Belajar Mengaji Sendiri ? Ini Hukumnya

Hukum Belajar Mengaji Sendiri – Membaca Al Quran adalah salah satu ibadah yang wajib dilakukan oleh setiap Muslim yang taat. Hal ini dikarenakan Al-Qur’an dan Sunnah merupakan pegangan hidup bagi seorang muslim Sehun ia harus mempelajarinya.

Saat ini, masih banyak umat Islam yang masih belum fasih dalam membaca Al quran. Oleh karena itu, beberapa di antara mereka mempelajari cara membaca Al quran melalui berbagai cara atau media. Selain dengan bantuan guru mengaji, di era modern saat ini banyak sekali media yang membantu dalam mempelajari bacaan Alquran seperti youtube, instagram, atau lainnya. Media-media tersebut dapat digunakan oleh masyarakat dalam belajar membaca Alquran secara otodidak.

Lantas, bagaimanakah hukumnya jika kita belajar mengaji sendiri?

Hukumnya Belajar Mengaji SendiriBolehkah belajar mengaji Sendiri / otodidak? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, mari simak penjelasan berikut ini.

Pada dasarnya, sah-sah saja untuk belajar mengaji sendiri tanpa didampingi guru ngaji. Namun jauh lebih disarankan untuk mengaji dengan didampingi dan dibantu oleh guru ngaji.

Keunikan dari Al-Qur’an adalah ketika kita belajar membaca Al-Qur’an, baik bisa atau tidak bisa, maka kita akan mendapatkan pahala.

Aisyah mengatakan sebuah hadis bahwasannya Rasul bersabda:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَ هُوَ مَاهِرٌ بِهِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ، وَالَّذِي يَقْرَؤُهُ وَهُوَ شَدِيدٌ عَلَيْهِ فَلَهُ أَجْرَانِ. رواه الترمذي

“Orang yang membaca al-Qur’an dan dia pandai (lancar dalam membacanya), maka dia akan bersama para malaikat. Sedangkan orang yang membaca al-Qur’an namun masih tergagap-gagap (belum lancar), maka dia akan mendapatkan dua pahala”. (Hr. Turmudzi:2829)

Belajar mengaji dengan bantuan dari guru ngaji sangat disarankan. Hal ini dikarenakan adanya ilmu tajwid yang sebaiknya dipelajari dengan bantuan seorang guru yang memang ahli dalam ilmu tajwid.

Banyak dalil yang menunjukkan bahwa mempelajari ilmu tajwid dalam membaca Al-Qur’an sangat dianjurkan. Dan ilmu tajwid ini hanya bisa sempurna jika dipelajari dengan orang yang bisa mengkoreksi bacaan.

Dari Anas bin Malik ketika ditanya:

“Bagaimana bacaan Nabi, maka beliau menjawab bahwa bacaan beliau itu dengan panjang-panjang kemudian dia membaca “Bismillahirrahman arrahiim” memanjangkan (bismillah) serta memanjangkan (ar rahmaan) dan memanjangkan ar rahiim”. (Hr. Bukhari)

Ibnu Masud juga melaporkan sebuah cerita ketika menuntun seseorang membaca Al Qur’an. Maka orang itu mengucapkan: “Innamash shadaqatu lil fuqara-i wal masakin.”

Dengan meninggalkan bacaan panjangnya, maka Ibnu Mas’ud menegurnya, “Bukan begini Rasulullah saw membacakan ayat ini kepadaku.” Maka orang itu jawab,

“Lalu bagaimana Rasulullah saw membacakan ayat ini kepadamu wahai Abu Abdirrahman?” Maka beliau ucapkan: “Innamash shadaqaatu lil fuqaraa-i wal masaakiin”. (Hr. Said bin Mansur).

Maka dari itu, belajar mengaji sendiri sangat tidak disarankan, tapi juga tidak dilarang karena ada banyak cara membaca Al-Qur’an yang perlu diperhatikan dengan bantuan orang yang ahli.

Mulailah kita semua belajar membaca Al-Qur’an karena memiliki berbagai keutamaan sebagaimana telah dijelaskan Allah SWT.

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan salat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi”.

“Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS. Fathir: 29-30).

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan الم satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.” (HR. Tirmidzi dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 6469)

Tamim Ad Dary radhiyalahu‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang membaca 100 ayat pada suatu malam dituliskan baginya pahala shalat sepanjang malam.” (HR. Ahmad dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 6468).

Oleh karena itu, sangat dianjurkan untuk belajar mengaji dengan bantuan guru mengaji. Apabila ada anggota keluarga, teman, atau kerabat yang dapat mengajari Anda mengaji, mintalah mereka untuk membantu.

Mengoreksi bacaan Alquran seseorang sangatlah penting karena apabila seseorang melakukan kesalahan dalam membaca Alquran dan tidak sesuai kaidah atau aturan dikhawatirkan dapat mengubah makna dan itu fatal. Selain itu, tidak sesuai dengan yang Allah firman-kan.

Ibnu Masud juga menyampaikan sebuah kisah ketika beliau menuntun seseorang membaca Alquran. Maka orang itu mengucapkan: “Innamash shadaqatu lil fuqara-i wal masakin.” Dengan meninggalkan bacaan panjangnya, maka Ibnu Mas’ud menegurnya, “Bukan begini Rasulullah saw membacakan ayat ini kepadaku.” Maka orang itu jawab, “Lalu bagaimana Rasulullah saw membacakan ayat ini kepadamu wahai Abu Abdirrahman?” Maka beliau ucapkan: “Innamash shadaqaatu lil fuqaraa-i wal masaakiin”. (Hr. Said bin Mansur).

Maka dari itu, dalam belajar mengaji membutuhkan bantuan seorang yang sudah paham untuk dapat mengoreksi bacaan Alquran. Sebenarnya boleh juga menggunakan sosial media atau artikel dalam belajar ilmu tajwid, tetapi hanya sebagai referensi dan pembelajaran tambahan saja, dan lebih utama dengan bantuan guru mengaji.

Pengertian Surah Makkiyah – Berikut Ciri Khas serta Daftar Surahnya

Pengertian Surah Makkiyah – Para ulama pakar tafsir membagi ayat-ayat Al-Quran berdasarkan periode serta tempat turunnya. Surah-surah Al-Quran yang turun sebelum hijrah saat dakwah Islam berpusat di Makkah dikenal dengan sebutan surah Makkiyah. Lantas, apa pengertian serta Ciri-Ciri surah Makkiyah pada Al-Quran?

Pembagian Al-Qur’an dari sisi penurunannya dibedakan menjadi Makkiyah dan Madaniyyah, mengutip buku Islamologi karya Maulana Muhammad Ali. Keduanya dijelaskan memiliki hubungan dengan peristiwa hijrah Rasulullah SAW.

di mana sebelumnya beliau pernah tinggal di Makkah untuk 3 belas tahun sejak sebelum diutus menjadi nabi, sampai Allah SWT memerintahkannya buat hijrah ke Madinah dan menetap selama sepuluh tahun sampai dia wafat.

Semasa dakwahnya itu, Allah SWT mewahyukan buku suci Al-Qur’an kepada dia sampai tuntas. dengan terjadinya hijrah, maka ada ayat dan Surah yang turun di beda daerah. ada yang di Makkah serta di Madinah.

Terbaginya ayat dan Surah Al-Qur’an ini bukan semata pengetahuan belaka, melainkan memiliki faedahnya. seperti yg disebut dalam kitab Pengantar Studi Ilmu Al-Qur’an oleh Syaikh Manna Al-Qaththan, tentang pembagian ini bisa membantu orang-orang yg menafsirkan Al-Qur’an.

Selain itu, juga bisa mengetahui riwayat kehidupan Nabi SAW melalui ayat-ayat yg diwahyukan. dan mampu bermanfaat dalam metode dakwah di jalan Allah SWT.

Apa Pengertian Surah Makkiyah?

Secara sederhana, surah Makkiyah merupakan surah atau sebagian besar ayat dalam surah tersebut turun pada periode Makkah, yakni sebelum umat Islam hijrah ke Madinah pada 622 masehi, sebagaimana dikutip dari Ulumul Quran: telaah Tekstualitas dan Kontekstualitas Al-Quran (2011) yang ditulis Ahmad Izzan.

pada bagian sebelumnya disebutkan bahwa periode Makkah berlangsung selama 13 tahun. tetapi, rinciannya bukan benar-benar 13 tahun, melainkan 12 tahun, 5 bulan, serta 13 hari. Para ulama tafsir membulatkannya menjadi 13 tahun.

Selain itu, meskipun disebut sebagai surah Makkiyah, tidak semua ayat di surah tersebut turun di kota Makkah. terdapat surah yg turun sewaktu nabi perjalanan keluar Makkah, namun karena masih dalam periode Makkah (sebelum hijrah), surah itu tetap dikenal menjadi surah Makkiyah.

Mengetahui perbedaan antara surah-surah Makkiyah serta Madaniyah sangat penting bagi orang yang mempelajari Al-Quran serta ilmu tafsir.

salah satu faidahnya adalah buat mengetahui hukum nasikh serta mansukh. Beberapa hukum Islam yg diturunkan di Makkah dihapuskan (mansukh) dengan ayat-ayat yang turun di Madinah (nasikh).

Manfaat lainnya juga mengajarkan tentang cara dakwah pada khalayak. Ayat-ayat Makkiyah didominasi tentang akidah dan penguatan iman. ketika Islam masih lemah, Allah SWT menurunkan ayat-ayat yang berkaitan dengan tauhid supaya keyakinan terhadap Islam kian kokoh.

sementara itu, waktu Islam telah kuat di Madinah, ayat-ayat yang diturunkan berkaitan dengan sosial-masyarakat, rapikan negara, muamalah, hingga hubungan sesama manusia.

