tangan Kanan

dengan memenuhi Sunnah Nabi, seorang wajib memegang Alquran di tangan kanannya buat menunjukkan adab membaca Alquran berikutnya.

Diriwayatkan oleh Hazrat A`ishah (R.A):

“Nabi SAW menggunakan tangan kanannya untuk mengoleskan parfum, makan, dan menggunakan tangan kirinya di toilet atau saat menghilangkan kotoran.” (Abu Dawood)

artinya, “Rasulullah SAW selalu menggunakan tangan kanan-Nya dalam melakukan pekerjaan hasan (kebaikan) dan memakai tangan kiri-Nya buat melakukan perbuatan lain.”

oleh karena itu, seseorang harus menggunakan tangan kanannya ketika memegang serta membaca ayat suci Alquran.

7. Memerhatikan hukum Tajwid

Adab lahiriah

Adab membaca Alquran yakni dengan mpererhatikan hukum bacaan (tajwid) pada setiap ayat ketika membaca Alquran. Alquran harus dibaca dengan hati-hati dalam hal pengucapan yang benar. karena bahasa Arab adalah bahasa yg sangat kompleks serta sedikit kesalahan bisa mengakibatkan perubahan dalam arti sebenarnya dari kata-kata tadi.

Selain itu juga wajib dibaca dengan nada yg sangat pas, sebab Rasulullah SAW telah meriwayatkan:

“dia bukan salah satu dari kita yg tidak membuat suaranya indah dengan Alquran,” (Bukhari Muslim).

Mengiramakan yg dimaksud berarti harus menunjukkan kesedihan serta menampakkan kekhusyukan, serta memerhatikan tajwidnya dengan baik waktu membaca Alquran. oleh sebab itu, membaca kitab suci Allah SWT ini sangat membawa keberkahan buat kita.

8. Istirahat ketika Mengantuk

teman – teman, adab membaca Alquran satu ini pula perlu diperhatikan, ya.

Jika sudah mengantuk, kita wajib berhenti membacanya sebab itu hukumnya sunnah serta Rasulullah pernah bersabda:

“Jika salah satu dari kalian terbangun pada malam hari, maka mulut kalian terasa sulit buat membaca Al-Qur’an hingga kalian tidak menyadari apa yang kalian baca, maka kalian wajib berbaring (tidur)”. (HR Muslim)

Dahulu, para sahabat sangat rajin menghafal, murojaah dan membaca Alquran, Mereka selalu mengisi hari-hari mereka dengan membaca Alquran. tetapi, Bila mereka mengantuk, mereka akan berhenti membaca Alquran serta beristirahat.

9. Menutup dengan Doa

Mengutip Quran Reading, pada akhir proses membaca Alquran, seseorang disarankan untuk mengatakan hal berikut:

“Shadaqallahul ‘adziim wa balagha rasuuluhul kariim wa nahnu ‘alaa dzaalika minasy syaahidin”

yg artinya adalah, “Maha benar Allah yg Maha Agung dan Rasulnya yg mulia telah menyampaikan dan kami atas hal itu termasuk orang-orang yang bersaksi.”

menurut Syaikh Muhammad Makki dalam kitab Nihayatul Qaulil Mufid fi Ilmit Tajwid, ini dianjurkan buat doa penutup dalam adab membaca Alquran.

Itu dia sahabat – sahabat 10 adab membaca Alquran dalam Islam yang baik dan benar. Membaca Alquran sepatutnya diiringi dengan adab yg baik agar menerima manfaat serta kebaikannya secara maksimal .

Pentingnya Mengerti Ilmu Fiqih Sebagai Panduan Ibadah

Pentingnya Mengerti Ilmu Fiqih Sebagai Panduan Ibadah

Pentingnya Mengerti Ilmu Fiqih sebagai panduan Ibadah dan Muamalah

5 Hadits Membaca Al Quran Setiap Hari

Konsekuensi tidak mengerti fiqih ialah ibadah bisa saja menjadi tidak sah. sebab salah dalam pelaksanannya. sebab itu sangat krusial tahu ilmu fiqih bagi generasi muslim. sebab ilmu fiqih adalah di antara ilmu syar’i yang harus dipelajari menjadi tata cara beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ilmu fiqih dibutuhkan karena akan menjelaskan semua cara hubungan yg sahih terhadap wahyu, baik dari Al-Qur’an maupun dari hadis. dengan kata lain, ilmu fikih akan menjelaskan bagaimana beribadah yang benar.

ilmu Fiqih juga sangat diperlukan sebagai pedoman utama waktu menjalankan ibadah maupun muamalah (hubungan sosial) dalam kehidupan sehari-hari. Ilmu fikih pula memandu seseorang Islam ketika mempelajari serta mengamalkan perintah dan menjauhi larangan.

