Pentingnya Mengerti Ilmu Fiqih Sebagai Panduan Ibadah

Pentingnya Mengerti Ilmu Fiqih Sebagai Panduan Ibadah

Pentingnya Mengerti Ilmu Fiqih sebagai panduan Ibadah dan Muamalah

5 Hadits Membaca Al Quran Setiap Hari

Konsekuensi tidak mengerti fiqih ialah ibadah bisa saja menjadi tidak sah. sebab salah dalam pelaksanannya. sebab itu sangat krusial tahu ilmu fiqih bagi generasi muslim. sebab ilmu fiqih adalah di antara ilmu syar’i yang harus dipelajari menjadi tata cara beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ilmu fiqih dibutuhkan karena akan menjelaskan semua cara hubungan yg sahih terhadap wahyu, baik dari Al-Qur’an maupun dari hadis. dengan kata lain, ilmu fikih akan menjelaskan bagaimana beribadah yang benar.

ilmu Fiqih juga sangat diperlukan sebagai pedoman utama waktu menjalankan ibadah maupun muamalah (hubungan sosial) dalam kehidupan sehari-hari. Ilmu fikih pula memandu seseorang Islam ketika mempelajari serta mengamalkan perintah dan menjauhi larangan.

Kalo kita ditanya, seberapa penting ilmu fiqih bagi seorang muslim? maka jawabnya adalah sangat penting. sebab pada Islam, semua ada aturannya. Sholat terdapat aturanya. Wudhu terdapat aturannya. Mandi wajib ada aturanya. Nikah ada aturanya. Puasa pula terdapat aturanya, serta masih banyak lagi.

jika hukum ini tidak dipahami dan dijalankan sesuai ilmu fiqih atau kaidah fiqh, maka konsekuensinya ibadahnya bisa menjadi tidak sah. Secara arti, ilmu fiqih adalah ilmu dengan aturan-aturan syariat atas suatu perbuatan yg diambil dari dalil- dalil yang terperinci. Fiqh diperkuat ilmu Ushul Fiqih, yaitu ilmu dengan kaidah-kaidah dan pembahasan- pembahasan yg dapat menghasilkan hukum-hukum syariat dari dalil-dalil yg terperinci.

penjelasan ilmu ushul fiqih diantaranya oleh Abd al Karim an Namlah, dalam kitabal Muhazzab fi ‘Ilm Ushul al Fiqh al Muqaran. Dijelaskan bahwa ilmu ini ialah ilmu pengetahuan yang membahas tentang dalil-dalil fikih yg bersifat dunia, dan metode penyimpulan hukum asal dalil-dalil tadi, serta kondisi atau prasyaratmustafid dan mujtahid (ulama) atau yang memiliki otoritas dalam proses tersebut.

Jadi fiqih bisa digambarkan sebagai disiplin keilmuan dalam agama Islam, yang sudah berhasil menjelaskan dengan jelas serta sempurna, tentang hukum-hukum yg terkandung di setiap potong ayat, serta hadis yang jumlahnya ribuan. dengan menguasai disiplin ilmu fiqih (beserta kaidahnya), maka ajaran agama Islam bisa dipahami dengan benar, sebagaimana Rasulullah Shallalahi ‘Alaihi wa Sallam dahulu mengajarkannya. Tanpa fiqih, maka ibadah serta muamalah bisa kacau dan tidak terarah.

misalnya, fiqih mengajarkan hukum berdagang. dari bukuHarta Haram Muamalat Kontemporerkarya Erwandi Tarmizi, At Tirmidzi meriwayatkan bahwa khalifah Umar bin al-Khattab Radhiyallahu Anhu, mengeluarkan perintah : “Jangan berjualan di pasar ini para pedagang yg tidak mengerti dien (muamalat)“.

Selain itu juga diriwayatkan asal Imam Malik bahwa beliau memerintahkan para penguasa buat mengumpulkan semua pedagang serta orang-orang pasar, kemudian beliau menguji mereka satu-persatu, saat beliau dapati di antara mereka ada yang tidak mengerti hukum halal-haram tentang jual-beli beliau melarangnya masuk ke pasar seraya menyuruhnya mempelajari fikih muamalat, Bila telah paham, orang tersebut dibolehkan masuk pasar, Tanbih Al Ghafilin.

lalu diriwayatkan dari Abu Laits, beliau mengatakan, seseorang tidak halal melakukan akad jual-beli selagi beliau belum menguasai bab fiqih jual-beli.

