32 Daftar Kitab Kuning Yang Wajib Dipelajari

32 Daftar Kitab Kuning Yang Wajib Dipelajari

32 Daftar Kitab Kuning yang Wajib Di Miliki

kitab fathul majid makna gandul

Jika mendengar kata kitab kuning, pasti pikiran kita tertuju pada buku yang ada di pesantren. Sering juga suatu lembaga tidak dapat dikatakan sebagai pesantren apabila tidak mengkaji kitab kuning. Kitab kuning dibuat oleh ulama-ulama klasik yang berasal dari Jazirah Arab yang ditulis dengan gundul atau tanpa harakat (tanda baca dalam bahasa Arab), sehingga membutuhkan ilmu dan pemahaman yang tinggi.

Mengutip buku berjudul Kitab Kuning dan Dinamika Studi Keislaman karangan Dr. Mohammad Thoha, M.Pd.I. (2018: 5) disebut kitab kuning karena referensi buku-buku klasik bahasa Arab yang memuat kajian-kajian ilmu islam dengan kertas berwarna kekuningan. Kitab ini memuat khasanah keagamaan, tata cara peribadatan, pergaulan, etik dan cara pandang kehidupan.

Daftar Nama Kitab Kuning di Pesantren

Ada banyak sekali kitab kuning yang beredar di pesantren. Berikut beberapa kitab kuning yang biasa dipelajari di lingkungan pesantren.

1. Kitab Al-Jurumiyah

Kitab ilmu nahwu (ilmu tentang anatomi dan bentuk-bentuk kata dalam bahasa Arab) yang dikarang oleh Syekh Sonhaji. Kitab ini diperuntukkan untuk para santri yang baru belajar kitab kuning, karena kitab ini disusun secara sistematis dan diolah dengan bahasa yang mudah dipahami. Kitab ini merupakan pedoman level terendah dalam ilmu nahwu.

Al-Ajurrumiyah atau Jurumiyah (bahasa Arab: الآجُرُّومِيَّة‎) adalah sebuah kitab kecil tentang tata bahasa Arab dari abad ke-7 H/13 M. Kitab ini disusun oleh ahli bahasa dari Maroko yang bernama Abu Abdillah Sidi Muhammad bin Daud Ash-Shanhaji alias Ibnu Ajurrum (w. 1324 M).

Rumus-rumus dasar pelajaran bahasa Arab klasik ditulis dengan bentuk berima untuk memudahkan dalam menghapal. Di lingkungan masyarakat Arab kitab ini menjadi salah satu kitab awal yang dihapalkan selain Al-Qur’an.

Di kalangan pesantren tradisional, Kitab Matan al-Ajurrumiyyah merupakan textbook tentang ilmu nahwu (gramatika Bahasa Arab) yang sangat terkenal. Hampir setiap santri yang menimba ilmu di pesantren tradisional mengawali pelajaran tentang bahasa Arab melalui kitab ini. Kitab ini merupakan kitab standar yang merupakan dasar dari pelajaran bahasa Arab. Dalam praktiknya di dunia pesantren, kitab tersebut sering disebut dengan nama Jurrumiyyah.

Versi terjemahan kali ini lebih detail dan gamblang karena di sertakan contoh-contoh kalimat serta di lengkapi dengan skema materi, sehingga dengan mudah memahamkan bagi si pembaca.

2. Kitab Amtssilah At-Tashrifiyah

Selagi mempelajari ilmu nahwu, ada baiknya untuk menguasai ilmu shorof. Karena nahwu dan shorof tidak dapat dipisahkan. Shorof adalah ilmu perubahan kata yang meliputi perubahan dari kata kerja menjadi kata benda. Kitab ini dikarang oleh KH. Ma’shum ‘Aly yang berasal dari Jombang.

3. Kitab TAFSIR JALALAIN Makna Pesantren

Penulis :Jalaluddin al Mahalli | Jalaluddin as Suyuthi
Penerbit : –
Varian : Makna Pesantren
Jilid Cover : HC (Hard Cover)
Dimensi : 19 x 27 cm
Isi Kertas : Nanking Paper
Berat : 950 Gram

Kitab ini dikarang oleh dua pengarang yaitu Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaludin As-Sayuti yang dikarang pada rentang tahun 1459 hingga 1505. Kitab tafsir ini cukup mudah untuk dipahami sehingga kitab ini sering diberikan kepada santri-santri yang baru belajar kitab kuning.

Inilah kitab tafsir Jalalain, yang ditulis dua ulama terkenal yaitu Imam Jalaluddin Muhammad dan Imam Jalaluddin Abul Fadhl Abdurrahman. Ditulis oleh dua ulama yang memiliki nama depan Jalaluddin, itulah kenapa disebut kitab tafsir Jalalain atau Al-Jalalain, karena artinya dua Jalal. Kedua penulis kitab tafsir Jalalain tersebut, lebih dikenal dengan nama Jalaluddin Al-Mahalli dan Jalaluddin As-Suyuthi.

Awalnya kitab tafsir Jalalain ditulis Jalaluddin Al-Mahalli mulai dari surah Al-Kahfi sampai surah An-Naas.
Namun ketika menyelesaikan tafsir surah Al-Fatihah, beliau wafat dan dilanjutkan Jalaluddin As-Suyuthi yang menulis dari tafsir surah Al-Baqarah hingga surah Al-Isra.

Secara metodologi penulisan, tidak ada perbedaan mencolok di antara dua penulis. Lalu apa kelebihan dari kitab tafsir Jalalain ini?.

Berikut kelebihan kitab tafsir Jalalain:

– Tidak bertele-tele atau ringkas.
– Mudah dipahami.
– Menyebutkan pendapat yang rajih atau kuat dari berbagai pendapat yang ada.
– Sering menyebutkan sisi i’rab dan qira’at secara ringkas.
– Para ulama banyak menelaah kitab tafsir ini dan bahkan ada yang memberikan catatan kaki, juga penjelasan.

Itulah kitab tafsir Jalalain yang ditulis dua ulama yang memiliki nama depan Jalaluddin. Semoga bermanfaat.

4. Kitab Hadist Arbain Nawawi

Kitab karangan Abu Zakariya Yahya bin Syaraf bin Murri Al Nazami An-Nawawi membahas 42 hadits yang disebut hadits arba’in (hadits 40). Fukus utama pembahasan kitab ini adalah matan hadist, yaitu hadits atau perkara sanad dalam sebuah hadist.

Walapun daftar nama kitab kuning di atas sudah beredar sejak lama, namun eksistensi kitab kuning tetap terjaga secara turun temurun dipelajari hingga sekarang.

5. Kitab Kuning Kawakib Durriyah Syarah Mutammimah Hard Cover Nur Ilmu

Judul : Kawakibud durriyah
Pengarang : Syekh Muhammad bin ahmad bin abdul bari al-ahdal
Cetakan : Nurul Ilmi
Sampul : Hard Cover
Kertas : Kuning
Volume : 1 jilid 2 Juz
Halaman : 132 Halaman
Berat : 500 gram

Karangan Syekh Muhammad al-Ahdal dan telah di tahqiq (diteliti teks nya) oleh Alwi Abubakar Assegaf. Merupakan Syarah dari matn Mutammimah Al-Ujrumiyah

Penjelasan lebih terperinci kata perkata, dan dalam setiap pembahasannya disertai contoh-contoh kalimat dari topik pembahasan, biasanya dibaca oleh pengkaji ilmu nahwu tingkat menengah. (Untuk pengkaji tingkat lanjut disarankan membaca kitab Syarah Qotrun Nada atau Hasyiah Suja’ karena kitab tersebut memuat diskusi antara para pakar Bahasa Arab antara kelompok Ulama Kuffah dan Ulama Basrah)