Kalo kita ditanya, seberapa penting ilmu fiqih bagi seorang muslim? maka jawabnya adalah sangat penting. sebab pada Islam, semua ada aturannya. Sholat terdapat aturanya. Wudhu terdapat aturannya. Mandi wajib ada aturanya. Nikah ada aturanya. Puasa pula terdapat aturanya, serta masih banyak lagi.

jika hukum ini tidak dipahami dan dijalankan sesuai ilmu fiqih atau kaidah fiqh, maka konsekuensinya ibadahnya bisa menjadi tidak sah. Secara arti, ilmu fiqih adalah ilmu dengan aturan-aturan syariat atas suatu perbuatan yg diambil dari dalil- dalil yang terperinci. Fiqh diperkuat ilmu Ushul Fiqih, yaitu ilmu dengan kaidah-kaidah dan pembahasan- pembahasan yg dapat menghasilkan hukum-hukum syariat dari dalil-dalil yg terperinci.

penjelasan ilmu ushul fiqih diantaranya oleh Abd al Karim an Namlah, dalam kitabal Muhazzab fi ‘Ilm Ushul al Fiqh al Muqaran. Dijelaskan bahwa ilmu ini ialah ilmu pengetahuan yang membahas tentang dalil-dalil fikih yg bersifat dunia, dan metode penyimpulan hukum asal dalil-dalil tadi, serta kondisi atau prasyaratmustafid dan mujtahid (ulama) atau yang memiliki otoritas dalam proses tersebut.

Jadi fiqih bisa digambarkan sebagai disiplin keilmuan dalam agama Islam, yang sudah berhasil menjelaskan dengan jelas serta sempurna, tentang hukum-hukum yg terkandung di setiap potong ayat, serta hadis yang jumlahnya ribuan. dengan menguasai disiplin ilmu fiqih (beserta kaidahnya), maka ajaran agama Islam bisa dipahami dengan benar, sebagaimana Rasulullah Shallalahi ‘Alaihi wa Sallam dahulu mengajarkannya. Tanpa fiqih, maka ibadah serta muamalah bisa kacau dan tidak terarah.

misalnya, fiqih mengajarkan hukum berdagang. dari bukuHarta Haram Muamalat Kontemporerkarya Erwandi Tarmizi, At Tirmidzi meriwayatkan bahwa khalifah Umar bin al-Khattab Radhiyallahu Anhu, mengeluarkan perintah : “Jangan berjualan di pasar ini para pedagang yg tidak mengerti dien (muamalat)“.

Selain itu juga diriwayatkan asal Imam Malik bahwa beliau memerintahkan para penguasa buat mengumpulkan semua pedagang serta orang-orang pasar, kemudian beliau menguji mereka satu-persatu, saat beliau dapati di antara mereka ada yang tidak mengerti hukum halal-haram tentang jual-beli beliau melarangnya masuk ke pasar seraya menyuruhnya mempelajari fikih muamalat, Bila telah paham, orang tersebut dibolehkan masuk pasar, Tanbih Al Ghafilin.

lalu diriwayatkan dari Abu Laits, beliau mengatakan, seseorang tidak halal melakukan akad jual-beli selagi beliau belum menguasai bab fiqih jual-beli.

Jadi, ilmu fikih memiliki peran terbesar dalam pelaksanaan syariat Islam, dibandingkan dengan disiplin keilmuan lainnya seperti akidah, tasawuf dan lain sebagainya. masalah-masalah dalam ilmu fikih menempati porsi terbesar dalam khazanah keilmuan Islam. Hal ini disebabkan fikih sebagai hukum akan terus merespons perkembangan peradaban manusia.

Fiqih akan terus berkaitan dengan hukum dalam ajaran Islam, bersifat dinamis dan selalu berkembang. Ilmu fiqih sangat penting dikuasai menjadi kunci dalam memahami ajaran-ajaran yang terdapat pada Islam.