Ciri-Ciri Surah Makkiyah dalam Al-Quran Ciri-Ciri surah Makkiyah dalam Al-Quran di antaranya ialah sebagai berikut:

  • Surah Makkiyah didominasi oleh ayat-ayat pendek.
  • Surah Makkiyah didominasi oleh pembahasan tentang masalah akidah.
  • Setiap surah yang di dalamnya mengandung ayat sajdah merupakan surah Makkiyah.
  • Setiap surah di dalamnya dinyatakan lafal “Kallâ” merupakan surah Makkiyah. Lafal itu dinyatakan sebanyak 33 kali dalam 15 surah.
  • Setiap surah yang didahului dengan panggilan: “Yâ Ayyuhâ an-Nâs” (Wahai manusia) atau “Yâ Banî Adam” (Wahai Anak Adam).
  • Setiap surah yg diawali dengan “Fawatih AS-suwar” adalah surah Makkiyah. Setiap surah yang mengandung kisah-kisah Nabi serta umat terdahulu, kecuali kisah Adam serta Iblis yg disebutkan pada surah Al-Baqarah merupakan Makkiyah.
  • Kalimat pada ayat-ayatnya singkat, padat, dan mengesankan. Lafaznya pun disertai dengan kalimat sumpah. seperti pada Surah-Surah pendek, namun ada sedikit yg tidak.
  • Berisi dakwah kepada tauhid dan beribadah hanya pada Allah, pembuktian mengenai risalah, kebangkitan serta hari pembalasan, Hari Kiamat serta kedahsyatannya, neraka dan siksanya, surga dan nikmatnya, argumentasi terhadap orang musyrik dengan menggunakan bukti-bukti rasional dan ayat-ayat kauniyah.
  • Mengandung dasar umum tentang hukum serta akhlak yg mulia yang dijadikan dasar terbentuknya suatu rakyat; pengambilan sikap tegas terhadap kriminalitas orang-orang musyrik yang telah banyak menumpahkan darah, memakan harta anak yatim secara zhalim, penguburan hidup-hidup bayi perempuan serta tradisi buruk lainnya.

Surah-surah Makkiyah dalam Al-Quran

  1. Surah Al A’raf
  2. Surah Yunus
  3. Surah Hud
  4. Surah Yusuf
  5. Surah Ibrahim
  6. Surah Al Hijr
  7. Surah An Nahl (kecuali 3 ayat terakhirnya)
  8. Surah Al Isra’
  9. Surah Al Kahfi
  10. Surah Maryam
  11. Surah Thaha
  12. Surah Al Anbiya’
  13. Surah Al Hajj (kecuali ayat 19-21)
  14. Surah Al Mu’minun
  15. Surah Al Furqan
  16. Surah Asy Syu’ara (kecuali ayat 224-227)
  17. Surah An Naml
  18. Surah Al Qashash
  19. Surah Al Ankabut
  20. Surah Ar Rum
  21. Surah Luqman (kecuali ayat 27-28)
  22. Surah AS Sajdah (kecuali ayat 18-20)
  23. Surah Saba’
  24. Surah Fathir
  25. Surah Yasin
  26. Surah Ash Shaffat
  27. Surah Shad
  28. Surah Az Zumar (kecuali ayat 53-55)
  29. Surah Al Mu’min/Ghafir
  30. Surah Fusshilat
  31. Surah AS Syura
  32. Surah Al Zukhruf
  33. Surah Ad Dukhan
  34. Surah Al Jatsiyah
  35. Surah Al Ahqaf
  36. Surah Qaf
  37. Surah Adz Dzariyaat
  38. Surah Ath Thur
  39. Surah An Najm
  40. Surah Al Qamar
  41. Surah Al Waqi’ah
  42. Surah Ash Shaf
  43. Surah Al Mulk
  44. Surah Nun
  45. Surah Al Haaqqah
  46. Surah Al Ma’arij
  47. Surah Nuh
  48. Surah Al Jinn
  49. Surah Al Muzzammil (kecuali ayat 20)
  50. Surah Al Muddassir
  51. Surah Al Qiyamah
  52. Surah Al insan
  53. Surah Al Mursalat
  54. Surah An Naba
  55. Surah An Nazi’at
  56. Surah ‘Abasa
  57. Surah At Takwir
  58. Surah Al Infitar
  59. Surah Al Insyiqaq
  60. Surah Al Buruj
  61. Surah At Tariq
  62. Surah Al A’la
  63. Surah Al Gasyiyah
  64. Surah Al Fajr
  65. Surah Al Balad
  66. Asy Syams
  67. Surah Al Lail
  68. Surah Ad Duha
  69. Surah Asy Syarh
  70. Surah At Tin
  71. Surah Al ‘Alaq
  72. Surah Al ‘Adiyat
  73. Surah Al Qari’ah
  74. Surah At Takasur
  75. Surah Al ‘Asr
  76. Surah Al Humazah
  77. Surah Al Fil
  78. Surah Quraisy
  79. Surah Al Ma’un
  80. Surah Al Kautsar
  81. Surah Al Kafirun
  82. Surah Al Lahab

Doa Tahlil dan Yasin Beserta artinya

Doa tahlil – dalam tradisi umat muslim di Indonesia, membaca doa tahlil atau tahlilan merupakan hal yg biasa dilakukan guna mengirimkan doa bagi mendiang keluarga atau sanak saudara yang sudah meninggal dunia.

Tahlilan merupakan kebiasaan membaca doa yang dilakukan pada 1-7 hari peringatan orang yang meninggal dunia serta peringatan di 15 hari, 40 hari, 100 hari sampai 1000 hari orang yang meninggal.

Doa tahlil umumnya dilakukan dengan membaca doa sendiri maupun secara bersamaan pada sebuah majelis. saat membaca doa tahlil, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan seperti urutan suratnya, lalu pilihan ayat yang terdapat pada Al-Quran serta membaca sholawat serta toyibah. agar tak bingung, beriku doa tahlil singkat, doa yasin serta doa arwah buat mendoakan mendiang yang sudah meninggal dunia.

 

Baca Juga : Jasa Cetak buku Yasin Untuk 7, 40, 100 hari Termurah

 

Bacaan Doa Tahlil Singkat

Doa tahlil dianggap pula menjadi doa arwah, karena doa ini dibacakan buat arawah seorang yg sudah meninggal dunia. Secara singkat, ada lima bacaan doa tahlil untuk mendoakan seseorang yg sudah meninggal dunia. Berikut kelima doa tahlil tadi.

1. Doa Tahlil Pertama

اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. حَمْدَ الشَّاكِرِيْنَ، حَمْدَالنَّاعِمِيْنَ، حَمْدًايُوَافِيْ نِعَمَه وَيُكَافِئُ مَزِيْدَه، يَارَبَّنَالَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلاَلِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ. اَللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلى الِى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ.

“Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillaahirobbil’aalamiin. Hamdasy syaakiriin, handan naa’imiin, hamday yuwaafii ni’amahuu wa yukaafi’u mazzidah, yaa robbanaa lakalhamdu kamaa yan baghii lijalaali waj-hika wa ‘azhiimi sulthoonik. Alloohumma shalli wa shallim ‘alaa sayyidinaa muhammad, wa’alaa aali sayiidinaa muhammad.”

artinya: “dengan nama Allah yg Maha Pengasih dan juga Maha Penyayang. Segala pujibagi Allah Penguasa Alam Semesta, seperti orang-orang yang bersyurkur dan orang yg mendapatkan banyak limpahan kenikmatan memuji Nya.

dengan pujian yang sepadan dan nikmat Nya dan memungkinkan bertambahnya. Wahai tuhan kami, pujian hanyalah buat Mu, seperti yg layak akan kemuliaan dari zat Mu dan keagungan kekuasaan Mu. Ya Allah berikanlah limpahan kesejahteraan serta keselamatan di Nabi Muhammad SAW, junjungan kami serta pada keluarga baginda.”

2. Doa Tahlil ke 2

اَللهُمَّ تَقَبَّلْ وَاَوْصِلْ ثَوَابَ مَاقَرَأْنَاهُ مِنَ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَمَا هَلَّلْنَا وَمَا سَبَّحْنَا وَمَااسْتَغْفَرْنَا وَمَا صَلَّيْنَا عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَدِيَّةً وَاصِلَةً وَرَحْمَةً نَازِلَةً وَبَرَكَةً شَامِلَةً

اِلَى حَضْرَةِ حَبِيْبِنَا وَشَفِيْعِنَا وَقُرَّةِ اَعْيُنِنَا سَيِّدِنَا وَمَوْلنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاِلَى جَمِيْعِ اِخْوَانِه مِنَ الْاَنْبِيَآءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَالْاَوْلِيَآءِ وَالشُّهَدَآءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَالصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَالْعُلَمَآءِ الْعَالِمِيْنَ وَالْمُصَنِّفِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ

وَجَمِيْعِ الْمَلاَئِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ خُصُوْصًا اِلَى سَيِّدِنَا الشَّيْخِ عَبْدِ الْقَادِرِ الْجَيْلاَنِيِّ

“Allaahumma taqobbal wa aushil tsawaba maa qoro’naahu minal qur’aanil ‘azhiimi wamaa hallalnaa wa maa sabbahnaa wa mastaghfarnaa wa maa shollainaa ‘alaa sayyidinaa muhammadin shollalloohu ‘alaihi wa sallama hadiyyatan waashilatan wa rohmatan naazilatan wa barokatan syaamilatan ilaa hadhrotin habiibinaa wa syafii’inaa wa qurroti a’yuninaa sayyidinaa wa maulaanaa muhammadin shollallaahu ‘alaihi wa sallam, wa ilaa jamii’i ikhwaanihii minal anbiyaa’i walmursaliina wal auliyaa’i wasy-syuhadaa’i wash-shoolihiina wash shohaabati wattaabi’iina wal ‘ulamaa’il ‘aalimiina wal mushonnifiinal mukhlishiina wa jamii’il mujaahidiina fii sabiilillaahi robbil’aalamiin, wa malaa’ikatil muqorrobiin.”

artinya: “Ya Allah terima serta sampaikanlah pahala Al-Quran yg sudah kami baca, tahlil kami, tasbih kami, istighfar kami dan shalawat kami pada Nabi Muhammad SAW sebagai bentuk hadiah yang menjadi penyambung, menjadi rahmat yang turun dan menjadi berkah yg akan menyebar di kekasih kami, penolong kami dan buah hati kami.