Matn Mutammimah Al-Ujrumiyah merupakan pelengkap Matn Jurumiyah, dengan demikian Kitab Kawakib ad Duriyah (Syarah Mutammimah) biasanya dibaca setelah kitab Syarah Matn Ujrumiiyah (Mukhtashor Jiddan)

6. Kitab Kuning Syarah TIJAN DARORI Soft Cover Penerbit Nur Ilmu

Spesifikasi Produk:

Judul : KITAB SYARAH TIJAN DURARI
Penerbit : Nur Ilmu
Halaman : 16 Halaman
Berat : 50g
Sampul : Soft Cover
Ukuran : 19 x 27 cm

Info Lebih Lengkap Cek Disini

7. Kitab Kuning Syarah SYARAH TANQIHUL QOULL Soft Cover Penerbit Nur Ilmu

Spesifikasi Produk:

Judul : KITAB SYARAH TANGQIKHUL QOUL
Penerbit : Nur Ilmu
Halaman : 64 Halaman
Berat : 120g
Sampul : Soft Cover
Ukuran : 19 x 27 cm

Imam al-Nawawi al-Bantani lebih dikenal dengan spesialisasinya di bidang anotasi (syarah kitab kuning), dengan bukti ragam karyanya yang berupa penjelasan atas kitab-kitab agama, seperti Nihayah al-Zain fi Irsyad al-Mubtadi’in anotasi dari Qurrat al-Ain bi Muhimmat al-Din karya Zainuddin Abdul Aziz al-Malibari, Kasyifat al-Saja ‘ala Syarh Safinah al-Naja, Al-Simar al-Yani’ah fi Syarh al-Riyad al-Badi’ah, dan masih banyak kitab anotasi lainnya termasuk kitab Tanqih al-Qaul.

Al-Nawawi al-Bantani tidak membuat kitab hadis Arba’in secara independen. Ia hanya melakukan pensyarahan terhadap kitab Lubab al-Hadis karya Jalaluddin al-Suyuti. Al-Nawawai al-Bantani sepakat dengan al-Suyuti bahwa penulisan hadis Arba’in adalah mengamalkan sabda Nabi Muhammad Saw. tentang keutamaan menghafal 40 hadis:

من حفظ علي أمتي أربعين حدثنا من أمر دينها قيل لها دخل من أي ابواب الجنة شئت.

Barang siapa dari umatku yang menghafalkan 40 hadis dari perkara agamanya, maka baginya bisa masuk surga dari pintu yang ia kehendaki.

Sistem penulisan yang digunakan adalah hanya mencantumkan matan inti serta meringkas jalur periwayatan. Sebagaimana diungkap oleh al-Suyuti, al-Nawawi al-Bantani mengatakan kitab ini memuat hadis-hadis Nabi Saw. dan perkataan para sahabat yang diriwayatkan secara benar dan terpercaya. Untuk lebih meringkas kitab, al-Nawai al-Bantani membuang beberapa sanadnya.

8. Kitab Kuning Syarah IMRITHI Soft Cover Lengkap Penerbit Nur Ilmu

Spesifikasi Produk:

Judul: Kitab IMRITHI
Penerbit: Nur Ilmu
Halaman : 56 Halaman
Berat : 105g
Sampul : Soft Cover
Ukuran : 19x27cm

Di kalangan santri, kitab ini menjadi salah satu sorogan favorit dan ilmu alat (tata bahasa Arab) lanjutan. Umumnya diberikan setelah tahapan Kitab Ajurumiyah dapat terhapal dan terpahami dengan baik.

Karena berupa nazam (syair), kitab ini biasanya dibahas dengan cara dihafalkan oleh setiap santri. Dengan cara menghafal syair-syair itu, santri akan mudah mengingat setiap perubahan dan kedudukan kalimat yang akan dibahas di dalam kitab kuning.

Sebagaimana diungkapkan pengarang Kitab Ta’lim al-Muta’allim Ila Thariqah al-Ta’allum, Syaikh Burhanuddin Al-Zarnuji (w 620 H/1223 M), ”Setiap pelajaran hendaknya dipelajari dengan cara menghafal, baru kemudian memahaminya. Setelah menghafal dan memahami, baru melakukan pencatatan. Jangan mencatat sebelum paham karena itu akan membuang-buang waktu.”

Nazam Imrithi secara keseluruhan berjumlah sekitar 204 syair. Dalam kitab ini, juga ada Nazam Maqshud karya Syaikh Ahmad bin Abdurrahim. Nazam Maqshud berisi sekitar 113 bait syair, yang berisi tentang perubahan (i’rab) kalimat di dalam bahasa Arab.

Syaikh Syarafuddin al-Imrithi memulai pembahasan kitabnya dengan bab al-Kalam. Dalam kitabnya ini, pengarang menyebutkan tentang definisi kalam (kalimat). Kalamuhu lafzhun mufidun musnadin, wal kalimatu al-lafzhul mufidu al-mufradu. Li ismin, wa fi’lin tsumma harfin tanqasim. Wa hadzihi tsalatsuha hiya al-kalam.

Kalam itu adalah lafaz yang memberi faedah (manfaat) bersambung. Dan, kalimat adalah lafaz mufrad (sendiri) yang memberi faedah (makna). Kalam itu terbagi tiga, yaitu isim, fiil dan huruf, itulah pembagiannya. Dan, ketiga pembagian itulah yang disebutkan dengan kalam.

Penjelasan atau definisi kalam ini, sama dengan yang diterangkan oleh pengarang Matan Ajurumiyah, Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Dawud al-Shanhaji (Ibn Ajurum). Dalam matan Ajurumiyah, kalam adalah lafaz yang tersusun dan memberi faedah dengan menggunakan bahasa Arab. Dan (kalam itu), terbagi tiga, yaitu isim, fiil, dan huruf.

Perlu diketahui, dalam tata bahasa Arab, yang disebut kalam adalah kalimat dalam bahasa Indonesia. Sedangkan, kalimat dalam bahasa Arab adalah kata di dalam bahasa Indonesia. Kalam adalah bentuk jamak dari kalimat.

Karena, kitab Imrithi ini merupakan nazam dari Kitab Matan Ajurumiyah, secara keseluruhan isinya merupakan pengembangan dari kitab Matan Ajurumiyah.

Bila Matan Ajurumiyah dimulai dengan pembahasan kalam dan diakhiri dengan Bab maf’ul ma’ah, sedangkan dalam Nazam Imrithi juga dimulai dengan Bab kalam dan diakhiri dengan Bab idlofah.

Lengkapnya, pembahasan Imrithi dimulai dari bait-bait muqaddimah, lalu dilanjutkan dengan Bab Kalam, Bab I’rob, Bab Alamat I’rob, Bab Alamat Nashab, Bab Alamat Khafad, Bab Alamat Jazm, Bab Nakirah dan Ma’rifah, Bab Marfu’ati al-Asma`, Bab Na’ib al-Fa’il, hingga Bab Idlofah. Semuanya lengkap membahas mengenai prinsip-prinsip dasar ilmu nahwu.

9. Kitab Kuning ABI JAMRAH AL-BUKHARI

KITAB ABI JAMRAH AL-BUKHARI
Penerbit : NUR ILMU
Karya : Muhammad Ali Asy-Syafi’i
Berat : 490 gram
Sampul : Hard Cover

10. Kitab Kuning Syarah RIYADUL BADIAH Soft Cover Penerbit Nur Ilmu

32 Daftar Kitab Kuning Yang Wajib Dipelajari

Spesifikasi Produk:

Judul : KITAB SYARAH RIYADUL BADIAH
Penerbit : Nur Ilmu
Halaman : 96 Halaman
Berat : 155g
Sampul : Soft Cover
Ukuran : 19 x 27 cm

11. Kitab Al Adzkar An-Nawawiyyah Karya Al Imam Al-Faqih Al-Muhaddits

Karya :
Al- Imam Al-Faqih Al-Muhaddits
Mahyuddin Abi Zakariya
Yahya Bin Syarifun An-Nawawy
Penerbit : Nur Ilmu
Berat : 470 gram
Ukuran : A5 (15x21cm)
Sampul : Hard Cover

Zikir dan doa adalah ibadah yang paling substansial bagi setiap muslim, sehingga kedua komponen ini merupakan ruh sekaligus menjadi nilai inti dari segala rutinitas ibadah. Dalam hari-hari yang sangat terbatas di dunia ini, sejak bangun tidur hingga kembali lagi ke pembaringan, sudah sepatutnya bagi hamba Allah Swt untuk senantiasa diisi dengan zikir dan doa agar semua aktivitas duniawi memiliki nilai ibadah kepada Yang Maha Kuasa.