 

Baca Juga : Buku Fiqh Islam Terlengkap

 

Ayat-ayat yg menjelaskan fiqih ibadah sholat, contohnya, ada dalam surat An Nisa ayat 103 :

اِنَّ الصَّلٰوةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ كِتٰبًا مَّوْقُوْتًا

“sungguh, shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An Nisa: 103)

Ayat yg menjelaskan keringanan ketika menjalankan ibadah puasa pada bulan Ramadhan. Firman Allah :

اَيَّامًا مَّعْدُوْدٰتٍۗ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗ وَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهٗ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍۗ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهٗ ۗ وَاَنْ تَصُوْمُوْا خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

“(Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka barangsiapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengubah) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) di hari-hari yang lain. dan bagi orang yang berat menjalankannya, harus membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. tetapi barangsiapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itu lebih baik baginya, serta puasamu itu lebih baik bagimu Jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah : 184).

dengan mengkaji ilmu fiqih (kaidah serta ushul nya), maka akan mudah menjalankan hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi wa Sallam). Ilmu ini akan memandu dalam setiap aspek kehidupan umat Islam, dari ibadah (interaksi hamba dengan Allah) sampai aspek muamalah (interaksi sesama hamba Allah).

Imam Al Ghazali 3

KEUTAMAAN ILMU FIQIH

1. Tafaquh fid-dien (memperdalam pemahaman agama) adalah Perintah serta Hukumnya wajib.

مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُؤْتِيَهُ اللَّهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِي مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ

“tidak wajar bagi seorang manusia yg Allah berikan kepadanya Al kitab, hikmah dan kenabian, kemudian dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.” akan tetapi : “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al kitab serta disebabkan kamu tetap mempelajarinya”.” (Ali Imran : 79)

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

“tidak sepatutnya bagi mu’minin itu pergi semuanya . Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang buat memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan buat memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, agar mereka itu dapat menjaga dirinya.” (At-Taubah : 122)

طَلَبُ اْلعِلْمِ فَرِيْضَةً عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu itu wajib bagi tiap muslim.” (HR.Ibnu Majah)

2. Paham terhadapat ilmu fiqih ialah nikmat yg agung serta tanda bertambahnya kebaikan.

وَأَنْزَلَ اللَّهُ عَلَيْكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُنْ تَعْلَمُ وَكَانَ فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكَ عَظِيمً

“… dan (juga karena) Allah telah menurunkan kitab (Al-Qur-an) dan hikmah (AS-Sunnah) kepadamu dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum engkau ketahui. Karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu sangat besar .” (An-Nisaa’: 113)

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين

“Barangsiapa dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka dia akan memberikan pemahaman agama kepadanya.” (Mutafaqqun ‘Alaih)

3. Fiqih bersumber dari al Quran & Sunnah adalah penjaga dari penyimpangan/kesesatan.

تركت فيكم أمرين لن تضلوا ما تمسكتم بهما : كتاب الله وسنة نبيه

“sudah aku tinggalkan di kalian dua perkara yang Bila kalian berpegang dengan keduanya, tidak akan tersesat : Kitabullah serta Sunnah Nabi-Nya”. (HR.Muslim)

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang beramal dalam urusan kami ini apa-apa yg bukan darinya maka dia tertolak.” (Mutafaqqun ‘Alaih)

4. Ahlu fiqih serta orang yg mempelajarinya merupakan orang yang memiliki derajat yg tinggi.

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Allah akan meninggikan orang-orang yg beriman di antaramu dan orang-orang yg diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (Al Mujadilah : 11)

5. Orang yg paham ilmu syari’at merupakan orang yang dekat kepada taufiq dan hidayah Allah

وَيَرَى الَّذِيْنَ أُوْتُوْا الْعِلْمَ الَّذِي أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ هُوَ الْحَقَّ وَيَهْدِي إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيْزِ الْحَمِيْدِ

“dan orang-orang yang diberikan ilmu memandang bahwa apa yg telah diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Rabbmu merupakan kebenaran dan akan membimbing pada jalan Allah yg Maha Mulia lagi Maha Terpuji.” (Saba: 6)

وَتِلْكَ اْلأَمْثاَلُ نَضْرِبُهاَ لِلنَّاسِ وَماَ يَعْقِلُهاَ إِلاَّ الْعاَلِمُوْنَ

“Demikianlah permisalan-permisalan yang dibuat oleh Allah bagi manusia dan tak ada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.” (Al-’Ankabut: 43)

6. tidak Paham Syariah serta khsususnya fiqih akan menyebabkan Perpecahan dan menghilangkan kekuatan umat

Para ulama terbiasa berbeda pendapat, sebab berbeda hasil ijtihad sudah menjadi keniscayaan. namun sebab ilmu yang mereka miliki membuat mereka tak saling mencaci, menjelekkan atau menafikan.

sebaliknya, semakin awam seseorang terhadap ilmu syariah, umumnya akan semakin tidak punya mental untuk berbeda pendapat. Sedikit perbedaan di kalangan mereka sudah memungkinkan buat terjadinya perpecahan, pertikaian, bahkan saling menjelekkan satu sama lain.