Pemuka dan pemimpin kami yaitu Nabi Muhammad SAW serta juga di semua sahabat baginda pada kalangan para nabi serta juga rasul, para wali, para syuhada, orang-orang saleh, para sahabat, para tabiin, para ulama yg mengamalkan keilmuannya, para pengarang yg tulus serta orang-orang yg berjihad di jalan Allah tuhan semesta alam dan kepada para malaikat yg selalu beribadah.”

3. Doa Tahlil Ketiga

ثُمَّ اِلى جَمِيْعِ اَهْلِ الْقُبُوْرِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ مِنْ مَشَارِقِ اْلاَرْضِ اِلَى مَغَارِبِهَا بَرِّهَا وَبَحْرِهَا خُصُوْصًا اِلَى آبَآءِنَا وَاُمَّهَاتِنَا وَاَجْدَادِنَا وَجَدَّاتِنَا وَنَخُصُّ خُصُوْصًا مَنِ اجْتَمَعْنَاههُنَا بِسَبَبِه وَلِاَجْلِه

“Tshumma ilaa jamii’i ahlil qubuuri minal muslimiina walmuslimaati walmu’miniina walmu’minaati mim masyaariqil ardhi ilaa maghooribihaa barrihaa wabahrihaa khushushon ilaa aabaainaa wa-ummahaatinaa wa-ajdaadinaa wajaddaatinaa wanakhush-shu khushuuson manijtama’naa haahunaa bisababihii wali-ajlihii.”

artinya: “kemudian kepada seluruh penghuni kubur di kalangan orang-orang Islam lelaki juga perempuan, orang mukmin Laki laki serta juga wanita yang berasal dari belahan bumi Timur dan juga Barat, di laut dan juga di darat, terutama di (Fulan bin Fulan nama orang yg meninggal dunia) serta ibu bapak kami, datuk dan nenek kami, lebih diutamakan lagi pada orang yang menyebabkan kami berkumpul di sini.”

4. Doa Tahlil Keempat

اَللهُمَّ اَنْزِلِ الرَّحْمَةَ وَالْمَغْفِرَةَ عَلى اَهْلِ الْقُبُوْرِ مِنْ اَهْلِ لَآاِلهَ اِلاَّ اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ اَللهُمَّ اَرِنَاالْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَااتِّبَاعَهُ وَاَرِنَاالْبَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَااجْتِنَابَهُ

“Allaahumma anzilir rohmata walmaghfirota ‘alaa ahlilqubuuri min ahli laa ilaaha illallaahu muhammadur rasuulullaah. Allaahumma arinal haqqo hqaaon warzuqnat tibaa’ahu, wa arinal baathila baathilan warzuqnaj tinaabahu.”

artinya:

“Ya Allah, turunkanlah rahmat serta ampunan di ahli kubur yang selalu mengucapkan kalimat, ‘Laailaaha illallaah Muhammadurrasuulullaah’ (tiada tuhan yang layak buat disembah selain Allah serta Muhammad adalah utusan Allah). Ya Allah, tunjukkanlah pada kami kebenaran merupakan suatu kebenaran serta berikanlah anugerah pada kami untuk dapat mengikutinya dan tunjukkanlah di kami kebatilan merupakan suatu kebatilan serta berikanlah anugerah di kami buat menjauhinya.”

5. Doa Tahlil Kelima

رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

“Robbanaa aatinaa fiddunyaa hasanah, wafil aakhiroti hasanah waqinaa ‘adzaaban naar. Subhaana robbika robbil ‘izzati ‘ammaa yashifuun, wasalaamun ‘alal mursaliina walhamdu lillaahi robbil ‘aalamiin.”

artinya: “Maha suci Tuhanmu, ilahi pemilik kemuliaan dari segala sifat mereka (musuh Nya) berikan. Keselamatan selalu tertuju di Rasul dan segala puji bagi Allah sang penguasa alam semesta.”

Bacaan Surat Yasin

saat acara tahlilan, umumnya majelis tidak hanya membaca doa tahlil atau doa arwah saja, tapi juga membaca Surat Yasin yang dibaca sebelum doa tahlil. Pembacaan Surat Yasin pada umumnya diawali dengan membaca Surat Al Fatihah. Dikutip dari situs NU Online, berikut bacaan Surat Yasin.

1. Pengantar Al Fatihah

اِلَى حَضْرَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ وَاَلِهِ وإِخْوَانِهِ مِنَ الأَنْبِيَاءِ وَالمُرْسَلِيْنَ وَالأَوْلِيَاءِ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَالصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَالعُلَمَاءِ العَامِلِيْنَ وَالمُصَنِّفِيْنَ المُخْلِصِيْنَ وَجَمِيْعِ المَلَائِكَةِ المُقَرَّبِيْنَ، ثُمَّ اِلَى جَمِيْعِ أَهْلِ القُبُوْرِ مِنَ المُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ مِنْ مَشَارِقِ الأَرْضِ إِلَى مَغَارِبِهَا بَرِّهَا وَبَحْرِهَا خُصُوْصًا إِلَى آبَائِنَا وَأُمَّهَاتِنَا وَأَجْدَادِنَا وَجَدَّاتِنَا وَمَشَايِخِنَا وَمَشَايِخِ مَشَايِخِنَا وَأَسَاتِذَتِنَا وَأَسَاتِذَةِ أَسَاتِذَتِنَا وَلِمَنْ أَحْسَنَ إِلَيْنَا وَلِمَنْ اجْتَمَعْنَا هَهُنَا بِسَبَبِهِ شَيْءٌ لِلهِ لَهُمُ الْفَاتِحَةُ

Artinya:

“untuk yg terhormat Nabi Muhammad, segenap keluarga dan saudara dari kalangan nabi, rasul, wali, syuhada, orang soleh, sahabat, tabiin, ulama al-amilin, ulama penulis yg tulus, seluruh malaikat Muqarrabin serta semua ahli kubur Muslimin, Muslimat, Mukminin, Mukminat dari Timur ke Barat yg ada di laut atau darat, terkhususnya bapak, ibu, kakek, nenek, guru, guru dari guru kami, ustadz, guru ustadz kamu, mereka yg berbuat baik di kmi dan ahli kubur yg menjadi alasan kami berkumpul di sini. Bacaan Al Fatihah ini kami tujukan kepada Allah serta pahalanya buat mereka semua. Al Fatihah…”

2. Membaca Surat Al-Fatihah

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Bismillaahir Rahmaanir Rahiim
1. Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
Alhamdu lillaahi Rabbil ‘aalamiin
2. Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam,

الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Ar-Rahmaanir-Rahiim
3. Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang,

مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ
Maaliki Yawmid-Diin
4. Pemilik hari pembalasan.

اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ
Iyyaaka na’budu wa lyyaaka nasta’iin
5. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.

اِھْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَـقِيْمَ
Ihdinas-Siraatal-Mustaqiim
6. Tunjukilah kami jalan yang lurus

صِرَاطَ الَّذِيۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ ۙ غَيۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا الضَّآلِّيۡنَ
Siraatal-laziina an’amta ‘alaihim ghayril-maghduubi ‘alaihim wa lad-daaalliin
7. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

3. Membaca Surat Yasin

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

يٰسٓ
Yaa-Siiin
1. Yasin

وَالۡقُرۡاٰنِ الۡحَكِيۡمِ
Wal-Qur-aanil-Hakiim
2. Demi Al-Qur’an yang penuh hikmah,

اِنَّكَ لَمِنَ الۡمُرۡسَلِيۡنَۙ
Innaka laminal mursaliin
3. sungguh, engkau (Muhammad) adalah salah seorang dari rasul-rasul,

عَلٰى صِرَاطٍ مُّسۡتَقِيۡمٍؕ‏
‘Alaa Siraatim Mustaqiim
4. (yang berada) di atas jalan yang lurus,

تَنۡزِيۡلَ الۡعَزِيۡزِ الرَّحِيۡمِ
Tanziilal ‘Aziizir Rahiim
5. (sebagai wahyu) yang diturunkan oleh (Allah) Yang Mahaperkasa, Maha Penyayang,

لِتُنۡذِرَ قَوۡمًا مَّاۤ اُنۡذِرَ اٰبَآؤُهُمۡ فَهُمۡ غٰفِلُوۡنَ
Litunzira qawmam maaa unzira aabaaa’uhum fahum ghaafiluun
6. agar engkau memberi peringatan kepada suatu kaum yang nenek moyangnya belum pernah diberi peringatan, karena itu mereka lalai.

لَقَدۡ حَقَّ الۡقَوۡلُ عَلٰٓى اَكۡثَرِهِمۡ فَهُمۡ لَا يُؤۡمِنُوۡنَ
Laqad haqqal qawlu ‘alaaa aksarihim fahum laa yu’minuun
7. Sungguh, pasti berlaku perkataan (hukuman) terhadap kebanyakan mereka, karena mereka tidak beriman.

اِنَّا جَعَلۡنَا فِىۡۤ اَعۡنَاقِهِمۡ اَغۡلٰلًا فَهِىَ اِلَى الۡاَ ذۡقَانِ فَهُمۡ مُّقۡمَحُوۡنَ
Innaa ja’alnaa fiii a’naaqihim aghlaalan fahiya ilal azqooni fahum muqmahuun
8. Sungguh, Kami telah memasang belenggu di leher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, karena itu mereka tertengadah.

وَجَعَلۡنَا مِنۡۢ بَيۡنِ اَيۡدِيۡهِمۡ سَدًّا وَّمِنۡ خَلۡفِهِمۡ سَدًّا فَاَغۡشَيۡنٰهُمۡ فَهُمۡ لَا يُبۡصِرُوۡنَ
Wa ja’alnaa mim baini aydiihim saddanw-wa min khalfihim saddan fa aghshai naahum fahum laa yubsiruun
9. Dan Kami jadikan di hadapan mereka sekat (dinding) dan di belakang mereka juga sekat, dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.