Kitab Al-Adzkar yang bertajuk lengkap Al-Adzkar Al-Muntakhobah min Kalam Sayyid Al-Abror (Zikir-zikir pilihan dari Sayyid Al-Abror, Nabi Muhammad Saw) merupakan kitab karangan seorang ulama besar di bidang fikih dan hadis, Al-Imam Al-Alamah Al-Hafidz Abu Zakariya Yahya Muhyi Ad-din ibni Syarif An-Nawawi Ad-Dimasyqi atau lebih dikenal dengan Imam Nawawi.

Beliau lahir pada Muharam tahun 631 H di Desa Nawa, Damaskus (sekarang Ibukota Negara Suriah). Kedua tempat tersebut kemudian menjadi nisbat nama beliau, yaitu An-Nawawi dan Ad-Dimasyqi. Imam Nawawi wafat pada umur 45 tahun di desa kelahirannya, Nawa pada 24 Rajab 676 H.

Seperti namanya, kitab Al-Adzkar memuat berbagai macam zikir dan doa yang difokuskan bersumber dari Hadis Nabi Saw. Terbagi sesuai pokok-pokok utama berupa kitab, kemudian fasal, dan beberapa diperinci lagi dengan bab.

Kitab ini memiliki 20 kitab, meliputi zikir harian (pagi dan malam), lafaz-lafaz dalam salat, membaca Al-Qur’an, pujian kepada Allah Swt, selawat atas Nabi Muhammad Saw, zikir dan doa atas suatu yang mampu melemahkan diri, sakit dan mati, salat dan peristiwa tertentu lainnya, puasa, haji, jihad, berpergian (musafir), makan dan minum, salam, perizinan, bersin, menguap, nikah, nama, menjaga lisan, kumpulan doa, istigfar, dan beberapa zikir dan doa pilihan lainnya dengan total 1324 hadis ditambah beberapa pendapat para ulama.

Kitab Al-Adzkar Diawali dengan muqoddimah pengarang dan diakhiri dengan penutup kitab.

Menurut pengarang, memang pada kala itu, telah banyak ulama yang mengarang kitab dengan pembahasan utama yang serupa, yaitu tentang zikir dan doa, namun disertai dengan sanad yang panjang juga seringnya pengulangan hadis yang sama. Hal itu menurunkan himah atau semangat para pengembara ilmu. Atas latar belakang inilah, pengarang membuat kitab ensiklopedia zikir dan doa.

Dibandingkan dengan kitab-kitab sejenis, kitab ini memiliki kelebihan yang terletak pada metode penyusunannya. Yang mana, pengarang hanya menyebut nama rawi (periwayat hadis) yang awal, yaitu golongan sahabat dan tidak mencantumkan rentetan nama rawi lainnya. Menurut salah satu sumber, dengan metode demikian, pengarang digadang-gadang menjadi pelopor ‘budaya’ menghapuskan nama-nama periwayat dalam menukil hadis sehingga terkesan lebih ringkas.

Adapun kitab yang dijadikan rujukan oleh pengarang dalam menukil hadis dalam Kitab Al-Adzkar ini adalah kutub as-sittah al-mu’tabarah atau enam kitab hadis masyhur; Sahih Bukhori, Sahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan At-Tirmidzi, Sunan An-Nasa’i, dan Sunan Ibnu Majah. Di akhir penyebutan hadis, pengarang juga memberikan komentar para ulama terkait derajat hadis tersebut, apakah sahih, hasan, ataupun daif.

Pada awal pembahasan, pengarang akan memberikan pengantar singkat tentang hal yang akan dibahas. Kemudian baru menyebutkan hadis-hadis terkait. Di sela-sela itu, mengingat pegarang juga merupakan seorang ulama fikih, menjadi kelebihan tersendiri dari kitab ini adalah pengarang menambahkan hukum suatu perkara menurut beberapa ulama mazhab yang berhubungan dengan hal yang sedang dibahas. Sehingga pembahasan dalam kitab ini lebih rinci tanpa mengesampingkan isi utamanya, yaitu zikir dan doa.[]

12. Kitab Kuning Syarah Bidayatul Hidayah Soft Cover Penerbit Nur Ilmu

Spesifikasi Produk:

Judul: Kitab BIDAYATUL HIDAYAH
Penerbit: Nur Ilmu
Halaman : 103 Halaman
Berat : 170 gram
Ukuran : 19 x 27 cm
Sampul : Soft Cover

Kitab Bidayatul Hidayah adalah di antara kitab karangan Imam Hujjatul Islam Al-Ghazali r.a. Imam Al-Ghazali nama lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Ta’us Ath-thusi Asy-Syafi’I Al-Ghazal. Secara singkat beliau sering disebut Al-Ghazali. Beliau dilahirkan pada tahun 450H/1058M di Ghazalah sebuah desa pinggiran Kota Thus, Kawasan Kurasan Iran.

Sesuai dengan arti namanya, Bidayatul Hidayah, kitab ini semacam panduan hidup dari permulaan (Bidayah) dan akan berakhir pada Hidayah (petunjuk).dalam kitab ini Imam Al-Ghazali menggariskan amalan-amalan harian yang mesti kita lakukan setiap hari dan adab-adab untuk melaksanakan amal ibadah, supaya ibadah tersebut dapat dilakukan dengan baik, penuh arti dan memberikan kesan yang mendalam.

Selain itu, beliau menyebutkan adab-adab pergaulan seseorang dengan tuhan sang pencipta dunia seisinya dan juga pergaulan dengan semua lapisan masyarakat yang ada di sekelilingnya.

Karena itulah, kitab ini berisi pada tiga bagian, yaitu adab tentang taat kepada Alloh, taat meninggalkan maksiat, dan bagian yang terakhir adalah tentang muamalat atau pembahasan tentang adab pergaulan manusia dengan tuhannya dan manusia dengan sesamanya.

Rincian dari tiga bagian itu adalah pembahasan tentang taat, yang diantaranya adalah berisi tentang adab manusia sebagai hamba dalam kehidupan sehari-hari. Pada bagian ini Imam Ghazali memulai pembahasan dengan pasal adab ketika bangun tidur yang mungkin sering dilalaikan oleh manusia.

Dan selain itu Imam Ghazali juga membahas tentang adab masuk kamar mandi, adab wudhu, mandi dan tayammum, adab menuju ke masjid, adab dalam pekerjaan setelah mahrib sampai sore, adab membaca sholawat, adab tidur, adab sholat, adab pada hari jumat dan yang terakhir adalah adab puasa. Mungkin pembahsan dalam bagian pertama jarang ada yang mengamalkannya atau menganggap sepele. Namun, pembahsan ini penting untuk manusia dan Imam Ghazali pun menerangan pada bagian ini adab mulai kita bangun tidur sampai tidur kembali.