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“serta taatlah pada Allah dan rasul-Nya dan janganlah engkau berbantah-bantahan, yg menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu serta bersabarlah. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (Al Anfaal :46)

 

Baca Juga : Buku Fiqh Islam

 

7. Kehancuran umat serta datangnya kiamat Ditandai dari Hilangnya Ilmu Syariah

مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَيَثْبُتَ الْجَهْلُ وَيُشْرَبَ الْخَمْرُ وَيَظْهَرَ الزِّنَا

“Diantara terjadinya hari kiamat yaitu: diangkatnya ilmu, kebodohan merajalela, banyaknya orang yang meminum minuman keras, serta zina dilakukan dengan terang-terangan.” (HR. Muslim)

ﺿﻴﻌﺖ ﻓﺈﺫﺍ ﺍﻟﺴﺎﻋﺔ ﻓﺎﻧﺘﻈﺮ ﺍﻷﻣﺎﻧﺔ . ﻓﻘﺎﻝ : ﺇﺿﺎﻋﺘﻬﺎ ﻛﻴﻒ ؟ ﻗﺎﻝ : ﻏﻴﺮ ﺇﻟﻰ ﺍﻷﻣﺮ ﻭﺳﺪ ﺇﺫﺍ ﻓﺎﻧﺘﻈﺮ ﺍﻟﺴﺎﻋﺔ ﺃﻫﻠﻪ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bila amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi.” ada seseorang sahabat bertanya; ‘bagaimana maksud amanat disia-siakan? ‘ Nabi menjawab; “Jika urusan diserahkan bukan pada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu.” (HR. Bukhari)

8. Tipu Daya Orientalis serta Sekuleris Sangat Efektif Jika Lemah di Bidang Syariah

وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ إِلَّا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ

“Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Bila engkau (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, pasti akan terjadi kekacauan pada muka bumi dan kerusakan yg besar .” (QS. Al-Anfaal: 73)

Para ulama syariah terbiasa tidak sinkron pendapat, karena berbeda hasil ijtihad telah sebagai keniscayaan. namun mereka sangat menghormati perbedaan diantara mereka. sehingga tidak saling mencaci, menjelekkan atau menafikan.

sebaliknya, semakin awam seseorang terhadap ilmu syariah, biasanya akan semakin tidak punya mental buat tidak selaras pendapat. Sedikit perbedaan di kalangan mereka sudah memungkinkan buat terjadinya perpecahan, pertikaian, bahkan saling menjelekkan satu sama lain.

referensi tambahan :

dari Shahabat Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, Rasulullah Saw bersabda :

أَلَا إِنَّ الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ مَلْعُونٌ مَا فِيهَا إِلَّا ذِكْرُ اللَّهِ وَمَا وَالَاهُ وَعَالِمٌ أَوْ مُتَعَلِّمٌ

“Ketahuilah, sesungguhnya dunia itu dilaknat dan dilaknat apa yg ada di dalamnya, kecuali dzikir pada Allah dan ketaatan kepada-Nya, orang berilmu, serta orang yang mempelajari ilmu.”[4]

Rasulullah Saw bersabda :

سيأتي على الناس سنوات خداعات يصدق فيها الكاذب ويكذب فيها الصادق ويؤتمن فيها الخائن ويخون فيها الأمين وينطق فيها الرويبضة . قيل وما الرويبضة ؟ قال : الرجل التافه ؛ يتكلم في أمر العامة

“Akan datang tahun-tahun yg dipenuhi penipuan. pada waktu itu, seorang pendusta justru dibenarkan serta seorang yg jujur malah didustakan. seseorang pengkhianat malah dipercaya dan seorang yang amanah malah dikhianati. pada waktu itu, ar-ruwaibidhah akan angkat bicara. Para sahabat bertanya, “Apa ruwaibidhah itu?” Nabi menjawab, “Ar-ruwaibidhah ialah seorang yg (pada hakekatnya) dungu, tetapi berani bicara mengenai urusan umat.” (HR. Bukhari).