وَسَوَآءٌ عَلَيۡهِمۡ ءَاَنۡذَرۡتَهُمۡ اَمۡ لَمۡ تُنۡذِرۡهُمۡ لَا يُؤۡمِنُوۡنَ
Wa sawaaa’un ‘alaihim ‘a-anzartahum am lam tunzirhum laa yu’minuun
10. Dan sama saja bagi mereka, apakah engkau memberi peringatan kepada mereka atau engkau tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman juga.

اِنَّمَا تُنۡذِرُ مَنِ اتَّبَعَ الذِّكۡرَ وَخَشِىَ الرَّحۡمٰنَ بِالۡغَيۡبِۚ فَبَشِّرۡهُ بِمَغۡفِرَةٍ وَّاَجۡرٍ كَرِيۡمٍ
Innamaa tunziru manit taba ‘az-Zikra wa khashiyar Rahmaana bilghaib, fabashshirhu bimaghfiratinw-wa ajrin kariim
11. Sesungguhnya engkau hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pengasih, walaupun mereka tidak melihat-Nya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia.

اِنَّا نَحۡنُ نُحۡىِ الۡمَوۡتٰى وَنَكۡتُبُ مَا قَدَّمُوۡا وَاٰثَارَهُمۡؕؔ وَكُلَّ شَىۡءٍ اَحۡصَيۡنٰهُ فِىۡۤ اِمَامٍ مُّبِيۡنٍ
Innaa Nahnu nuhyil mawtaa wa naktubu maa qaddamuu wa aasaarahum; wa kulla shai’in ahsainaahu fiii Imaamim Mubiin
12. Sungguh, Kamilah yang menghidupkan orang-orang yang mati, dan Kamilah yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka (tinggalkan). Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab yang jelas (Lauh Mahfuzh).

وَاضۡرِبۡ لَهُمۡ مَّثَلًا اَصۡحٰبَ الۡقَرۡيَةِ ‌ۘ اِذۡ جَآءَهَا الۡمُرۡسَلُوۡنَۚ
Wadrib lahum masalan Ashaabal Qaryatih; iz jaaa’ahal mursaluun
13. Dan buatlah suatu perumpamaan bagi mereka, yaitu penduduk suatu negeri, ketika utusan-utusan datang kepada mereka;

اِذۡ اَرۡسَلۡنَاۤ اِلَيۡهِمُ اثۡنَيۡنِ فَكَذَّبُوۡهُمَا فَعَزَّزۡنَا بِثَالِثٍ فَقَالُـوۡۤا اِنَّاۤ اِلَيۡكُمۡ مُّرۡسَلُوۡنَ
Iz arsalnaaa ilaihimusnaini fakazzabuuhumaa fa’azzaznaa bisaalisin faqooluuu innaaa ilaikum mursaluun
14. (yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga (utusan itu) berkata, “Sungguh, kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu.”

قَالُوۡا مَاۤ اَنۡـتُمۡ اِلَّا بَشَرٌ مِّثۡلُـنَا ۙ وَمَاۤ اَنۡزَلَ الرَّحۡمٰنُ مِنۡ شَىۡءٍۙ اِنۡ اَنۡـتُمۡ اِلَّا تَكۡذِبُوۡنَ
Qooluu maaa antum illaa basharum mislunaa wa maaa anzalar Rahmaanu min shai’in in antum illaa takzibuun
15. Mereka (penduduk negeri) menjawab, “Kamu ini hanyalah manusia seperti kami, dan (Allah) Yang Maha Pengasih tidak menurunkan sesuatu apa pun; kamu hanyalah pendusta belaka.”

قَالُوۡا رَبُّنَا يَعۡلَمُ اِنَّاۤ اِلَيۡكُمۡ لَمُرۡسَلُوۡنَ
Qooluu Rabbunaa ya’lamu innaaa ilaikum lamursaluun
16. Mereka berkata, “Tuhan kami mengetahui sesungguhnya kami adalah utusan-utusan(-Nya) kepada kamu.

وَمَا عَلَيۡنَاۤ اِلَّا الۡبَلٰغُ الۡمُبِيۡنُ
Wa maa ‘alainaaa illal balaaghul mubiin
17. Dan kewajiban kami hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas.”

قَالُـوۡۤا اِنَّا تَطَيَّرۡنَا بِكُمۡۚ لَٮِٕنۡ لَّمۡ تَنۡتَهُوۡا لَنَرۡجُمَنَّكُمۡ وَلَيَمَسَّنَّكُمۡ مِّنَّا عَذَابٌ اَلِيۡمٌ
Qooluu innaa tataiyarnaa bikum la’il-lam tantahuu lanar jumannakum wa la-yamassan nakum minnaa ‘azaabun aliim
18. Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu. Sungguh, jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami rajam kamu dan kamu pasti akan merasakan siksaan yang pedih dari kami.”

قَالُوۡا طٰۤٮِٕـرُكُمۡ مَّعَكُمۡؕ اَٮِٕنۡ ذُكِّرۡتُمۡ ؕ بَلۡ اَنۡـتُمۡ قَوۡمٌ مُّسۡرِفُوۡنَ
Qooluu taaa’irukum ma’akum; a’in zukkirtum; bal antum qawmum musrifuun
19. Mereka (utusan-utusan) itu berkata, “Kemalangan kamu itu adalah karena kamu sendiri. Apakah karena kamu diberi peringatan? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas.”

وَجَآءَ مِنۡ اَقۡصَا الۡمَدِيۡنَةِ رَجُلٌ يَّسۡعٰى قَالَ يٰقَوۡمِ اتَّبِعُوا الۡمُرۡسَلِيۡنَۙ‏
Wa jaaa’a min aqsal madiinati rajuluny yas’aa qoola yaa qawmit tabi’ul mursaliin
20. Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki dengan bergegas dia berkata, “Wahai kaumku! Ikutilah utusan-utusan itu.

اتَّبِعُوۡا مَنۡ لَّا يَسۡــٴَــلُكُمۡ اَجۡرًا وَّهُمۡ مُّهۡتَدُوۡنَ
Ittabi’uu mal-laa yas’alukum ajranw-wa hum muhtaduun
21. Ikutilah orang yang tidak meminta imbalan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.

وَمَا لِىَ لَاۤ اَعۡبُدُ الَّذِىۡ فَطَرَنِىۡ وَاِلَيۡهِ تُرۡجَعُوۡنَ
Wa maa liya laaa a’budul lazii fataranii wa ilaihi turja’uun
22. Dan tidak ada alasan bagiku untuk tidak menyembah (Allah) yang telah menciptakanku dan hanya kepada-Nyalah kamu akan dikembalikan.

ءَاَ تَّخِذُ مِنۡ دُوۡنِهٖۤ اٰلِهَةً اِنۡ يُّرِدۡنِ الرَّحۡمٰنُ بِضُرٍّ لَّا تُغۡنِ عَنِّىۡ شَفَاعَتُهُمۡ شَيۡـــًٔا وَّلَا يُنۡقِذُوۡنِ‌ۚ
‘A-attakhizu min duunihiii aalihatan iny-yuridnir Rahmaanu bidurril-laa tughni ‘annii shafaa ‘atuhum shai ‘anw-wa laa yunqizuun
23. Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selain-Nya? Jika (Allah) Yang Maha Pengasih menghendaki bencana terhadapku, pasti pertolongan mereka tidak berguna sama sekali bagi diriku dan mereka (juga) tidak dapat menyelamatkanku.

اِنِّىۡۤ اِذًا لَّفِىۡ ضَلٰلٍ مُّبِيۡنٍ
Inniii izal-lafii dalaa-lim-mubiin
24. Sesungguhnya jika aku (berbuat) begitu, pasti aku berada dalam kesesatan yang nyata.

اِنِّىۡۤ اٰمَنۡتُ بِرَبِّكُمۡ فَاسۡمَعُوۡنِؕ‏
Inniii aamantu bi Rabbikum fasma’uun
25. Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu; maka dengarkanlah (pengakuan keimanan)-ku.”

قِيۡلَ ادۡخُلِ الۡجَـنَّةَ ؕ قَالَ يٰلَيۡتَ قَوۡمِىۡ يَعۡلَمُوۡنَۙ
Qiilad khulil Jannnah; qoola yaa laita qawmii ya’lamuun
26. Dikatakan (kepadanya), “Masuklah ke surga.” Dia (laki-laki itu) berkata, “Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui,

بِمَا غَفَرَلِىۡ رَبِّىۡ وَجَعَلَنِىۡ مِنَ الۡمُكۡرَمِيۡنَ
Bimaa ghafara lii Rabbii wa ja’alanii minal mukramiin
27. apa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang telah dimuliakan.”

وَمَاۤ اَنۡزَلۡنَا عَلٰى قَوۡمِهٖ مِنۡۢ بَعۡدِهٖ مِنۡ جُنۡدٍ مِّنَ السَّمَآءِ وَمَا كُـنَّا مُنۡزِلِيۡنَ
Wa maaa anzalnaa ‘alaa qawmihii mim ba’dihii min jundim minas-samaaa’i wa maa kunnaa munziliin
28. Dan setelah dia (meninggal), Kami tidak menurunkan suatu pasukan pun dari langit kepada kaumnya, dan Kami tidak perlu menurunkannya.

اِنۡ كَانَتۡ اِلَّا صَيۡحَةً وَّاحِدَةً فَاِذَا هُمۡ خٰمِدُوۡنَ
In kaanat illaa saihatanw waahidatan fa-izaa hum khaamiduun
29. Tidak ada siksaan terhadap mereka melainkan dengan satu teriakan saja; maka seketika itu mereka mati.

يٰحَسۡرَةً عَلَى الۡعِبَادِ ؔ‌ۚ مَا يَاۡتِيۡهِمۡ مِّنۡ رَّسُوۡلٍ اِلَّا كَانُوۡا بِهٖ يَسۡتَهۡزِءُوۡنَ
Yaa hasratan ‘alal ‘ibaad; maa yaatiihim mir Rasuulin illaa kaanuu bihii yastahzi ‘uun
30. Alangkah besar penyesalan terhadap hamba-hamba itu, setiap datang seorang rasul kepada mereka, mereka selalu memperolok-olokkannya.