13. Kitab Kuning Syarah USFURIYAH Soft Cover Penerbit Nur Ilmu

Spesifikasi Produk:

Judul : KITAB SYARAH USFURIYAH
Penerbit : Nur Ilmu
Halaman : 32 Halaman
Berat : 75g
Sampul : Soft Cover
Ukuran : 19 x 27 cm

14. Kitab Kuning Syarah NURUD DHOLAM Soft Cover Penerbit Nur Ilmu

 

Spesifikasi Produk:

Judul: KITAB SYARAH NURUDDHALAM
Penerbit: Nur Ilmu
Halaman : 47 Halaman
Berat : 95g
Sampul : Soft Cover
Ukuran : 19 x 27 cm

Ilmu tauhid merupakan salah satu pelajaran wajib di lembaga pendidikan Islam, termasuk pesantren-pesantren di Indonesia. Mengapa? Karena ia menyangkut hal paling fundamental dalam Islam, yakni iman. Ilmu ini biasa juga disebut ilmu aqidah.

Jika fiqih mempelajari status hukum perbuatan lahiriah seorang mukallaf, tasawuf membahas aktivitas batin, maka aqidah adalah perihal yang berkaitan dengan keyakinan. Ketiga unsur inilah yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam haditsnya yang sangat masyhur mengenai iman, Islam, dan ihsan. Ketiganya lalu diderivasikan menjadi ilmu tauhid, ilmu fiqih, dan ilmu tasawuf. Ketiga ilmu tersebut sangat penting untuk dipelajari, terutama ilmu tauhid yang menyangkut keyakinan kepada Allah subhanahu wata’ala.

Ringkasnya bagaimana ibadah kita ingin diterima di sisi Allah subhanahu wata’ala sedangkan keyakinan kepada-Nya pun masih salah, atau bahkan tidak meyakini bahwa Allah adalah Tuhan yang menciptakan dirinya. Hukum mempelajari ilmu tauhid adalah fardhu ‘ain, wajib bagi setiap mukallaf untuk mengetahui aqidah yang benar beserta dalilnya walaupun secara global saja. Adapun dalilnya secara rinci, hukumnya adalah fardhu kifayah.

Imam an-Nawawi memasukkan perihal sehatnya keyakinan ke dalam 4 pilar dalam agama Islam yang terkumpul dalam satu bait:
أمورلدين صدق قصد وفا العهد # وترك المنهي كذا صحة العقد

“Beberapa perkara bagi agama itu benarnya tujuan, menepati janji, meninggalkan yang dilarang, begitu juga sehatnya keyakinan. (Syekh Ibrahim al-Baijuri, Tuhfâtul Murîd Syarh Jauharah at-Tauhîd, Beirut: Dâr el-Kutub al-‘Ilmiyyah, cetakan kedua, 2004, h. 21).

Syekh Ibrahim al-Baijuri menjelaskan: “Maksud dari benarnya tujuan adalah melaksanakan ibadah dengan niat dan keikhlasan; menepati janji adalah menunaikan kewajiban yang ditetapkan; meningalkan larangan adalah menjauhi perkara yang diharamkan; dan sehatnya keyakinan adalah menetapi aqidah Ahlusunnah wal Jamaah (Syekh Ibrahim al-Baijuri, Tuhfâtul Murîd Syarh Jauharah at-Tauhîd, Beirut: Dâr el-Kutub al-‘Ilmiyyah, cetakan kedua, 2004, h. 21).

15. Kitab Kuning Syarah KIFAYATUL AWAM Soft Cover Penerbit Nur Ilmu

KITAB KUNING KITAB SYARAH KIFAYATUL AWAM

Spesifikasi Produk:

Judul : KITAB SYARAH KIFAYATUL AWAM
Penerbit : Nur Ilmu
Halaman : 88 Halaman
Berat : 150g
Sampul : Soft Cover
Ukuran : 19 x 27 cm

Ilmu tauhid merupakan salah satu pelajaran wajib di lembaga pendidikan Islam, termasuk pesantren-pesantren di Indonesia. Mengapa? Karena ia menyangkut hal paling fundamental dalam Islam, yakni iman. Ilmu ini biasa juga disebut ilmu aqidah.

Jika fiqih mempelajari status hukum perbuatan lahiriah seorang mukallaf, tasawuf membahas aktivitas batin, maka aqidah adalah perihal yang berkaitan dengan keyakinan. Ketiga unsur inilah yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam haditsnya yang sangat masyhur mengenai iman, Islam, dan ihsan—ketiganya lalu diderivasikan menjadi ilmu tauhid, ilmu fiqih, dan ilmu tasawuf.

Ketiga ilmu tersebut sangat penting untuk dipelajari, terutama ilmu tauhid yang menyangkut keyakinan kepada Allah subhanahu wata’ala. Ringkasnya bagaimana ibadah kita ingin diterima di sisi Allah subhanahu wata’ala sedangkan keyakinan kepada-Nya pun masih salah, atau bahkan tidak meyakini bahwa Allah adalah Tuhan yang menciptakan dirinya. Hukum mempelajari ilmu tauhid adalah fardhu ‘ain, wajib bagi setiap mukallaf untuk mengetahui aqidah yang benar beserta dalilnya walaupun secara global saja. Adapun dalilnya secara rinci, hukumnya adalah fardhu kifayah.

Di pesantren, untuk mengaji aqidah Ahlussunnah wal Jamaah, para santri biasanya menggunakan kitab Kifâyatul ‘Awâm, Tuhfatul Murîd Syarh Jauharah at-Tauhîd, al-Iqtishâd fî al-I’tiqâd, Nadham Kharîdah al-Bahiyyah, dan lain-lain. Namun kitab-kitab itu biasanya mulai dipelajari di tingkat aliyah ke atas. Adapun tsanawiyah biasanya menggunakan Mandhûmah ‘Aqîdatul ‘Awâm (atau biasa cukup disebut Aqidatul Awam) beserta syarahnya.

 

Baca Juga : Al QUran Pertama Yang Dilengkapi Shorof

 

16. Kitab Kuning Syarah DARDIR MI’ROJ Soft Cover Penerbit Nur Ilmu

KITAB KUNING KITAB SYARAH DARDIR MI ROJ

Spesifikasi Produk:

Judul : KITAB SYARAH DARDIR MI’ROJ
Penerbit : Nur Ilmu
Halaman : 28 Halaman
Berat : 70g
Ukuran : 19 x 27 cm
Sampul : Soft Cover

17. Kitab Kuning Syarah FATKHUL MU’IN Soft Cover Penerbit Nur Ilmu

Spesifikasi Produk:

Judul : KITAB SYARAH FATKHUL MU’IN
Penerbit : Nur Ilmu
Halaman : 160 Halaman
Berat : 240g
Sampul : Soft Cover
Ukuran : 19 x 27 cm

18. Kitab Kuning Hasyiyah Al Baijuri Ala Ibnu Qosim 2 Jilid

Matan Abu Syuja’ yang sangat terkenal dikalangan Asy-Syafi’iyyah ini memiliki syarah yang juga sangat terkenal dan banyak dipelajari di masyarakat yang bernama “Fathu Al-Qorib’ karya Ibnu Qosim Al-Ghozzi (w.918 H). Nah, kitab “Fathu Al-Qorib” inilah yang dibuatkan Hasyiyah oleh Al-Bajuri sehingga karyanya kemudian terkenal dengan nama Hasyiyah Al-Bajuri

Al-Bajuri melihat Matan Abu Syuja’ adalah mukhtashor yang penuh berkah dan banyak dimanfaatkan. Demikian pula syarahnya yang bernama “Fathu Al-Qorib”. Termasuk pula hasyiyah “Fathu Al-Qorib” yang bernama “Hasyiyah Al-Birmawi”.