Ali a berwasiat kepada muridnya, Kumail bin Ziyad,
يا كميل بن زياد القلوب أوعية فخيرها أوعاها للعلم احفظ ما أقول لك الناس ثلاثة فعالم رباني ومتعلم على سبيل نجاة وهمج رعاع اتباع كل ناعق يميلون مع كل ريح لم يستضيئوا بنور العلم ولم يلجئوا إلى ركن وثيق

“Wahai Kumail bin Ziyad. Hati manusia itu bagaikan bejana (wadah). oleh karena itu, hati yg terbaik artinya hati yang paling banyak memuat ilmu. Camkanlah baik-baik apa yang akan kusampaikan kepadamu. manusia itu terdiri dari 3 kategori, seorang yang berilmu dan mengajarkan ilmunya. seorang yg terus mau belajar, dan orang inilah yg berada di atas jalan keselamatan. Orang yang tidak berguna serta gembel, dialah seseorang yg mengikuti setiap orang yg bersuara. oleh karenanya, dia ialah seseorang yang tidak punya pendirian sebab senantiasa mengikuti kemana arah angin bertiup. Kehidupannya tidak dinaungi oleh cahaya ilmu dan tak berada pada posisi yg kuat.” (Hilyah al-Auliya, 1/70-80).

Al Imam Ahmad t mengatakan :

الناس محتاجون إلى العلم قبل الخيز و الماء لأن العلم محتاجون إليه الإنسان في كل ساعة و الخبز و الماء في اليوم مرة أو مرتين

“manusia sangat membutuhkan ilmu melebihi kebutuhan terhadap roti serta air, sebab ilmu dibutuhkan manusia di setiap waktu. Sedangkan roti dan air hanya dibutuhkan manusia sekali atau 2 kali” (Al Adab asy Syar’iyyah 2/44-45).

Imam Asy Syafi’i t berkata :

كُلُّ الْعُلُوْمِ سِوَى الْقُرْآنِ مُشْغِلَةٌ إِلاَّ الْحَدِيْثَ وَ عِلْمَ الْفِقْهِ قِي الدِّيْنِ
اَلْعِلْمُ مَا كَانَ فِيْهِ قَالَ حَدَّثَنَا وَ مَا سِوَى ذَاكَ وَسْوَسُ الشَّيَاطِيْنَ

Setiap ilmu selain Al Qur-an akan menyibukkan, kecuali ilmu hadits dan fiqih, Ilmu adalah sesuatu yang di dalamnya ada ungkapan ‘Haddatsana’ (yaitu ilmu yg berdasar pada wahyu). Adapun ilmu selainnya, hal itu hanyalah bisikan syaithan semata (Diwan al Imam asy Syafi’i, Dar al Kutub al ’Ilmiyah).

Beliau juga berkata,

مَنْ لَمْ يَذُقْ مُرَّ التَّعَلُّمِ سَاعَة تَجَرَّعَ ذُلُّ الْجَهْلِ طُوْلَ حَيَاتِهِ
وَ مَنْ فَاتَهُ التَّعْلِيْمُ وَقْتَ شَبَابِهِ فَكَبِّرْ عَلَيْهِ أَرْبَعًا لِوَفَاتِهِ

Barangsiapa yg tidak pernah mencicipi pahitnya belajar, Maka dia akan meneguk hinanya kebodohan di sepanjang hidupnya, Barangsiapa yang tidak menuntut ilmu di masa belia, Maka bertakbirlah empat kali, karena sungguh dirinya telah wafat (Diwan al Imam asy Syafi’i, Dar al Kutub al ’Ilmiyah).

Nabi muhammad bersabda:

من سلك طريقا يلتمس فيه علما سهل الله له به طريقا إلى الجنة

“Barangsiapa yang menempuh jalan buat mendapatkan ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga ” (HR. Muslim nomor 2699).
Wallahu a‘lam.

[1] Fiqh al Islami wa Adillatuhu,1/30 :
الفقه لغة: الفهم…وعرف الشافعي رحمه الله الفقه بالتعريف المشهور بعده عند العلماء بأنه: العلم بالأحكام الشرعية العملية المكتسب من أدلتها التفصيلية

[2] Al Mausu’ah Fiqhiyah al Kuwaitiyah, 32/193 :
الْفِقْهُ فِي اللُّغَةِ: الْعِلْمُ بِالشَّيْءِ وَالْفَهْمُ لَهُ، وَالْفَطِنَةُ فِيهِ، وَغَلَبَ، عَلَى عِلْمِ الدِّينِ لِشَرَفِهِ،…وَفِي الاِصْطِلاَحِ هُوَ: الْعِلْمُ بِالأَْحْكَامِ الشَّرْعِيَّةِ الْعَمَلِيَّةِ، الْمُكْتَسَبُ مِنْ أَدِلَّتِهَا التَّفْصِيلِيَّةِ

Lihat pula Al Fiqh asy Syari’ah,1/2 :