Jadi, ilmu fikih memiliki peran terbesar dalam pelaksanaan syariat Islam, dibandingkan dengan disiplin keilmuan lainnya seperti akidah, tasawuf dan lain sebagainya. masalah-masalah dalam ilmu fikih menempati porsi terbesar dalam khazanah keilmuan Islam. Hal ini disebabkan fikih sebagai hukum akan terus merespons perkembangan peradaban manusia.

Fiqih akan terus berkaitan dengan hukum dalam ajaran Islam, bersifat dinamis dan selalu berkembang. Ilmu fiqih sangat penting dikuasai menjadi kunci dalam memahami ajaran-ajaran yang terdapat pada Islam.

 

Baca Juga : Buku Fiqh Islam Terlengkap

 

Ayat-ayat yg menjelaskan fiqih ibadah sholat, contohnya, ada dalam surat An Nisa ayat 103 :

اِنَّ الصَّلٰوةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ كِتٰبًا مَّوْقُوْتًا

“sungguh, shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An Nisa: 103)

Ayat yg menjelaskan keringanan ketika menjalankan ibadah puasa pada bulan Ramadhan. Firman Allah :

اَيَّامًا مَّعْدُوْدٰتٍۗ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗ وَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهٗ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍۗ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهٗ ۗ وَاَنْ تَصُوْمُوْا خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

“(Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka barangsiapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengubah) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) di hari-hari yang lain. dan bagi orang yang berat menjalankannya, harus membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. tetapi barangsiapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itu lebih baik baginya, serta puasamu itu lebih baik bagimu Jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah : 184).

dengan mengkaji ilmu fiqih (kaidah serta ushul nya), maka akan mudah menjalankan hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi wa Sallam). Ilmu ini akan memandu dalam setiap aspek kehidupan umat Islam, dari ibadah (interaksi hamba dengan Allah) sampai aspek muamalah (interaksi sesama hamba Allah).

Imam Al Ghazali 3

KEUTAMAAN ILMU FIQIH

1. Tafaquh fid-dien (memperdalam pemahaman agama) adalah Perintah serta Hukumnya wajib.

مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُؤْتِيَهُ اللَّهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِي مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ

“tidak wajar bagi seorang manusia yg Allah berikan kepadanya Al kitab, hikmah dan kenabian, kemudian dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.” akan tetapi : “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al kitab serta disebabkan kamu tetap mempelajarinya”.” (Ali Imran : 79)

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

“tidak sepatutnya bagi mu’minin itu pergi semuanya . Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang buat memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan buat memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, agar mereka itu dapat menjaga dirinya.” (At-Taubah : 122)

طَلَبُ اْلعِلْمِ فَرِيْضَةً عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu itu wajib bagi tiap muslim.” (HR.Ibnu Majah)

2. Paham terhadapat ilmu fiqih ialah nikmat yg agung serta tanda bertambahnya kebaikan.

وَأَنْزَلَ اللَّهُ عَلَيْكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُنْ تَعْلَمُ وَكَانَ فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكَ عَظِيمً

“… dan (juga karena) Allah telah menurunkan kitab (Al-Qur-an) dan hikmah (AS-Sunnah) kepadamu dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum engkau ketahui. Karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu sangat besar .” (An-Nisaa’: 113)

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين

“Barangsiapa dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka dia akan memberikan pemahaman agama kepadanya.” (Mutafaqqun ‘Alaih)

3. Fiqih bersumber dari al Quran & Sunnah adalah penjaga dari penyimpangan/kesesatan.

تركت فيكم أمرين لن تضلوا ما تمسكتم بهما : كتاب الله وسنة نبيه

“sudah aku tinggalkan di kalian dua perkara yang Bila kalian berpegang dengan keduanya, tidak akan tersesat : Kitabullah serta Sunnah Nabi-Nya”. (HR.Muslim)

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang beramal dalam urusan kami ini apa-apa yg bukan darinya maka dia tertolak.” (Mutafaqqun ‘Alaih)

4. Ahlu fiqih serta orang yg mempelajarinya merupakan orang yang memiliki derajat yg tinggi.

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Allah akan meninggikan orang-orang yg beriman di antaramu dan orang-orang yg diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (Al Mujadilah : 11)

5. Orang yg paham ilmu syari’at merupakan orang yang dekat kepada taufiq dan hidayah Allah

وَيَرَى الَّذِيْنَ أُوْتُوْا الْعِلْمَ الَّذِي أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ هُوَ الْحَقَّ وَيَهْدِي إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيْزِ الْحَمِيْدِ