Hanya saja, beliau melihat dalam “Hasyiyah Al-Birmawi” ini masih banyak ungkapan-ungkapan yang tidak mudah dipahami untuk pelajar pemula. Oleh karena itu, setelah melihat problem ini, beliau didorong berkali-kali oleh kolega dan ulama sezamannya untuk membuat hasyiyah dengan bahasa yang enak dan mudah dicerna oleh para pemula dan beliaupun tergerak untuk melakukannya. Karena itu lahirlah “Hasyiyah Al-Bajuri”.
.
Fan : Fiqh
Judul : Hasyiyah Baijuri
Pengarang : Ibrahim Al Baijuri
Penerbit : Nurul Ilmi
Cover : Hard
Kertas : Kuning
Tebal : 2 Jilid
Volume : 2 Juz 2Jilid

19. Kitab Kuning Syarah NADZOM NADHOM MAQSUD MAQSHUD MAKSUD Soft Cover Penerbit Nur Ilmu

Spesifikasi Produk:

Judul : KITAB SYARAH NADHOM MAQSUD
Penerbit : Nur Ilmu
Halaman : 84 Halaman
Berat : 150g
Sampul : Soft Cover
Ukuran : 19 x 27 cm

20. Kitab Kuning Jawahirul Bukhori

Spesifikasi Produk:

» Pengarang : Musthofa Muhammad Imaroh
» Penerbit : Nurul Ilmi
» Cover : Hard Cover
» Dimensi : A5 (14.8 x 21 cm)
» Isi Kertas : Nanking Paper
» Jumlah Halaman : viii + 573 Hal.
» Berat : 630 Gram

Kitab karya Syekh Muhammad Musthafa Imarah ini memiliki keistimewaan dibandingkan kitab sejenis karena berisi penjelasan atau keterangan terkait kata-kata yang memerlukan penjelasan lebih perinci.

Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah bin Bardizbah al-Jufri atau yang lebih dikenal dengan nama Imam Bukhari (194-256 H) adalah seorang ahli hadis yang sangat populer di dunia Islam. Namanya melekat erat dengan hadis-hadis sahih Rasulullah SAW. Karena keahlian dan kepakarannya dalam bidang hadis, tak heran bila Imam Bukhari ditempatkan sebagai panglima hadis Rasulullah SAW.

Kitabnya Jami’ al-Shahih dan dikenal dengan nama Shahih Bukhari menjadi rujukan bagi seluruh ulama ataupun peminat ilmu hadis dalam mempelajari sejarah Rasulullah SAW, terutama berkaitan dengan perkataan Rasulullah SAW.

Karangannya yang memuat ribuan hadis sahih telah menarik minat para ulama hadis untuk meneliti lebih dalam tentang metodologi Imam Bukhari dalam menempatkan hadis yang sesungguhnya bersumber dari Rasulullah SAW. Imam Bukhari tak mau memasukkan hadis-hadis Rasulullah yang periwayatannya berasal dari orang-orang yang kurang dhabit (tidak kuat hafalannya), tidak tsiqah, dan tidak adil.

Karena itu pula, kitab Shahih Bukhari begitu banyak diminati para ulama dalam mempelajari hadis-hadis Rasulullah SAW. Salah seorang alim yang turut mempelajari dan memberikan komentar (syarah) atas kitab Imam Bukhari adalah Syekh Musthafa Muhammad Imarah al-Mishri dengan karyanya Jawahir al-Bukhari (Permata-permata Bukhari).

Selain komentar atas Shahih Bukhari, Syekh Musthafa Muhammad Imarah juga memberikan komentar atas kitab Muktashar al-Irsyad karya Syekh Ahmad bin Muhammad bin Abi Bukrah bin Abd al-Malik bin Ahmad bin Muhammad bin Husayn bin Ali al-Qasthalany al-Qahirah al-Syafi’i.

Kitab Jawahir al-Bukhari yang diterbitkan oleh Nurul Ilmi ini memuat sekitar 800 lebih hadis-hadis sahih riwayat Imam Bukhari yang ditulis kembali oleh Syekh Musthafa Muhammad Imarah.

21. Kitab Kuning Syarah SULAM TAUFIQ TAUFIK Soft Cover Penerbit Nur Ilmu

Spesifikasi Produk:

Judul : KITAB SYARAH SULAM TAUFIQ
Penerbit : Nur Ilmu
Halaman : 88 Halaman
Berat : 145g
Sampul : Soft Cover
Ukuran : 19 x 27 cm

22. Kitab Kuning Arab Kawakib Dzurriiyyah Dzuriyah Dzuriyyah Syarah Mutammimah Ajjurumiyyah

Spesifikasi Produk:

Judul : KITAB KUNING KITAB KAWAKIB DZURRIIYYAH
Penerbit : Nur Ilmu
Halaman : 264 Halaman
Berat : 560g
Sampul : Hard Cover
Ukuran : 18,5 x 27 cm

Karangan Syekh Muhammad al-Ahdal dan telah di tahqiq (diteliti teks nya) oleh Alwi Abubakar Assegaf.
Merupakan Syarah dari matn Mutammimah Al-Ujrumiyah

Penjelasan lebih terperinci kata perkata, dan dalam setiap pembahasannya disertai contoh-contoh kalimat dari topik pembahasan, biasanya dibaca oleh pengkaji ilmu nahwu tingkat menengah. (Untuk pengkaji tingkat lanjut disarankan membaca kitab Syarah Qotrun Nada atau Hasyiah Suja’ karena kitab tersebut memuat diskusi antara para pakar Bahasa Arab antara kelompok Ulama Kuffah dan Ulama Basrah)

Matn Mutammimah Al-Ujrumiyah merupakan pelengkap Matn Jurumiyah, dengan demikian Kitab Kawakib ad Duriyah (Syarah Mutammimah) biasanya dibaca setelah kitab Syarah Matn Ujrumiiyah (Mukhtashor Jiddan).

23. Kitab Matan Bukhori Matan Bukhari Shohih Hasiyah Sindi 4 Jilid HC – Nurul Ilmu

Penerbit : Nur Ilmu Surabaya
Jumlah : 4 Jilid
Tebal : 1496 hal
Kertas : Kuning (Nanking 55 g)
Ukuran : 18 x 26 cm (B5) Standar Ukuran Kitab Beirut
Cover : Hard Cover
Berat : 3.300 gram
Teks : Komputer + Masykul (Berharakat) Alias Jembrok Bukan Gundul Space Antar Baris Lumayan Buat Ngasih Catatan/Oret-oretan

24. Kitab AS SHOWI Syarah Tafsir Jalalain 4 Jilid Nur Ilmu

Judul : Hasyiah Showi
Penerbit : Nur ilmu
Jumlah : 4 Jilid
Tebal : 1496 hal
Kertas : Kuning
Ukuran : 18 x 26 cm
Cover : Hard Cover

Tafsir al-Jalalain adalah salah satu tafsir yang paling terkenal di seluruh dunia, ia telah tercetak dan terdistribusikan jutaan eksemplar. Tafsir ini sangat singkat dan padat, bahkan oleh para ulama sempat dihitung hurufnnya yang dikatakan sama dengan surah al-Fatihah sampai surah al-Muzammil.

Keringkasan tafsir yang luar biasa inilah yang mendorong keinginan para ulama untuk memberi penjelasan, komentar dan tambahan-tambahan informasi, sehingga lahirlah banyak Hasyiah atas tafsir al-Jalalain ini.

Hasyiyah as-Showi ‘ala al-Jalalayn

Tafsir ini juga termasuk tafsir yang sering dikaji oleh para ulama Indonesia di berbagai pesantren. Dalam penjelasannya, Imam as-Showi mengatakan bahwa tafsir ini adalah ringkasan dari Hasyiah al-Jamal (gurunya). Meskipun demikian beliau juga membandingkan pendapat al Jalalain dengan pendapat mufassir lainnya, lalu menyebutkan pendapatnya pribadi berdasar hadis Nabi, Sahabat dan Tabiin. Beliau juga sering mengkritisi imam al Jalalain secara santun dengan mengatakan,

كان عليه أن يقول

seyogyanya ia berkata,

كان ينبغي له أن يقول

semestinya ia berkata,

Hasyiyah as-Showi ini juga mengandung kajian i’rob yang rinci dan detail, analisis-analisis shorf dan qiro’at, juga mengandung kisah-kisah Isra’iliyyat atau bahkan kisah palsu, tanpa menjelaskan shahih dan tidaknya.