معناه علم القانون الإسلامي فهو علم الأحكام الشرعية العلمية التي تخص أفعال المكلفين، وبذلك تخرج أحكام العقائد والأخلاق من مدلول الفقه. لذا يعرف الفقه بأنه: (العلم بالأحكام الشرعية العملية المكتسب من أدلتها التفصيلية) وهذا التعريف للفقه في غاية الدقة إذ إنه يظهر وجهة نظر علماء المسلمين الخاصة لعلم الحقوق، وفيما يلي إيضاح عناصر هذا التعريف:

أولًا: الفقه علم: فهو ذو موضوع خاص وقواعد خاصة، وعلى هذا الأساس درسه الفقهاء في كتبهم وأبحاثهم وفتاويهم فهو ليس فنًّا يغلب فيه الذوق على العقل والمشاعر على الحقيقة.

ثانيًا: الفقه العلم بالأحكام الشرعية، والأحكام الشرعية هي المتلقاة بطرق السمع المأخوذة من الشرع دون المأخوذة من العقل كالعلم بأن العالم حادث، وأن الواحد نصف الاثنين، أو الأحكام المأخوذة من الوضع والاصطلاح اللغوي فالحكم الشرعي هو القاعدة التي نص عليها الشارع في مسألة من المسائل وهذه القاعدة إما أن يكون فيها تكليف معين كالواجب والمحرم فتسمى الحكم الشرعي التكليفي، وإما أن لا يكون فيها أي تكليف كالحكم بالصحة أو البطلان على فعل معين، فيقال لها الحكم الشرعي الوضعي.

ثالثًا: الفقه العلم بالأحكام الشرعية العملية: وكلمة عملية تعني أن الأحكام الفقهية تتعلق بالمسائل العملية التي تتعلق بأفعال الناس البدنية في عباداتهم ومعاملاتهم اليومية ويقابل بالأحكام العملية الأحكام العقائدية وأحكام صلاح القلب وهو ما يسمي بعلم الأخلاق، فهذه تتعلق بأفعال القلوب لا بأعمال الأبدان، ولذلك لا تسمى فقها في هذا الاصلاح.

رابعًا: جاء في التعريف أن علم الفقه مكتسب من أدلة الأحكام التفصيلية ومعنى ذلك أن الأحكام تعد من علم الفقه إلا إذا كانت مستندة إلى مصادر الشرع المعلومة أي أدلة الشرع. والفقيه هو الذي يسند كل حكم من أحكام الشرع إلى دليله، فالقانون الإسلامي أو الفقه الإسلامي ليس وضعيًّا من صنع الدولة بل هو تشريع ديني يستند إلى مصادر دينية

[3] Definisi oleh imam asy Syafi’I ini ialah yang paling populer. Lihat juga Syarh Jam’il Jawami’,1/32. Syarh al Isnawi,1/24 serta Mir’ah al Ushul,1/50

[4] Hadits hasan: Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 2322), Ibnu Majah (no. 4112), dan Ibnu ‘Abdil Barr (I/135, no. 135), Lihat Shahiih at-Targhib wat Tarhiib (no. 74). Lafazh ini milik at-Tirmidzi.

Wallahu ‘Alam

Mengapa Doaku tidak Dikabulkan ? INI 5 Penyebabnya

Mengapa Doaku tidak Dikabulkan ? INI 5 Penyebabnya

Mengapa Doaku tidak Dikabulkan ? INI 5 Penyebabnya

Mengapa Doaku tidak Dikabulkan ? – Dikesempatan kali ini tidaklah terdapat sesuatu yg lebih mulia buat kita haturkan melainkan puji-pujian kehadirat Allah yang Maha besar atas segala apa yg sudah dia limpahkan kepada kita semua, baik berupa nikmat kesempatan, kesehatan jasmani dan rohani dan banyak sekali kenikmatan yg tak mampu kita hitung bilangannya.

Begitu juga satu hal yang tidak bisa kita lupakan, yaitu ucapan sholawat serta salam atas junjungan kita, teladan kita, Nabi besar Muhammad Shallahu ‘alaihi wa salam, penutup dari para nabi serta rasul, yang sudah membawa agama yang hanif ini kehadiran kita semua, sehingga kita dapat merasakan kenikmatan iman serta manisnya islam. Semoga sholawat serta salam selalu tercurahkan kepada beliau, keluarganya, sahabatnya serta orang-orang yang selalu meniti jalannya sampai hari penghisapan kelak.