اَلَمۡ يَرَوۡا كَمۡ اَهۡلَـكۡنَا قَبۡلَهُمۡ مِّنَ الۡقُرُوۡنِ اَنَّهُمۡ اِلَيۡهِمۡ لَا يَرۡجِعُوۡنَؕ
Alam yaraw kam ahlak naa qablahum minal quruuni annahum ilaihim laa yarji’uun
31. Tidakkah mereka mengetahui berapa banyak umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan. Orang-orang (yang telah Kami binasakan) itu tidak ada yang kembali kepada mereka.

وَاِنۡ كُلٌّ لَّمَّا جَمِيۡعٌ لَّدَيۡنَا مُحۡضَرُوۡنَ
Wa in kullul lammaa jamii’ul-ladainaa muhdaruun
32. Dan setiap (umat), semuanya akan dihadapkan kepada Kami.

وَاٰيَةٌ لَّهُمُ الۡاَرۡضُ الۡمَيۡتَةُ ۖۚ اَحۡيَيۡنٰهَا وَاَخۡرَجۡنَا مِنۡهَا حَبًّا فَمِنۡهُ يَاۡكُلُوۡنَ
Wa Aayatul lahumul ardul maitatu ahyainaahaa wa akhrajnaa minhaa habban faminhu yaakuluun
33. Dan suatu tanda (kebesaran Allah) bagi mereka adalah bumi yang mati (tandus). Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan darinya biji-bijian, maka dari (biji-bijian) itu mereka makan.

وَجَعَلۡنَا فِيۡهَا جَنّٰتٍ مِّنۡ نَّخِيۡلٍ وَّاَعۡنَابٍ وَّفَجَّرۡنَا فِيۡهَا مِنَ الۡعُيُوۡنِۙ
Wa ja’alnaa fiihaa jannaatim min nakhiilinw wa a’naabinw wa fajjarnaa fiiha minal ‘uyuun
34. Dan Kami jadikan padanya di bumi itu kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air,

لِيَاۡكُلُوۡا مِنۡ ثَمَرِهٖ ۙ وَمَا عَمِلَـتۡهُ اَيۡدِيۡهِمۡ‌ ؕ اَفَلَا يَشۡكُرُوۡنَ
Liyaakuluu min samarihii wa maa ‘amilat-hu aidiihim; afalaa yashkuruun
35. agar mereka dapat makan dari buahnya, dan dari hasil usaha tangan mereka. Maka mengapa mereka tidak bersyukur?

سُبۡحٰنَ الَّذِىۡ خَلَقَ الۡاَزۡوَاجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنۡۢبِتُ الۡاَرۡضُ وَمِنۡ اَنۡفُسِهِمۡ وَمِمَّا لَا يَعۡلَمُوۡنَ‏
Subhaanal lazii khalaqal azwaaja kullahaa mimmaa tumbitul ardu wa min anfusihim wa mimmaa laa ya’lamuun
36. Mahasuci (Allah) yang telah menciptakan semuanya berpasang-pasangan, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka sendiri, maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.

وَاٰيَةٌ لَّهُمُ الَّيۡلُ ۖۚ نَسۡلَخُ مِنۡهُ النَّهَارَ فَاِذَا هُمۡ مُّظۡلِمُوۡنَۙ
Wa Aayatul lahumul lailu naslakhu minhun nahaara fa-izaa hum muzlimuun
37. Dan suatu tanda (kebesaran Allah) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari (malam) itu, maka seketika itu mereka (berada dalam) kegelapan,

وَالشَّمۡسُ تَجۡرِىۡ لِمُسۡتَقَرٍّ لَّهَا ‌ؕ ذٰلِكَ تَقۡدِيۡرُ الۡعَزِيۡزِ الۡعَلِيۡمِؕ‏
Wash-shamsu tajrii limustaqarril lahaa; zaalika taqdiirul ‘Aziizil Aliim
38. dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan (Allah) Yang Mahaperkasa, Maha Mengetahui.

وَالۡقَمَرَ قَدَّرۡنٰهُ مَنَازِلَ حَتّٰى عَادَ كَالۡعُرۡجُوۡنِ الۡقَدِيۡمِ
Walqamara qaddarnaahu manaazila hattaa ‘aada kal’ur juunil qadiim
39. Dan telah Kami tetapkan tempat peredaran bagi bulan, sehingga (setelah ia sampai ke tempat peredaran yang terakhir) kembalilah ia seperti bentuk tandan yang tua.

لَا الشَّمۡسُ يَنۡۢبَغِىۡ لَهَاۤ اَنۡ تُدۡرِكَ الۡقَمَرَ وَلَا الَّيۡلُ سَابِقُ النَّهَارِ‌ؕ وَكُلٌّ فِىۡ فَلَكٍ يَّسۡبَحُوۡنَ
Lash shamsu yambaghii lahaaa an tudrikal qamara wa lal lailu saabiqun nahaar; wa kullun fii falaki yasbahuun
40. Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya.

وَاٰيَةٌ لَّهُمۡ اَنَّا حَمَلۡنَا ذُرِّيَّتَهُمۡ فِى الۡفُلۡكِ الۡمَشۡحُوۡنِۙ
Wa Aayatul lahum annaa hamalnaa zurriyatahum fil fulkil mashhuun
41. Dan suatu tanda (kebesaran Allah) bagi mereka adalah bahwa Kami angkut keturunan mereka dalam kapal yang penuh muatan,

وَخَلَقۡنَا لَهُمۡ مِّنۡ مِّثۡلِهٖ مَا يَرۡكَبُوۡنَ
Wa khalaqnaa lahum mim-mislihii maa yarkabuun
42. dan Kami ciptakan (juga) untuk mereka (angkutan lain) seperti apa yang mereka kendarai.

وَاِنۡ نَّشَاۡ نُغۡرِقۡهُمۡ فَلَا صَرِيۡخَ لَهُمۡ وَلَا هُمۡ يُنۡقَذُوۡنَۙ
Wa in nashaa nughriqhum falaa sariikha lahum wa laa hum yunqazuun
43. Dan jika Kami menghendaki, Kami tenggelamkan mereka. Maka tidak ada penolong bagi mereka dan tidak (pula) mereka diselamatkan,

اِلَّا رَحۡمَةً مِّنَّا وَمَتَاعًا اِلٰى حِيۡنٍ‏
Illaa rahmatam minnaa wa mataa’an ilaa hiin
44. melainkan (Kami selamatkan mereka) karena rahmat yang besar dari Kami dan untuk memberikan kesenangan hidup sampai waktu tertentu.

وَاِذَا قِيۡلَ لَهُمُ اتَّقُوۡا مَا بَيۡنَ اَيۡدِيۡكُمۡ وَمَا خَلۡفَكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُوۡنَ
Wa izaa qiila lahumuttaquu maa baina aidiikum wa maa khalfakum la’allakum turhamuun
45. Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Takutlah kamu akan siksa yang di hadapanmu (di dunia) dan azab yang akan datang (akhirat) agar kamu mendapat rahmat.”

وَمَا تَاۡتِيۡهِمۡ مِّنۡ اٰيَةٍ مِّنۡ اٰيٰتِ رَبِّهِمۡ اِلَّا كَانُوۡا عَنۡهَا مُعۡرِضِيۡنَ
Wa maa taatiihim min aayatim min ayataati Rabbihim illaa kaanuu ‘anhaa mu’ridiin
46. Dan setiap kali suatu tanda dari tanda-tanda (kebesaran) Tuhan datang kepada mereka, mereka selalu berpaling darinya.

وَاِذَا قِيۡلَ لَهُمۡ اَنۡفِقُوۡا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللّٰهُ ۙ قَالَ الَّذِيۡنَ كَفَرُوۡا لِلَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡۤا اَنُطۡعِمُ مَنۡ لَّوۡ يَشَآءُ اللّٰهُ اَطۡعَمَهٗٓ ۖ اِنۡ اَنۡـتُمۡ اِلَّا فِىۡ ضَلٰلٍ مُّبِيۡنٍ‏
Wa izaa qiila lahum anfiquu mimmaa razaqakumul laahu qoolal laziina kafaruu lillaziina aamanuuu anut’imu mal-law yashaaa’ul laahu at’amahuuu in antum illaa fii dalaalim mubiin
47. Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Infakkanlah sebagian rezeki yang diberikan Allah kepadamu,” orang-orang yang kafir itu berkata kepada orang-orang yang beriman, “Apakah pantas kami memberi makan kepada orang-orang yang jika Allah menghendaki Dia akan memberinya makan? Kamu benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”

وَيَقُوۡلُوۡنَ مَتٰى هٰذَا الۡوَعۡدُ اِنۡ كُنۡتُمۡ صٰدِقِيۡنَ
Wa yaquuluuna mataa haazal wa’du in kuntum saadiqiin
48. Dan mereka (orang-orang kafir) berkata, “Kapan janji (hari berbangkit) itu (terjadi) jika kamu orang yang benar?”

مَا يَنۡظُرُوۡنَ اِلَّا صَيۡحَةً وَّاحِدَةً تَاۡخُذُهُمۡ وَهُمۡ يَخِصِّمُوۡنَ
Maa yanzuruuna illaa saihatanw waahidatan taa khuzuhum wa hum yakhissimuun
49. Mereka hanya menunggu satu teriakan, yang akan membinasakan mereka ketika mereka sedang bertengkar.

فَلَا يَسۡتَطِيۡعُوۡنَ تَوۡصِيَةً وَّلَاۤ اِلٰٓى اَهۡلِهِمۡ يَرۡجِعُوۡنَ
Falaa yastatii’uuna taw siyatanw-wa laaa ilaaa ahlihim yarji’uun
50. Sehingga mereka tidak mampu membuat suatu wasiat dan mereka (juga) tidak dapat kembali kepada keluarganya.