25. Kitab Kuning Syarah RISALAH RISALATUL MUAWANAH Soft Cover Penerbit Nur Ilmu

Spesifikasi Produk:

Judul: KITAB SYARAH RISALATUL MUAWANAH
Penerbit: Nur Ilmu
Halaman : 48 Halaman
Berat : 95g
Sampul : Soft Cover
Ukuran : 19 x 27 cm

26. Buku Kitab Kuning Hasyiah I’anah Thalibin ( 4 Jilid )

Nama Kitab : Hasyiyah Ianatut Tholibin
Penulis / Muallif : As Syeikh Abi Bakr Syatho
Penerbit : Nurul Ilmi – Surabaya
Berat : 3.900 Gram
Warna Kertas : Kuning
Cover : Hard Cover

I’anatuth Tholibin merupakan kitab karya Sayyid Abu Bakar Utsman bin Muhammad Syatho ad-Dimyathi as-Syafi’I yang masyhur dengan julukan al-Bakri. Kitab ini adalah salah satu kitab yang sering menjadi rujukan primer bagi mayoritas santri dan pengikut mazhab Syafi’i di Indonesia. Kitab ini merupakan tulisan bermodel hasyiyah, yaitu berbentuk perluasan penjelasan dari tulisan terdahulu yang lebih ringkas.

Sesuai namanya, kitab ini diperuntukkan santri yang mengkaji Fath al-Mu’in. Fath al-Mu’in sendiri adalah karya al-Allamah Zainuddin al-Malibari.

Sesungguhnya kitab ini merupakan kitab mashyor, meskipun tergolong kitab yang munculnya akhir kurun yang terkebelakang, yang lebih kurang berusia 130-an tahun. Kitab I’anatuth Tholibin merupakan syarah kitab Fath Al-Mu’in.

Kedua kitab ini termasuk kitab-kitab fiqih Syafi’i yang paling banyak dipelajari dan dijadikan pegangan dalam memahami dan memu­tuskan masalah-masalah hukum. Dalam forum-forum bahtsul-masail (pengkajian masalah-masalah), kitab ini menjadi salah satu kitab yang sangat sering dikutip nash-nash­nya. Kemashyoran kitab ini dapat dikata­kan merata di kalangan para penganut Madzhab Syafi’i di berbagai belahan dunia Islam.

Latar belakang penulisan kitab ini seperti dituturkan pengarang dalam muqaddimah kitab ini berawal ketika beliau menjadi pengajar kitab syarah Fath al-Mu’in di Masjidil Haram. Selama mengajar itulah beliau menulis catatan pinggir untuk mengurai kedalaman makna kitab Fathul mu’in yang penting diingat dan perlu diketahui sebagai pendekatan dalam memahami.

Lalu, sesuai penuturan beliau, beberapa sahabat beliau memintanya untuk mengumpulkan catatan itu dan melengkapinya untuk kemudian dijadikan satu kitab (hasyiyah) yang pada akhirnya bisa lebih bermanfaat untuk kalangan yang lebih luas.

Pada akhir kitab I’anatuth Tholibin ini yakni pada juz. IV disebutkan, selesai ditulis hasyiah ini adalah pada Hari Rabu ba’da Ashar, 27 Jumadil al-Tsani Tahun 1298 H. Kitab ini tergolong fiqh mutaakhkhirin. I’anatuth Tholibin memiliki kelebihan sebagai fiqh mutakhkhirin yang lebih aktual dan kontekstual karena memuat ragam pendapat yang diusung ulama mutaakhkhirin utamanya Imam al-Nawawi, Ibnu Hajar dan banyak lainnya yang tentunya lebih mampu mengakomodir kebutuhan penelaah akan rujukan yang variatif dan efektif.

Yang menjadi rujukan dalam mengarang kitab ini adalah kitab-kitab fiqh Syafi’i mutaakhkhirin, yaitu Tuhfah al-Muhtaj, Fath al-Jawad Syarh al-Irsyad, al-Nihayah, Syarh al-Raudh, Syarh al-Manhaj, Hawasyi Ibnu al-Qasim, Hawasyi Syekh ‘Ali Syibran al-Malusi, Hawasyi al-Bujairumy dan lainnya sebagaimana beliau jelaskan dalam muqaddimah kitab ini.

Dalam buku Sejarah dan Keagungan Mazhab Syafi’i, K.H. Sirajuddin Abbas mengatakan bahwa Sayyid Abu Bakar Muhammad Syatha ad-Dimyathi, pengarang kitab I’anatuth Tholibin ini sangat berjasa memberikan pelajaran kepada mukimin-mukimin dari Indonesia, sehingga pada permulaan abad ke-14 H banyak ulama-ulama murid dari beliau yang mengembangkan mazhab Syafi’i di Indonesia, sehingga ajaran itu merata di seluruh kepulauan di Indonesia.

27. Kitab Kuning Fathul Muin Muin bi Syarhi Qurratul Ain

Ukuran Kitab : B5 17cm X 27cm
Kofigurasi : Cover ( Full Color)
Jumlah Halaman :
Kertas Cover : Hard cover Artpaper 120gr
Kertas isi : Nanking 55gr (kertas kuning)
Finishing : Laminasi Doph,sewing Bending
Berat : 400 Gram

Kitab Fathul Mu’in termasuk salah satu literatur fikih monumental yang sering dikaji dan dijadikan kurikulum disiplin ilmu fikih sebagian besar pondok pesantren di Indonesia. Umumnya, kitab ini menjadi bahan kajian atau kurikulum tingkat menengah bagi para santri atau pelajar yang telah menghatamkan kitab Fathul Qorib karya Syekh Ibnu Qasim al-Ghazi di tingkat dasar.

Memiliki nama lengkap Fathul Mu’in bi Syarh Qurrah al-‘Ain, kitab ini ditulis sebagai penjelas (Syarah) dari kitab sebelumnya, yakni Qurrah al-‘Ain bi Muhimmat ad-Din. Kedua kitab tersebut merupakan buah karya seorang ulama di wilayah Malaibar, India yang bernama Syekh Zainuddin al-Malibari (w. 987 H). Beliau termasuk salah satu murid Imam Ibnu Hajar al-Haitami (w. 974 H), ulama terkemuka Mazhab Syafi’i.

Menurut penuturan penulisnya, kitab Fathul Mu’in ini merupakan kitab yang isinya merupakan kajian-kajian disiplin ilmu fikih pilihan yang merujuk pada kitab-kitab pegangan buah karya ulama-ulama besar sebelumnya. Di antaranya adalah dari kitab-kitab karangan guru beliau yakni Ibnu Hajar al-Haitami, juga kitab-kitab karangan Wajhuddin Abdurahman bin Ziyad Az-Zubaidi, dan lain-lain.

28. Kitab Kuning Syarah MUKHTASOR JIDDAN Soft Cover Penerbit Nur Ilmu

Spesifikasi Produk:

Judul : KITAB SYARAH MUKHTASOR JIDDAN
Penerbit : Nur Ilmu
Halaman : 28 Halaman
Berat : 70 gram
Sampul : Soft Cover
Ukuran : 19 x 27 cm

29. Kitab Kuning Syarah MINHAJUL ABIDIN Soft Cover Penerbit Nur Ilmu

KITAB KUNING KITAB SYARAH MINHAJUL ABIDIN

Spesifikasi Produk:

Judul : KITAB SYARAH MINHAJUL ABIDIN
Penerbit : Nur Ilmu
Halaman : 96 Halaman
Berat : 160g
Sampul : Soft Cover
Ukuran : 19 x 27 cm

Kitab Minhajul Abidin merupakan salah satu karya monumental Hujjatul Islam Imam Ghazali, yang mengupas tentang tahapan-tahapan menuju kesempurnaan ibadah seorang muslim. Di Pondok pesantren, kitab ini biasanya masuk dalam pembelajaran untuk meningkatkan ketaatan santri dalam beribadah, serta bimbingan ruhaniyah mereka.