Saudaraku seislam, doa merupakan ibadah yg unik. Ibadah yg dengannya seorang hamba dapat berhubungan dengan sang Pencipta. Ibadah yang dengannya berbagai masalah teratasi. berbagai penyakit bisa disembuhkan. tapi adakah yg menyadari bahwa ibadah yg semua dari kita bisa melakukannya, akan tetapi tidak semua dari kita akan menuai hasilnya secara langsung.

ada yang berdoa, tapi belum juga terdapat hasil dari doa itu. “Mengapa doaku belum juga dikabulkan?” Mungkin pertanyaan seperti ini pernah bahkan sering terlintas dibenak kita. Sebuah pertanyaan yang terlintas saat doa yang kita panjatkan belum juga terkabulkan. Atau kerap pula kita dengar dari lisan saudara kita akan keluhan ini. oleh sebab itu kita menjadi hamba yang butuh akan pertolangan Allah Ta’ala, sudah seharusnyalah mengetahui apa penyebab dari semua itu.

Apakah penyebab ditangguhkannya doa yg dipanjatkan?! di pembahasan yg lalu, telah kita ketahui bersama akan keutamaan dan syarat- syarat terkabulkannya doa. pada kesempatan kali ini kita akan kembali membahas apa yang menjadikan doa itu terhalang buat dikabulkan?

Saudaraku seislam, banyak sebab yg menjadikan doa terhalang buat dikabulkan, tapi di kesempatan yg berbahagia ini kita akan membahas beberapa hal saja yang menyebabkan doa tersebut terhalang untuk dikabulkan. diantaranya ialah :

1. Mengkonsumsi hal-hal yang haram, baik dari berpakain, makanan juga minuman.

Dikesempatan yg lalu telah kita sebutkan sebuah cerita yg dikisahkan Nabi kita Muhammad Shallahu ‘alaihi wa salam tentang seorang pemuda yg terkumpul didalamnya faktor-faktor terkabulkannya doa. tapi sebab apa yang ia konsumsi berasal dari hal haram, maka doa yang dipanjatkan tidak dikabulkan oleh Allah Ta’ala. Nabi Muhammad Shallahu ‘alaihi wa salam bersabda yg di riwayatkan dari jalan Abu Hurairah :

ada seorang yg bepergian jauh, kusut rambutnya serta berdebu tubuhnya, dia pun mengangkat tangannya ke langit seraya berkata,”Ya Rabb!,Ya Rabb!” Sedangkan makanannya haram, pakaiannya haram, dan dia diberi makan dari sesuatu yang haram, bagaimana Allah Ta’ala mengabulkan doa orang tersebut ?!!.”

2. Tergesa-gesa dalam berdoa.

Sebuah ketergesaan dari seseorang hamba yang akhirnya menyebabkannya meninggalkan ibadah yg mulia ini. dalam hal ini آabi Muhammad Shallahu ‘alaihi wa salam sudah memperingatkan ummatnya buat tidak tergesa-gesa dalam berdoa. Beliaubersabda :

يستجاب لأحدكم ما لم يعجل فيقول قد دعوت فلا أو فلم يستجب لي

“Akan dikabulkan (doa) salah seorang dari kalian selama ia tidak tergesa-gesa serta mengatakan,”saya sudah berdoa, tetapi Allah juga tidak mengabulkan doaku.” HR. Bukhori Muslim.

Sebuah peringatan yang sangat jelas dari Nabi Muhammad Shallahu ‘alaihi wa salamkepada kita ummatnya akan kejelekan dari sebuah ketergesaan. Semoga dengan mengetahui hadist diatas menjadikan kita meninggalkan ketergesa-gesaan dalam berdoa.

3. Berbuat maksiat dan dosa, serta melanggar apa yg telah diharamkan dan meninggalkan apa yang sudah diwajibkan.

Nabi Muhammad Shallahu ‘alaihi wa salam bersabda :

Demi Zat yg jiwaku ada di tangan-Nya, kalian harus memerintahkan kepadakebaikan dan mencegah dari kemungkaran atau Allah akan menimpakan kepadakalian hukuman yang apabila kalian semua berdoa agar dihindarkan dari hukuman itu,maka tidak akan dikabulkan oleh-Nya HR. Tirmidzi.

Saudaraku yang dimuliakan Allah, maksiat merupakan kegelapan yang akan menutup hati kita. Kegelapan yang apabila dibiarkan terus menerus akan menyebabkan hati ini akan dikuasai oleh setan sehingga akan terhalang dari hidayah. dalam hal ini Syaikhul islam Ibnu Qayyim Al Jauziyah rahimahullah mengatakan : “Jika dosa semakin bertambah, maka itu akan menutupi hati pemiliknya.