“dan orang-orang yang diberikan ilmu memandang bahwa apa yg telah diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Rabbmu merupakan kebenaran dan akan membimbing pada jalan Allah yg Maha Mulia lagi Maha Terpuji.” (Saba: 6)

وَتِلْكَ اْلأَمْثاَلُ نَضْرِبُهاَ لِلنَّاسِ وَماَ يَعْقِلُهاَ إِلاَّ الْعاَلِمُوْنَ

“Demikianlah permisalan-permisalan yang dibuat oleh Allah bagi manusia dan tak ada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.” (Al-’Ankabut: 43)

6. tidak Paham Syariah serta khsususnya fiqih akan menyebabkan Perpecahan dan menghilangkan kekuatan umat

Para ulama terbiasa berbeda pendapat, sebab berbeda hasil ijtihad sudah menjadi keniscayaan. namun sebab ilmu yang mereka miliki membuat mereka tak saling mencaci, menjelekkan atau menafikan.

sebaliknya, semakin awam seseorang terhadap ilmu syariah, umumnya akan semakin tidak punya mental untuk berbeda pendapat. Sedikit perbedaan di kalangan mereka sudah memungkinkan buat terjadinya perpecahan, pertikaian, bahkan saling menjelekkan satu sama lain.

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“serta taatlah pada Allah dan rasul-Nya dan janganlah engkau berbantah-bantahan, yg menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu serta bersabarlah. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (Al Anfaal :46)

 

Baca Juga : Buku Fiqh Islam

 

7. Kehancuran umat serta datangnya kiamat Ditandai dari Hilangnya Ilmu Syariah

مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَيَثْبُتَ الْجَهْلُ وَيُشْرَبَ الْخَمْرُ وَيَظْهَرَ الزِّنَا

“Diantara terjadinya hari kiamat yaitu: diangkatnya ilmu, kebodohan merajalela, banyaknya orang yang meminum minuman keras, serta zina dilakukan dengan terang-terangan.” (HR. Muslim)

ﺿﻴﻌﺖ ﻓﺈﺫﺍ ﺍﻟﺴﺎﻋﺔ ﻓﺎﻧﺘﻈﺮ ﺍﻷﻣﺎﻧﺔ . ﻓﻘﺎﻝ : ﺇﺿﺎﻋﺘﻬﺎ ﻛﻴﻒ ؟ ﻗﺎﻝ : ﻏﻴﺮ ﺇﻟﻰ ﺍﻷﻣﺮ ﻭﺳﺪ ﺇﺫﺍ ﻓﺎﻧﺘﻈﺮ ﺍﻟﺴﺎﻋﺔ ﺃﻫﻠﻪ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bila amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi.” ada seseorang sahabat bertanya; ‘bagaimana maksud amanat disia-siakan? ‘ Nabi menjawab; “Jika urusan diserahkan bukan pada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu.” (HR. Bukhari)

8. Tipu Daya Orientalis serta Sekuleris Sangat Efektif Jika Lemah di Bidang Syariah

وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ إِلَّا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ

“Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Bila engkau (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, pasti akan terjadi kekacauan pada muka bumi dan kerusakan yg besar .” (QS. Al-Anfaal: 73)

Para ulama syariah terbiasa tidak sinkron pendapat, karena berbeda hasil ijtihad telah sebagai keniscayaan. namun mereka sangat menghormati perbedaan diantara mereka. sehingga tidak saling mencaci, menjelekkan atau menafikan.

sebaliknya, semakin awam seseorang terhadap ilmu syariah, biasanya akan semakin tidak punya mental buat tidak selaras pendapat. Sedikit perbedaan di kalangan mereka sudah memungkinkan buat terjadinya perpecahan, pertikaian, bahkan saling menjelekkan satu sama lain.

referensi tambahan :

dari Shahabat Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, Rasulullah Saw bersabda :

أَلَا إِنَّ الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ مَلْعُونٌ مَا فِيهَا إِلَّا ذِكْرُ اللَّهِ وَمَا وَالَاهُ وَعَالِمٌ أَوْ مُتَعَلِّمٌ

“Ketahuilah, sesungguhnya dunia itu dilaknat dan dilaknat apa yg ada di dalamnya, kecuali dzikir pada Allah dan ketaatan kepada-Nya, orang berilmu, serta orang yang mempelajari ilmu.”[4]

Rasulullah Saw bersabda :