Selain kitab Minhajul Abidin, ada deretan kitab karya Imam Ghazali yang juga sering kita temukan dikaji di lembaga pesantren, misalnya kitab Ihya’ Ulumiddin, Kitab, Ayyuhal Walad, al-Munqidz Min al-Dholal, Bidayatul Hidayah, hingga al-Mustasyfa dan lan sebagainya.

Walhasil, koleksi karangan Imam al-Ghazali, bisa dipastikan dipelajari di Pondok Pesantren di Indonesia. Dan khusus yang terakhir ini, akan kami ulas.

Tujuh Tahapan dalam Kitab Minhajul Abidin

Jika dilihat dari ulasannya, sesuai dengan judulnya “Minhaju” yang berarti Pedoman, dan “al-Abidin” yang berarti para hamba-hamba Allah swt. beliau memberikan tujuh tangga dan tahapan bagi seorang muslim agar dapat mencapai kesempurnaan dalam beribadah kepada Allah SWT.

Adapun tahapan-tahapan dan tanga yang dimaksud adalah sebagai berikut:

Tahap ilmu dan makrifat
Tahap taubat
Tahap godaan
Tahap Rintangan Dalam Beribadah
Tahap dorongan dan motivasi
Tahap menghindari faktor-faktor perusak ibadah
Tahap Syukur.

30. Kitab Kuning Tafsir Jalalain Dari Dua Imam Jalaludin

Penulis. : Syaikh Jalaluddin Al Mahalli, Syaikh Jalaluddin As-Suyuthi
Penerbit : Nurul Ilmi
» Cover : Hard Cover
» Dimensi : BESAR (18.5 x 27 cm)
» Isi Kertas : Nanking Paper
» Jumlah Halaman : vi + 280 Hal.
» Berat : 900 Gram

Al-Jalalain artinya dua Jalal. Dinamakan demikian, karena kitab tafsir ini ditulis oleh dua orang ulama terkenal yaitu Imam Jalaluddin Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Ibrahim Al-Mahalli. Beliau lahir di Mesir pada tahun 771 H dan meninggal dunia pada tahun 864 H di Mesir. Penulis kedua adalah Imam Jalaluddin Abul Fadhl ‘Abdurrahman bin Abu Bakr bin Muhammad bin Abu Bakr Al-Khudhairy Ath-Thuluuni Al-Mishri Asy-Syafi’i, biasa disebut dengan Imam As-Suyuthi.

Beliau lahir setelah Maghrib pada malam Ahad bulan Rajab tahun 849 H dan wafat pada malam Jumat 19 Jumadal Ula di rumahnya di Mesir dalam usia 61 tahun pada tahun 911 H.

Awalnya Jalaluddin Al-Mahalli menulis tafsir ini mulai dari surah Al-Kahfi sampai surah An-Naas. Dan ketika menyelesaikan tafsir surah Al-Fatihah, beliau wafat. Lalu Jalaluddin As-Suyuthi pun melanjutkannya. Beliau menulis dari tafsir surah Al-Baqarah hingga surah Al-Isra’.

Secara metodologi penulisan, tidak ada perbedaan mencolok di antara dua penulis.

Penilaian ulama mengenai tafsir Jalalain

Kelebihan kitab tafsir ini adalah:

  • Tidak bertele-tele (ini kitab tafsir ringkas).
  • Mudah dipahami.
  • Menyebutkan pendapat yang rajih (kuat) dari berbagai pendapat yang ada.
  • Sering menyebutkan sisi i’rab dan qira’at secara ringkas.
  • Para ulama banyak menelaah kitab tafsir ini dan bahkan ada yang memberikan catatan kaki, juga penjelasan.

31. Kitab Kuning Syarah KASIFATUS KASYIFATUS SAJA

Spesifikasi Produk:

Judul : KITAB SYARAH SAFINATUN NAJA
Penerbit : Nur Ilmu
Halaman : 116 Halaman
Berat : 200 g
Sampul : Soft Cover
Ukuran : 19 x 27 cm

Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani (w. 1314 H) menulis penjelasan (syarh) atas kitab Safinatun Naja karya Syaikh Salim ibn Abdullah ibn Sumair al-Hadh- rami (w. 1271 H). Kitab syarh fiqh syafii ini selesai ditulis pada tahun 1277 H.

Sebagaimana matannya, kitab syarh ini hanya mengulas pembahasan asas Islam dan iman melalui uraian tauhid, kemudian membahas thaharah, shalat, zakat dan shaum saja. Syaikh Muhammad Nawawi menjelaskan setiap teks dengan sangat terperinci. Setiap tema diberikan batasan dan definisi, ayat al-Quran dan hadits yang menjadi dalil, kemudian permasalahan yang mungkin timbul dan penekanan atas tema tertentu disajikan dalam uraian faidah, tanbih ataupun khatimah.

Bahagian terbesar dalam pembahasan kitab ini adalah mengenai shalat dan hal-hal yang berkaitan dengannya. Sedangkan pembahasan yang paling sederhana adalah menyangkut zakat. Syaikh Muhammad Nawawi memilih kata-kata yang mudah diingat dan dimengerti oleh pembaca, karena itu kitab ini layak dipelajari oleh pengkaji fiqh dari masyarakat awam hingga kelompok terpelajar

32. Kitab Kuning Jawahirul Bukhari Wa-Syarah Al-Qusthalaanii

kitab Jawahirul-Bukhari (جواهر البخاري) merupakan sebuah ringkasan (mukhtashar) bagi kitab Shahih al-Bukhari yang disusun oleh Syeikh al-‘Allamah Musthafa Muhammad ‘Imarah al-Mashri, seorang bekas guru di al-Madaris al-Amiriyyah, Mesir. Jumlah hadits dalam kitab ini sebanyak 700 buah, yang dipilih oleh penyusunnya dari Kitab Shahih al-Bukhari.

Di samping himpunan hadist yang diringkaskan dari Shahih al-Bukhari, penyusun juga telah melampirkan huraiannya[1] yang diambil dari Kitab Irsyad al-Sari li Syarh Shahih al-Bukhari, iaitu kitab yang menghuraikan Shahih al-Bukhari, karya Imam Syihabuddin Ahmad bin Muhammad al-Khatib al-Qasthalani (923H). Berdasarkan kandungannya, iaitu hadits dan syarahnya tersebut, kitab ini boleh juga dianggap sebagai sebuah ringkasan bagi kitab Irsyad al-Sari karya al-Qasthalani tersebut.

Berdasarkan beberapa cetakan kitab edisi Arabnya, judul kitab ini dicatatkan sebagai ‘Jawahir al-Bukhari wa Syarh al-Qasthalani 700 Hadits Masyruhah’.

Kitab ini dimulai dengan muqaddimah penyusunnya yang agak panjang, memenuhi 7 halamannya. Muqaddimahnya diakhiri dengan beberapa bait sya’ir[2] yang menerangkan kembali mengenai kitab Jawahir al-Bukharinya. Di akhir bait syair tersebut dicatatkan tahun 1341H, yang berkemungkinan tarikh cetakan pertamanya[3].

Penyusun juga telah melampirkan tarjamah (riwayat hidup) Imam al-Bukhari dan Imam al-Qasthalani. Di akhir kitab Jawahir al-Bukhari ini dilampirkan beberapa kata-kata sanjungan para ulama mengenai penyusun dan karya susunannya.