وَنُفِخَ فِى الصُّوۡرِ فَاِذَا هُمۡ مِّنَ الۡاَجۡدَاثِ اِلٰى رَبِّهِمۡ يَنۡسِلُوۡنَ
Wa nufikha fis-suuri faizaa hum minal ajdaasi ilaa Rabbihim yansiluun
51. Lalu ditiuplah sangkakala, maka seketika itu mereka keluar dari kuburnya (dalam keadaan hidup), menuju kepada Tuhannya.

قَالُوۡا يٰوَيۡلَنَا مَنۡۢ بَعَثَنَا مِنۡ مَّرۡقَدِنَاۘؔ هٰذَا مَا وَعَدَ الرَّحۡمٰنُ وَصَدَقَ الۡمُرۡسَلُوۡنَ
Qooluu yaa wailanaa mam ba’asanaa mim marqadinaa; haaza maa wa’adar Rahmanu wa sadaqal mursaluun
52. Mereka berkata, “Celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?” Inilah yang dijanjikan (Allah) Yang Maha Pengasih dan benarlah rasul-rasul(-Nya).

اِنۡ كَانَتۡ اِلَّا صَيۡحَةً وَّاحِدَةً فَاِذَا هُمۡ جَمِيۡعٌ لَّدَيۡنَا مُحۡضَرُوۡنَ
In kaanat illaa saihatanw waahidatan fa-izaa hum jamii’ul ladainaa muhdaruun
53. Teriakan itu hanya sekali saja, maka seketika itu mereka semua dihadapkan kepada Kami (untuk dihisab).

فَالۡيَوۡمَ لَا تُظۡلَمُ نَفۡسٌ شَيۡـــًٔا وَّلَا تُجۡزَوۡنَ اِلَّا مَا كُنۡتُمۡ تَعۡمَلُوۡنَ
Fal-Yawma laa tuzlamu nafsun shai’anw-wa laa tujzawna illaa maa kuntum ta’maluun
54. Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikit pun dan kamu tidak akan diberi balasan, kecuali sesuai dengan apa yang telah kamu kerjakan.

اِنَّ اَصۡحٰبَ الۡجَـنَّةِ الۡيَوۡمَ فِىۡ شُغُلٍ فٰكِهُوۡنَ‌ۚ
Inna Ashaabal jannatil Yawma fii shughulin faakihuun
55. Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka).

هُمۡ وَاَزۡوَاجُهُمۡ فِىۡ ظِلٰلٍ عَلَى الۡاَرَآٮِٕكِ مُتَّكِـــُٔوۡنَ
Hum wa azwaajuhum fii zilaalin ‘alal araaa’iki muttaki’uun
56. Mereka dan pasangan-pasangannya berada dalam tempat yang teduh, bersandar di atas dipan-dipan.

لَهُمۡ فِيۡهَا فَاكِهَةٌ وَّلَهُمۡ مَّا يَدَّعُوۡنَ‌
Lahum fiihaa faakiha tunw-wa lahum maa yadda’uun
57. Di surga itu mereka memperoleh buah-buahan dan memperoleh apa saja yang mereka inginkan.

سَلٰمٌ قَوۡلًا مِّنۡ رَّبٍّ رَّحِيۡمٍ
Salaamun qawlam mir Rabbir Rahiim
58. (Kepada mereka dikatakan), “Salam,” sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang.

وَامۡتَازُوا الۡيَوۡمَ اَيُّهَا الۡمُجۡرِمُوۡنَ
Wamtaazul Yawma ayyuhal mujrimuun
59. Dan (dikatakan kepada orang-orang kafir), “Berpisahlah kamu (dari orang-orang mukmin) pada hari ini, wahai orang-orang yang berdosa!

اَلَمۡ اَعۡهَدۡ اِلَيۡكُمۡ يٰبَنِىۡۤ اٰدَمَ اَنۡ لَّا تَعۡبُدُوا الشَّيۡطٰنَ‌‌ۚ اِنَّهٗ لَـكُمۡ عَدُوٌّ مُّبِيۡنٌ
Alam a’had ilaikum yaa Baniii Aadama al-laa ta’budush Shaitaana innahuu lakum ‘aduwwum mubiin
60. Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu wahai anak cucu Adam agar kamu tidak menyembah setan? Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagi kamu,

وَّاَنِ اعۡبُدُوۡنِىۡ ؔ‌ؕ هٰذَا صِرَاطٌ مُّسۡتَقِيۡمٌ
Wa ani’buduunii; haazaa Siraatum Mustaqiim
61. dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus.”

وَلَقَدۡ اَضَلَّ مِنۡكُمۡ جِبِلًّا كَثِيۡرًا‌ ؕ اَفَلَمۡ تَكُوۡنُوۡا تَعۡقِلُوۡنَ
Wa laqad adalla minkum jibillan kasiiraa; afalam takuunuu ta’qiluun
62. Dan sungguh, ia (setan itu) telah menyesatkan sebagian besar di antara kamu. Maka apakah kamu tidak mengerti?

هٰذِهٖ جَهَنَّمُ الَّتِىۡ كُنۡتُمۡ تُوۡعَدُوۡنَ‏
Haazihii Jahannamul latii kuntum tuu’aduun
63. Inilah (neraka) Jahanam yang dahulu telah diperingatkan kepadamu.

اِصۡلَوۡهَا الۡيَوۡمَ بِمَا كُنۡتُمۡ تَكۡفُرُوۡنَ
Islawhal Yawma bimaa kuntum takfuruun
64. Masuklah ke dalamnya pada hari ini karena dahulu kamu mengingkarinya.

اَلۡيَوۡمَ نَخۡتِمُ عَلٰٓى اَفۡوَاهِهِمۡ وَتُكَلِّمُنَاۤ اَيۡدِيۡهِمۡ وَتَشۡهَدُ اَرۡجُلُهُمۡ بِمَا كَانُوۡا يَكۡسِبُوۡنَ‏
Al-Yawma nakhtimu ‘alaaa afwaahihim wa tukallimunaaa aidiihim wa tashhadu arjuluhum bimaa kaanuu yaksibuun
65. Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; tangan mereka akan berkata kepada Kami dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.

وَلَوۡ نَشَآءُ لَـطَمَسۡنَا عَلٰٓى اَعۡيُنِهِمۡ فَاسۡتَبَقُوا الصِّرَاطَ فَاَنّٰى يُبۡصِرُوۡنَ
Wa law nashaaa’u lata masna ‘alaaa aiyunihim fasta baqus-siraata fa-annaa yubsiruun
66. Dan jika Kami menghendaki, pastilah Kami hapuskan penglihatan mata mereka; sehingga mereka berlomba-lomba (mencari) jalan. Maka bagaimana mungkin mereka dapat melihat?

وَلَوۡ نَشَآءُ لَمَسَخۡنٰهُمۡ عَلٰى مَكَانَتِهِمۡ فَمَا اسۡتَطَاعُوۡا مُضِيًّا وَّلَا يَرۡجِعُوۡنَ
Wa law nashaaa’u lamasakhnaahum ‘alaa makaanatihim famas-tataa’uu mudiyyanw-wa laa yarji’uun
67. Dan jika Kami menghendaki, pastilah Kami ubah bentuk mereka di tempat mereka berada; sehingga mereka tidak sanggup berjalan lagi dan juga tidak sanggup kembali.

وَمَنۡ نُّعَمِّرۡهُ نُـنَكِّسۡهُ فِى الۡخَـلۡقِ‌ؕ اَفَلَا يَعۡقِلُوۡنَ
Wa man nu ‘ammirhu nunakkishu fil-khalq; afalaa ya’qiluun
68. Dan barangsiapa Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada awal kejadian(nya). Maka mengapa mereka tidak mengerti?

وَمَا عَلَّمۡنٰهُ الشِّعۡرَ وَمَا يَنۡۢبَغِىۡ لَهٗؕ اِنۡ هُوَ اِلَّا ذِكۡرٌ وَّقُرۡاٰنٌ مُّبِيۡنٌۙ
Wa maa ‘allamnaahush shi’ra wa maa yambaghii lah; in huwa illaa zikrunw-wa Qur-aanum mubiin
69. Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah pantas baginya. Al-Qur’an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan Kitab yang jelas,

لِّيُنۡذِرَ مَنۡ كَانَ حَيًّا وَّيَحِقَّ الۡقَوۡلُ عَلَى الۡكٰفِرِيۡنَ
Liyunzira man kaana haiyanw-wa yahiqqal qawlu ‘alal-kaafiriin
70. agar dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup (hatinya) dan agar pasti ketetapan (azab) terhadap orang-orang kafir.

اَوَلَمۡ يَرَوۡا اَنَّا خَلَقۡنَا لَهُمۡ مِّمَّا عَمِلَتۡ اَيۡدِيۡنَاۤ اَنۡعَامًا فَهُمۡ لَهَا مٰلِكُوۡنَ‏
Awalam yaraw annaa khalaqnaa lahum mimmaa ‘amilat aidiinaaa an’aaman fahum lahaa maalikuun
71. Dan tidakkah mereka melihat bahwa Kami telah menciptakan hewan ternak untuk mereka, yaitu sebagian dari apa yang telah Kami ciptakan dengan kekuasaan Kami, lalu mereka menguasainya?

وَذَلَّـلۡنٰهَا لَهُمۡ فَمِنۡهَا رَكُوۡبُهُمۡ وَمِنۡهَا يَاۡكُلُوۡنَ
Wa zallalnaahaa lahum faminhaa rakuubuhum wa minhaa yaakuluun
72. Dan Kami menundukkannya (hewan-hewan itu) untuk mereka; lalu sebagiannya untuk menjadi tunggangan mereka dan sebagian untuk mereka makan.

وَلَهُمۡ فِيۡهَا مَنَافِعُ وَمَشَارِبُ‌ؕ اَفَلَا يَشۡكُرُوۡنَ
Wa lahum fiihaa manaa fi’u wa mashaarib; afalaa yashkuruun
73. Dan mereka memperoleh berbagai manfaat dan minuman darinya. Maka mengapa mereka tidak bersyukur?