Imam Mujahid rahimahullah juga berkata, “Hati itu seperti telapak tangan. Awalnya dia dalam keadaan terbuka serta Bila berbuat dosa, maka telapak tangan tersebut akan tergenggam. Bila berbuat dosa lagi, maka semua jemarinya perlahan-lahan akan menutup telapak tangan tadi. Bila dia berbuat dosa lagi,maka jari lainnya akan menutup telapak tangan tadi. Akhirnya semua telapak tangan tersebut tertutupi oleh jari-jemari.”

oleh karena itu, bagaimana sebuah doa yg kita panjatkan akan dikabulkan oleh Allah Ta’ala, sedangkan larangan-Nya selalu kita langgar dan perintah-Nya kita tinggalkan?! Hari-hari yg dilewati kita hiasi dengan maksiat tanpa memikirkan apa dampaknya bagi diri kita. Marilah bersama kita tingkatkan iman dengan memperbanyak istighfar dari dosa-dosa yang kita perbuat. yg semoga dengannya, doa yang kita panjatkan akan di kabulkan oleh Allah Ta’ala. Amin.

4. tidak bersungguh-sungguh dalam berdoa.

Nabi Muhammad Shallahu ‘alaihi wa salam bersabda :

Janganlah sekali-kali kalian berkata (saat berdoa),”Ya Allah, jika engkau berkenan maka ampunilah aku , bila engkau berkenan kasihilah saya, apabila engkau berkenan berilah kepadaku rezeki. akan tetapi bersungguh-sungguhlah dalam berdoa, sebab Allah Ta’ala berbuat menurut apa yg dia kehendaki serta tak ada yg memaksaNya.HR. Bukhori

Saudaraku, ingatlah, bahwasannya sejauh mana engkau berusaha maka sejauh itulah yg akan kau dapatkan. Terus serta teruslah didalam kesungguhan, maka engkau akan menuai hasilnya nanti. dan yg tidak kalah pentingnya adalah sebuah keyakinanbahwa doa yang kita panjatkan akan dikabulkan oleh Allah Ta’ala . Nabi MuhammadShallahu ‘alaihi wa salam bersabda :

Berdoalah kalian dengan keyakinan penuh akan terkabulnya doa itu, karena sesungguhnya Allah tidak akan mengabulkan doa yg dari dari hati yang lalai dan lengahHR. Tirmidzi.

serta akhirnya hanya kepada-Nyalah kita memohon pertolongan.

5. Tidak Menyebut Nama-Nama Allah waktu Berdoa

Penyebab doa tidak terkabul yang sering diabaikan adalah tidak menyebut nama-nama Allah saat berdoa. Allah SWT memiliki 99 nama yg dikenal dengan Asmaul Husna. supaya doa kita mudah dikabulkan, sebaiknya sebut nama-nama Allah waktu berdoa, seperti “Ya Allah Ya Rahman” atau “Ya Allah Ya Rahim”.

Rasulullah juga bersabda: Tahukah engkau sekalian orang itu berdoa dengan apa? dia menyebut nama Allah yg Agung dalam doanya. yg bila nama-Nya disebut, Allah pasti mengabulkan doanya, dan apabila mohon sesuatu dengannya sempurna diberi (HR Imam Abu Dawud)

Firman Allah dalam surah Al Araf 180 bersabda : “Allah SWT, mempunyai asmaul Husna, maka memohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaul Husna itu.

Saudaraku seislam, apa yang telah kita bahas bersama di atas ialah kenikmatan yg patut kita syukuri. Mungkin terdapat diantara kita yang selama ini lalai akan hal diatas atau memang sama sekali kita tidak menyadari hal tersebut. oleh karena itu tidak ada istilah terlambat bagi kita semua buat membenahi diri kita, ibadah serta kehidupan kita. Semoga apa yang kita bahas diatas menjadi suatu hal yang bermamfaat.

besar harapan saat ilmu yang telah kita dapatkan, bisa juga didapatkan saudara kita seislam karena hal itu akan menjadi amal jariyah kita kelak apabila kita telah tiada. serta semoga Allah menjadikan kita orang orang yg hidup diatas kecintaan sebab-Nya dan menjadikan kita orang yang mendapatkan naungan pada hari yg tiada naungan selain naungan-Nya kelak. Amin ya robbal ‘alamin.

referensi: Min ‘Ajaibid Du’a karya Khalid Bin Sulaiman Ar-Rob’i.

telah membeli
45 menit lalu