Kitab ini merupakan ringkasan Shahih al-Bukhari menjadi rujukan dan teks pengajian hadist di Nusantara. Ia telah diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu / Indonesia bagi memudahkan umat Islam di Nusantara memahami dan mempelajarinya. Antara terjemahan kitab ini yang dapat saya catatkan di sini, adalah;

1. Tazkir al-Qabail al-Qadi fi Tarjamah al-Bukhari, terjemahan Tuan Husain kedah (1935M). Ia telah diterbitkan pada tahun 1930M[4].

2. Terjemah Jawahirul Bukhari, terjemahan Drs. Muhammad Zuhri dan diterbitkan oleh Raja Murah al-Qana’ah, Indonesia pada tahun 1979[5].

3. Saripati Hadits al-Bukhari, terjemahan M. Abdul Ghoffar dan diterbitkan oleh Pustaka al-Kautsar, Indonesia pada tahun 2002.

spek kitab
ukuran A5 *21x15cm
kertas hvs kuning
sampul hard cover
tulisa khot komputer dan spasi renggang cocok buat makna
terbal 573 hal

#6 Siapa Pengarang Kitab Maraqi Al-Ubudiyah ?

#6 Siapa Pengarang Kitab Maraqi Al-Ubudiyah ?

Pengarang Kitab Maraqi Al-Ubudiyah

Pengarang Kitab Maraqi Al-Ubudiyah

Kitab Maraqi al-Ubudiyah Syarh ‘ala Bidayah al-Hidayah (مراقي العبودية شرح على بداية الهداية ) merupakan sebuah karya Abu Abdul Mu’thi Muhammad Nawawi bin ‘Umar bin ‘Arabi al-Bantani al-Jawi (1314H), seorang tokoh ulama terkenal dari Nusantara yang memenuhi hidupnya dengan aktiviti pengajaran dan penulisan ilmu agama Islam di kota Makkah al-Mukarramah.

Kitab Maraqi al-Ubudiyah ini disusun oleh Syaikh Nawawi al-Jawi sebagai huraian (syarah) bagi kitab Bidayah al-Hidayah karya Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad ibn Muhammad al-Ghazali al-Thusi (501H). Kitab ini sangat popular di Nusantara, khusus sebagai teks pengajian fiqh dan tasawwuf di pondok-pondok pasantren.

Kitab ini selesai ditulis pada 13 Zulkaedah 1289H/1872M. Cetakan pertama kitab ini telah diterbitkan dan dicetak di Bulaq pada tahun 1293 H/1875 M. Kitab ini, kemudiannya dicetak ulang di Bulaq pada tahun 1309 H/1891 M, di Mesir pada tahun 1298 H/1880 M dan 1304 H/1886 M, di al-Maimanah pada tahun 1307 H/1889 M, 1309 H/1891 M dan 1327 H/1909 M serta Percetakan al-Azhariyah al-Masriyah, Mesir pada tahun 1308H/1890M.

Jika dinilai dari jumlah edisinya yang berbeza-beza ia masih dapat ditemui lagi dalam pasaran hingga sekarang. Kitab Maraqi al-‘Ubudiyyah yang menjadi tatapan saya ketika menyiapkan catatan ringkas ini adalah edisi cetakan ulang yang diterbitkan oleh Mathba’ah Ben Halabi, Patani, Thailand. Berdasarkan edisi ini ketebalan keseluruhannya merangkumi 103 halaman.

Syaikh Nawawi menyatakan dalam muqaddimah kitabnya:

“ Maka inilah syarh kitab Bidayah al-Hidayah (permulaan petunjuk) yang saya menamakannya sebagai “ Maroqil Ubudiyah ” dengan harapan, semoga dengannya akan mendapatkan keberkatan syaikh pengarang (Imam Ghazali) dan doa penuntut ilmu yang bertanya. Kandungan kitab ini bukanlah idea dan pandanganku sendiri, melainkan himpunan beberapa perkataan para ulama’ yang mulia, berdasarkan kefahamanku – yang dikurniakan Allah – terhadap peninggalan para ulama terdahulu ”.

Sebagaimana kitab asalnya Bidayah al-Hidayah, isi kandungan kitab ini dibahagikan kepada tiga bahagian utama, iaitu:

1) Bahagian pertama membincangkan mengenai amalan-amalan ketaatan yang meliputi beberapa panduan adab iaitu adab bangkit daripada tidur, adab masuk tandas, adab berwuduk, adab mandi, adab bertayammum, adab keluar ke masjid, adab masuk masjid, adab selepas terbit matahari hingga gelincirnya, adab persediaan bagi solat fardu, adab tidur, adab solat, adab imam dan makmum, adab Jumaat dan adab puasa[2].

2) Bahagian kedua pula membincangkan mengenai panduan menghindari diri dari amalan-amalan maksiat zahir dan batin. Panduan memelihara daripada maksiat zahir, iaitu memelihara mata (pandangan), telinga (pendengaran), lisan (percakapan), perut (pemakanan), kemaluan, tangan dan kaki. Manakala maksiat batin (hati) pula seperti sifat ujub, takbur dan bangga diri.

3) Bagi melengkapi kitab ini, Syaikh Nawawi al-Jawi meneruskan huraian beliau mengenai “Adab persahabatan dan pergaulan bersama al-Khaliq (Allah yang Maha Pencipta) dan adab persahabatan dan pergaulan sesama makhluk”, seperti adab sesama muslim, adab dengan guru dan adab dengan ibu bapa.

Pengarang Kitab Maroqi Al-Ubudiyah

Dalam menyusun kitab Maraqi al-Ubudiyah ini, Syaikh Nawawi banyak sekali merujuk kitab “ Ihya ‘Ulumuddin ” karya Imam al-Ghazali. Namun begitu, beliau juga ada merujuk kitab-kitab lain, khusus mengenai masalah fiqh ketika menghuraikan bahagian ibadat. Ketika menghuraikan kandungan kitab ini, beliau ada menyebutkan nama ulama atau kitab yang menjadi rujukan beliau, antaranya;

al-Ihya’ ‘Ulumiddin, karya Imam al-Ghazali (rujukan utama), al-Nawawi (al-Minhaj, al-Azkar), Syaikhul Islam Abu Yahya Zakaria al-Anshari ( al-Tahrir, Syarh al-Rawdh), al-Ramli al-Shaghir, al-Ramli al-Kabir, al-Syarbini al-Khathib, Ibn Hajar al-Haytami, al-Wana-i, al-Bujairimi, Syaikh ‘Athiyyah al-Ajhuri, al-Mawardi, Ibn al-Naqib, al-Damiri, al-Bulqini, Ibn al-Shalah, al-Halimi, al-Syubramilasi, al-‘Azizi, al-Ziyadi, al-Fakihi, al-Barkawi, Ahmad al-Mihi, Muhammad al-Samanudi, al-Fansyi, al-Hamdani dan lain-lain. Beliau juga ada merujuk kepada kitab-kitab mengenai bahasa Arab seperti al-Qamus, al-Mishbah dan al-Shahhah.

Terjemahan kitab ini….

Sekadar pengamatan saya di laman sesawang, saya dapati terdapat dua buah edisi buku terjemahan kitab ini telah diterbitkan (semuanya dari Indonesia), iaitu;

1. Terjemah Maroqil Ubudiyah: Syarah Bidayah Al-Hidayah. Diterbitkan beberapa kali cetakan oleh Mutiara Ilmu.

2. Tangga Menuju Kesempurnaan Ibadat, Maraqi Al-Ubudiyyah Syarah Kitab Bidayatul Hidayah. Diterbitkan oleh Lentera Hati dengan ketebalan 360 halaman.

telah membeli
45 menit lalu