سيأتي على الناس سنوات خداعات يصدق فيها الكاذب ويكذب فيها الصادق ويؤتمن فيها الخائن ويخون فيها الأمين وينطق فيها الرويبضة . قيل وما الرويبضة ؟ قال : الرجل التافه ؛ يتكلم في أمر العامة

“Akan datang tahun-tahun yg dipenuhi penipuan. pada waktu itu, seorang pendusta justru dibenarkan serta seorang yg jujur malah didustakan. seseorang pengkhianat malah dipercaya dan seorang yang amanah malah dikhianati. pada waktu itu, ar-ruwaibidhah akan angkat bicara. Para sahabat bertanya, “Apa ruwaibidhah itu?” Nabi menjawab, “Ar-ruwaibidhah ialah seorang yg (pada hakekatnya) dungu, tetapi berani bicara mengenai urusan umat.” (HR. Bukhari).

Ali a berwasiat kepada muridnya, Kumail bin Ziyad,
يا كميل بن زياد القلوب أوعية فخيرها أوعاها للعلم احفظ ما أقول لك الناس ثلاثة فعالم رباني ومتعلم على سبيل نجاة وهمج رعاع اتباع كل ناعق يميلون مع كل ريح لم يستضيئوا بنور العلم ولم يلجئوا إلى ركن وثيق

“Wahai Kumail bin Ziyad. Hati manusia itu bagaikan bejana (wadah). oleh karena itu, hati yg terbaik artinya hati yang paling banyak memuat ilmu. Camkanlah baik-baik apa yang akan kusampaikan kepadamu. manusia itu terdiri dari 3 kategori, seorang yang berilmu dan mengajarkan ilmunya. seorang yg terus mau belajar, dan orang inilah yg berada di atas jalan keselamatan. Orang yang tidak berguna serta gembel, dialah seseorang yg mengikuti setiap orang yg bersuara. oleh karenanya, dia ialah seseorang yang tidak punya pendirian sebab senantiasa mengikuti kemana arah angin bertiup. Kehidupannya tidak dinaungi oleh cahaya ilmu dan tak berada pada posisi yg kuat.” (Hilyah al-Auliya, 1/70-80).

Al Imam Ahmad t mengatakan :

الناس محتاجون إلى العلم قبل الخيز و الماء لأن العلم محتاجون إليه الإنسان في كل ساعة و الخبز و الماء في اليوم مرة أو مرتين

“manusia sangat membutuhkan ilmu melebihi kebutuhan terhadap roti serta air, sebab ilmu dibutuhkan manusia di setiap waktu. Sedangkan roti dan air hanya dibutuhkan manusia sekali atau 2 kali” (Al Adab asy Syar’iyyah 2/44-45).

Imam Asy Syafi’i t berkata :

كُلُّ الْعُلُوْمِ سِوَى الْقُرْآنِ مُشْغِلَةٌ إِلاَّ الْحَدِيْثَ وَ عِلْمَ الْفِقْهِ قِي الدِّيْنِ
اَلْعِلْمُ مَا كَانَ فِيْهِ قَالَ حَدَّثَنَا وَ مَا سِوَى ذَاكَ وَسْوَسُ الشَّيَاطِيْنَ

Setiap ilmu selain Al Qur-an akan menyibukkan, kecuali ilmu hadits dan fiqih, Ilmu adalah sesuatu yang di dalamnya ada ungkapan ‘Haddatsana’ (yaitu ilmu yg berdasar pada wahyu). Adapun ilmu selainnya, hal itu hanyalah bisikan syaithan semata (Diwan al Imam asy Syafi’i, Dar al Kutub al ’Ilmiyah).

Beliau juga berkata,

مَنْ لَمْ يَذُقْ مُرَّ التَّعَلُّمِ سَاعَة تَجَرَّعَ ذُلُّ الْجَهْلِ طُوْلَ حَيَاتِهِ
وَ مَنْ فَاتَهُ التَّعْلِيْمُ وَقْتَ شَبَابِهِ فَكَبِّرْ عَلَيْهِ أَرْبَعًا لِوَفَاتِهِ

Barangsiapa yg tidak pernah mencicipi pahitnya belajar, Maka dia akan meneguk hinanya kebodohan di sepanjang hidupnya, Barangsiapa yang tidak menuntut ilmu di masa belia, Maka bertakbirlah empat kali, karena sungguh dirinya telah wafat (Diwan al Imam asy Syafi’i, Dar al Kutub al ’Ilmiyah).