وَاتَّخَذُوۡا مِنۡ دُوۡنِ اللّٰهِ اٰلِهَةً لَّعَلَّهُمۡ يُنۡصَرُوۡنَؕ
Wattakhazuu min duunil laahi aalihatal la’allahum yunsaruun
74. Dan mereka mengambil sesembahan selain Allah agar mereka mendapat pertolongan.

لَا يَسۡتَطِيۡعُوۡنَ نَصۡرَهُمۡۙ وَهُمۡ لَهُمۡ جُنۡدٌ مُّحۡضَرُوۡنَ‏
Laa yastatii’uuna nasrahum wa hum lahum jundum muhdaruun
75. Mereka (sesembahan) itu tidak dapat menolong mereka; padahal mereka itu menjadi tentara yang disiapkan untuk menjaga (sesembahan) itu.

فَلَا يَحۡزُنۡكَ قَوۡلُهُمۡ‌ۘ اِنَّا نَـعۡلَمُ مَا يُسِرُّوۡنَ وَمَا يُعۡلِنُوۡنَ
Falaa yahzunka qawluhum; innaa na’lamu maa yusirruuna wa maa yu’linuun
76. Maka jangan sampai ucapan mereka membuat engkau (Muhammad) bersedih hati. Sungguh, Kami mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka nyatakan.

اَوَلَمۡ يَرَ الۡاِنۡسَانُ اَنَّا خَلَقۡنٰهُ مِنۡ نُّطۡفَةٍ فَاِذَا هُوَ خَصِيۡمٌ مُّبِيۡنٌ‏
Awalam yaral insaanu annaa khalaqnaahu min nutfatin fa-izaa huwa khasiimum mubiin
77. Dan tidakkah manusia memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setetes mani, ternyata dia menjadi musuh yang nyata!

وَضَرَبَ لَـنَا مَثَلًا وَّ نَسِىَ خَلۡقَهٗ‌ ؕ قَالَ مَنۡ يُّحۡىِ الۡعِظَامَ وَهِىَ رَمِيۡمٌ
Wa daraba lanaa maslanw-wa nasiya khalqahuu qoola mai-yuhyil’izaama wa hiya ramiim
78. Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami dan melupakan asal kejadiannya; dia berkata, “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang, yang telah hancur luluh?”

قُلۡ يُحۡيِيۡهَا الَّذِىۡۤ اَنۡشَاَهَاۤ اَوَّلَ مَرَّةٍ‌ ؕ وَهُوَ بِكُلِّ خَلۡقٍ عَلِيۡمُ
Qul yuh yiihal laziii ansha ahaaa awwala marrah; wa Huwa bikulli khalqin ‘Aliim
79. Katakanlah (Muhammad), “Yang akan menghidupkannya ialah (Allah) yang menciptakannya pertama kali. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk,

اۨلَّذِىۡ جَعَلَ لَـكُمۡ مِّنَ الشَّجَرِ الۡاَخۡضَرِ نَارًا فَاِذَاۤ اَنۡـتُمۡ مِّنۡهُ تُوۡقِدُوۡنَ
Allazii ja’ala lakum minash shajaril akhdari naaran fa-izaaa antum minhu tuuqiduun
80. yaitu (Allah) yang menjadikan api untukmu dari kayu yang hijau, maka seketika itu kamu nyalakan (api) dari kayu itu.”

اَوَلَيۡسَ الَّذِىۡ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضَ بِقٰدِرٍ عَلٰٓى اَنۡ يَّخۡلُقَ مِثۡلَهُمۡؔؕ بَلٰی وَهُوَ الۡخَـلّٰقُ الۡعَلِيۡمُ
Awa laisal lazii khalaqas samaawaati wal arda biqoodirin ‘alaaa ai-yakhluqa mislahum; balaa wa Huwal Khallaaqul ‘Aliim
81. Dan bukankah (Allah) yang menciptakan langit dan bumi, mampu menciptakan kembali yang serupa itu (jasad mereka yang sudah hancur itu)? Benar, dan Dia Maha Pencipta, Maha Mengetahui.

اِنَّمَاۤ اَمۡرُهٗۤ اِذَاۤ اَرَادَ شَیْــٴً۬ــا اَنۡ يَّقُوۡلَ لَهٗ كُنۡ فَيَكُوۡنُ
Innamaa amruhuuu izaaa araada shai’an ai-yaquula lahuu kun fa-yakuun
82. Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu.

فَسُبۡحٰنَ الَّذِىۡ بِيَدِهٖ مَلَـكُوۡتُ كُلِّ شَىۡءٍ وَّاِلَيۡهِ تُرۡجَعُوۡنَ
Fa Subhaanal lazii biyadihii malakuutu kulli shai-inw-wa ilaihi turja’uun
83. Maka Mahasuci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu dan kepada-Nya kamu dikembalikan.

Demikian pembahasan tentang dia tahlil singkat. Semoga seluruh pembahasan di atas berguna untuk kamu.

sahabat bisa mendapatkan bacaan surat Yasin serta doa tahlil dengan buku-buku yg tersedia di Rizky Barokah.co.id

 

 

Sumber : https://www.gramedia.com/literasi/doa-tahlil/

Pengertian Hadits dan Al Quran Dan Sejarahnya

Al Quran An Nur Jumbo A3

Pengertian Hadits dan Al Quran – Al-Quran serta Hadits merupakan asal utama untuk umat islam di seluruh dunia buat menjalani kehidupan. Al-Quran merupakan karamah terbesar Nabi Muhammad SAW yg diturunkan kepadanya secara berangsur-angsur melalui perantara malaikat Jibril. tidak hanya Al-Quran, Allah juga menurunkan firman-firman nya kepada Nabi Muhammad yg disebut dengan hadits.

namun, ada beberapa hal yg memberbedakan hadits serta juga Al-Quran. Al-Quran sendiri wajib dipegang saat kita dalam keadaan suci dari hadas kecil atau hadas besar , sedangkan hadits boleh dibaca walaupun kita tidak sedang dalam keadaan suci. Ayat-Ayat Al Quran adalah ayat yang wajib dibaca waktu umat islam melaksanakan sholat, sedangkan hadits tidak boleh dibaca ketika sholat. Begitulah beberapa Perbedaan antara Al-Quran dan Hadits. buat mengetahui Al-Quran serta hadits lebih dalam, simak tulisan di bawah ini.

Pengertian Hadits dan Al Quran

Pengertian Hadits

istilah hadits berasal dari bahasa Arab yang mempunyai arti berita atau cerita, atau tentang. Hadits ialah catatan tradisi atau ucapan-ucapan Nabi Muhammad. Umat muslim meyakini bahwa hadits merupakan kata-kata, dan juga perbuatan serta persetujuan yg dilakukan oleh Nabi Muhammad. ketika hadits-hadits ini terkumpul, maka timbul gambaran yg lebih besar atau disebut dengan sunnah.

Hadits ini diterima sang umat muslim menjadi asal hukum agama serta panduan moral sesudah Al-Quran. Hadits atau sunnah ini bisa didefinisikan menjadi biografi Nabi Muhammad yang diabadikan oleh ingatan para sahabat-sahabatnya. Perkembangan hadits adalah elemen paling penting selama 3 abad pertama pada sejarah islam.

Hadits juga diklaim sebagai tulang punggung dalam peradaban islam serta di dalam agama islam otoritas hadits menjadi asal hukum agama dan pedoman hidup menempati urutan ke 2 setelah kitab suci Al-Quran. Otoritas hadits berasal dari Al-Quran yg memerintahkan umat islam buat mentaati dan mengikuti ucapan Nabi Muhammad. Hal ini tertera pada surat An-nur ayat 54 dan surat Al-Ahzab ayat 21, yg berbunyi,

قُلْ اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَۚ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَاِنَّمَا عَلَيْهِ مَا حُمِّلَ وَعَلَيْكُمْ مَّا حُمِّلْتُمْۗ وَاِنْ تُطِيْعُوْهُ تَهْتَدُوْاۗ وَمَا عَلَى الرَّسُوْلِ اِلَّا الْبَلٰغُ الْمُبِيْنُ

“Katakanlah, “Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul; Bila kamu berpaling, maka sesungguhnya kewajiban Rasul (Muhammad) itu hanyalah apa yg dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu hanyalah apa yang dibebankan kepadamu. Bila kamu taat kepadanya, niscaya kamu menerima petunjuk. Kewajiban Rasul hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan jelas.”

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ

“sungguh, telah terdapat pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yg baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah serta (kedatangan) hari Kiamat dan yg banyak mengingat Allah.”

Meskipun jumlah ayat yg berkaitan dengan hukum dalam Al-Quran tidak terlalu banyak, hadits memberikan arahan tentang segala hal mulai dari rincian kewajiban ritual seperti mandi, wudhu, dan tata cara sholat, sampai bentuk salam yang benar hingga pentingnya berbuat baik pada para budak. Jadi, sebagian besar hukum syariah atau hukum islam berasal dari hadits, bukan dari Al-Quran.

berbeda dengan Al-Quran, tidak semua umat muslim meyakini akan orisinalitas hadits atau tidak percaya seluruh catatan hadits. Hal ini datang sebab hadits tak ditulis oleh para pengikut Nabi Muhammad segera sesudah kematiannya, tetapi hadits ditulis beberapa generasi kemudian. Hadits disusun serta dikumpulkan menjadi kumpulan besar literatur Islam. Koleksi-koleksi hadits yang berbeda akan sebagai pemberbeda dari berbagai cabang agama Islam. untuk memahami berbagai kumpulan hadits karya berbagai imam terkemuka, dapat membaca Ensiklopedia Hadits Ibadah.

Pengertian Hadits dan Al Quran

Sejarah Hadits

istilah hadits berasal dari akar bahasa Arab h-d-th yang memiliki arti ‘terjadi’ atau ‘melaporkan’ atau ‘berita’. Hal ini bisa diartikan bahwa hadits merupakan sebuah berita atau catatan. dari hadits ini datanglah sunnah atau arahan yang mana umat Islam mengimani dan menyesuaikan diri dalam perintah yang tertulis dalam hadits sesuai catatan atau perilaku Nabi Muhammad.