Nabi muhammad bersabda:

من سلك طريقا يلتمس فيه علما سهل الله له به طريقا إلى الجنة

“Barangsiapa yang menempuh jalan buat mendapatkan ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga ” (HR. Muslim nomor 2699).
Wallahu a‘lam.

[1] Fiqh al Islami wa Adillatuhu,1/30 :
الفقه لغة: الفهم…وعرف الشافعي رحمه الله الفقه بالتعريف المشهور بعده عند العلماء بأنه: العلم بالأحكام الشرعية العملية المكتسب من أدلتها التفصيلية

[2] Al Mausu’ah Fiqhiyah al Kuwaitiyah, 32/193 :
الْفِقْهُ فِي اللُّغَةِ: الْعِلْمُ بِالشَّيْءِ وَالْفَهْمُ لَهُ، وَالْفَطِنَةُ فِيهِ، وَغَلَبَ، عَلَى عِلْمِ الدِّينِ لِشَرَفِهِ،…وَفِي الاِصْطِلاَحِ هُوَ: الْعِلْمُ بِالأَْحْكَامِ الشَّرْعِيَّةِ الْعَمَلِيَّةِ، الْمُكْتَسَبُ مِنْ أَدِلَّتِهَا التَّفْصِيلِيَّةِ

Lihat pula Al Fiqh asy Syari’ah,1/2 :

معناه علم القانون الإسلامي فهو علم الأحكام الشرعية العلمية التي تخص أفعال المكلفين، وبذلك تخرج أحكام العقائد والأخلاق من مدلول الفقه. لذا يعرف الفقه بأنه: (العلم بالأحكام الشرعية العملية المكتسب من أدلتها التفصيلية) وهذا التعريف للفقه في غاية الدقة إذ إنه يظهر وجهة نظر علماء المسلمين الخاصة لعلم الحقوق، وفيما يلي إيضاح عناصر هذا التعريف:

أولًا: الفقه علم: فهو ذو موضوع خاص وقواعد خاصة، وعلى هذا الأساس درسه الفقهاء في كتبهم وأبحاثهم وفتاويهم فهو ليس فنًّا يغلب فيه الذوق على العقل والمشاعر على الحقيقة.

ثانيًا: الفقه العلم بالأحكام الشرعية، والأحكام الشرعية هي المتلقاة بطرق السمع المأخوذة من الشرع دون المأخوذة من العقل كالعلم بأن العالم حادث، وأن الواحد نصف الاثنين، أو الأحكام المأخوذة من الوضع والاصطلاح اللغوي فالحكم الشرعي هو القاعدة التي نص عليها الشارع في مسألة من المسائل وهذه القاعدة إما أن يكون فيها تكليف معين كالواجب والمحرم فتسمى الحكم الشرعي التكليفي، وإما أن لا يكون فيها أي تكليف كالحكم بالصحة أو البطلان على فعل معين، فيقال لها الحكم الشرعي الوضعي.

ثالثًا: الفقه العلم بالأحكام الشرعية العملية: وكلمة عملية تعني أن الأحكام الفقهية تتعلق بالمسائل العملية التي تتعلق بأفعال الناس البدنية في عباداتهم ومعاملاتهم اليومية ويقابل بالأحكام العملية الأحكام العقائدية وأحكام صلاح القلب وهو ما يسمي بعلم الأخلاق، فهذه تتعلق بأفعال القلوب لا بأعمال الأبدان، ولذلك لا تسمى فقها في هذا الاصلاح.

رابعًا: جاء في التعريف أن علم الفقه مكتسب من أدلة الأحكام التفصيلية ومعنى ذلك أن الأحكام تعد من علم الفقه إلا إذا كانت مستندة إلى مصادر الشرع المعلومة أي أدلة الشرع. والفقيه هو الذي يسند كل حكم من أحكام الشرع إلى دليله، فالقانون الإسلامي أو الفقه الإسلامي ليس وضعيًّا من صنع الدولة بل هو تشريع ديني يستند إلى مصادر دينية

[3] Definisi oleh imam asy Syafi’I ini ialah yang paling populer. Lihat juga Syarh Jam’il Jawami’,1/32. Syarh al Isnawi,1/24 serta Mir’ah al Ushul,1/50

[4] Hadits hasan: Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 2322), Ibnu Majah (no. 4112), dan Ibnu ‘Abdil Barr (I/135, no. 135), Lihat Shahiih at-Targhib wat Tarhiib (no. 74). Lafazh ini milik at-Tirmidzi.

Wallahu ‘Alam

telah membeli
45 menit lalu