Para sejarawan muslim berkata bahwa Khalifah Utsman bin Affan (Khalifah ketiga dari kekhalifahan rashidun) yg dulunya selaku sekretaris Nabi Muhammad, diyakini mendesak umat Islam untuk mencatat hadits-hadits seperti yg disarankan oleh Nabi Muhammad kepada pengikutnya untuk menuliskan kata-kata serta tindakannya. tetapi sayangnya kerja keras Khalifah Utsman bin Affan terpotong karena peristiwa pembunuhannya di tangan tentara di tahun 656 M. menurut sejarawan, beberapa koleksi hadits dikumpulkan pada zaman Umayyah.

dalam hukum Islam, penggunaan hadits yg ada seperti yang dipahami sekarang-sekarang ini datang secara bertahap. Mazhab-mazhab hukum Islam memakai hukum-hukum dari sahabat Nabi Muhammad, keputusan para Khalifah serta praktek-praktek yg sudah diterima secara umum oleh para ahli hukum Islam. Menjelang kematiannya, Khalifah Umar bin Khattab memerintahkan umat Islam untuk mencari petunjuk dari Al-Quran.

Penggabungan hadits Nabi ke dalam Islam secara sedikit demi sedikit terjadi. Abu Abdullah Muhammad bin idris al-Shafii atau yg biasa dikenal dengan Al-Syafii menekankan otoritas akhir dari sebuah hadits Nabi Muhammad, sehingga Al-Quran digunakan untuk ditafsirkan ke dalam hadits, bukan sebaliknya. Al-Syafii ini menegaskan bahwa sunnah Nabi serta Al-Quran berdiri secara sejajar, sebab menurutnya perintah Nabi Muhammad merupakan perintah tuhan.

buat melihat kumpulan hadits-hadits shahih bisa dilihat dalam buku Hadits Shahih Bukhari dan Muslim yg disusun oleh Ulama Muhammad Fuád Abdul Baqi.

Pengertian Al-Quran

Al Quran Samsia Per juzAl-Quran merupakan istilah dari bahasa arab yang memiliki arti bacaan. Al-Quran diturunkan oleh Allah melalui malaikat Jibril. Al-Quran diturunkan secara berangsur-angsur di kota besar Mekah serta Madinah Sejak tahun 610 M sampai kematian Nabi Muhammad tiba yaitu di tahun 632 M.

istilah Al-Quran berasal dari kata kerja qara’a yg artinya membaca. kata Al-Quran pula tertulis di dalam Al-Quran itu sendiri, bahkan kata Al-Quran muncul sebanyak 70 kali, salah satunya tercantum pada surat At-taubah ayat 111 yang berbunyi,

اِنَّ اللّٰهَ اشْتَرٰى مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ اَنْفُسَهُمْ وَاَمْوَالَهُمْ بِاَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَۗ يُقَاتِلُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ فَيَقْتُلُوْنَ وَيُقْتَلُوْنَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِى التَّوْرٰىةِ وَالْاِنْجِيْلِ وَالْقُرْاٰنِۗ وَمَنْ اَوْفٰى بِعَهْدِهٖ مِنَ اللّٰهِ فَاسْتَبْشِرُوْا بِبَيْعِكُمُ الَّذِيْ بَايَعْتُمْ بِهٖۗ وَذٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ

“Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri mau-pun harta mereka dengan memberikan surga buat mereka. Mereka berperang di jalan Allah; sehingga mereka membunuh atau terbunuh, (menjadi) janji yg benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur’an. dan siapakah yg lebih menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yg telah kamu lakukan itu, serta demikian itulah kemenangan yg agung.”

Isi atau tubuh dari Al-Quran disusun dalam bentuk bahasa Arab Klasik, hal ini juga diyakini merupakan transkrip literal dari Allah SWT yang kemurnian atau keasliannya sangat terjaga. Hal ini bahkan dijanjikan pada Al-Quran itu sendiri di surat Al-Buruj ayat 21-22 yg berbunyi:

بَلْ هُوَ قُرْاٰنٌ مَّجِيْدٌۙ
فِيْ لَوْحٍ مَّحْفُوْظٍ

“Bahkan (yang didustakan itu) ialah Al-Quran yang mulia.”
“yang (tersimpan) dalam (tempat) yg terjaga (Lauh Mahfuzh).”

Tentunya, istilah Al-Quran yg muncul ini dalam bentuk yang berbeda dengan berbagai arti. banyak ahli yg mengatakan bahwa istilah Al-Quran ialah padanan dalam bahasa Syiria yg artinya adalah ‘membaca kitab suci atau pelajaran’. Terlepas dari itu, istilah Al-Quran menjadi kata dalam bahasa Arab.

dalam ayat lain. istilah Al-Quran merujuk pada satu hal yang dibacakan oleh Nabi Muhammad. Konteks ini terlihat pada surat Al-Araf ayat 203-204 yg berbunyi,

وَاِذَا لَمْ تَأْتِهِمْ بِاٰيَةٍ قَالُوْا لَوْلَا اجْتَبَيْتَهَاۗ قُلْ اِنَّمَآ اَتَّبِعُ مَا يُوْحٰٓى اِلَيَّ مِنْ رَّبِّيْۗ هٰذَا بَصَاۤىِٕرُ مِنْ رَّبِّكُمْ وَهُدًى وَّرَحْمَةٌ لِّقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ
وَاِذَا قُرِئَ الْقُرْاٰنُ فَاسْتَمِعُوْا لَهٗ وَاَنْصِتُوْا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

“dan apabila kamu (Muhammad) tidak membacakan suatu ayat pada mereka, mereka berkata, “Mengapa tidak engkau buat sendiri ayat itu?” Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya saya hanya mengikuti apa yg diwahyukan Tuhanku kepadaku. (Al-Qur’an) ini merupakan bukti-bukti yg nyata dari Tuhanmu, petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yg beriman.”

“dan bila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah dan diamlah, agar kamu mendapat rahmat.”

Al-Quran menggambarkan dirinya sendiri sebagai pemberbeda atau Al-Furqan, kitab utama atau Ummul kitab , Penuntun atau Huda, kebijaksanaan atau hikmah, Pengingat atau Dzikir, dan sesuatu yg diturunkan dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yg rendah atau Tanzil.

Al-Quran dapat diartikan dalam aneka macam perspektif, yang dapat kamu pelajari di kitab tahu Al-Qur’an di Masa Post Truth oleh Prof. K.H. Nasaruddin Umar.

Isi dari Al-Quran

Al-Quran mempunyai isi yang lebih pendek dibandingkan dengan perjanjian baru atau juga kitab Ibrani. Al-Quran dibagi menjadi 114 surat, atau bisa disebut dengan bab. pada bab atau surat itu, memiliki ayat atau butir-butir yg Berbeda-beda. Surat di dalam Al-Quran yang pertama merupakan Al-Fatihah, namun bukan berarti Al-Fatihah merupakan surat yang diturunkan pertama kali oleh Allah SWT. Surat yang paling panjang adalah surat ke 2 atau surat Al-Baqarah dan surat yg paling terpendek ialah surat Al-Kautsar.

Nama-nama surat di dalam Al-Quran diberikan dengan istilah yg paling banyak muncul di dalam surat tersebut, tetapi hal ini tidak berlaku dalam seluruh surat di Al-Quran. Surat dibagi lagi menjadi ayat-ayat yang secara literalnya mempunyai arti ‘tanda’. Ayat di dalam Al-Quran terdiri dari 6.236 ayat. Ayat di dalam Al-Quran juga mempunyai panjang yg Berbeda-beda, ada yg sangat panjang seperti paragraf, ada pula yang hanya terdiri dari beberapa kalimat.

di dalam ayat-ayat Al Quran, umumnya menyebut dirinya sebagai ucapan ialhi yg menggunakan kata ganti orang pertama tunggal serta jamak yaitu saya dan kami, istilah ganti ini secara jelas mengacu pada Allah SWT yg Maha Esa. banyak ayat-ayat Al Quran yg menggambarkan penghakiman di mana Allah SWT akan menyerahkan setiap manusia ke surga atau neraka sesuai dengan amalannya di dunia.

tidak hanya itu, terdapat pula beberapa narasi yang berpusat kepada manusia-manusia Istimewa atau alkitabiah seperti Nabi Adam, Musa, Ibrahim, Maryam dan -lain-lain. terdapat pula satu surat yang mencakup luas cerita perihal nabi Yusuf, Surat ke-12 di dalam Al-Quran. Al-Quran juga mengatakan bahwa dia merupakan penyempurna serta membenarkan kitab-kitab terdahulu, hal ini tercantum dalam surat Al-Baqarah ayat 97 yg berbunyi,

قُلْ مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِّجِبْرِيْلَ فَاِنَّهٗ نَزَّلَهٗ عَلٰى قَلْبِكَ بِاِذْنِ اللّٰهِ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَهُدًى وَّبُشْرٰى لِلْمُؤْمِنِيْنَ

“Katakanlah (Muhammad), “Barangsiapa menjadi musuh Jibril, maka (ketahuilah) bahwa dialah yg telah menurunkan (Al-Qur’an) ke dalam hatimu dengan izin Allah, membenarkan apa (kitab -kitab ) yang terdahulu, serta sebagai petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang beriman.”

Tema utama Al-Quran adalah membahas tentang tauhid, atau monoteisme. di mana hanya ada satu tuhan, sang pencipta dan maha kuasa. kekuasaan Allah tertera pada ayat-ayat Al Quran misalnya di surat AL-Baqarah ayat 29 yang berbunyi,

هُوَ الَّذِيْ خَلَقَ لَكُمْ مَّا فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا ثُمَّ اسْتَوٰٓى اِلَى السَّمَاۤءِ فَسَوّٰىهُنَّ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ ۗ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ

“Dialah (Allah) yang menciptakan segala apa yg ada pada bumi untukmu lalu dia menuju ke langit, lalu dia menyempurnakannya menjadi tujuh langit. serta dia Maha Mengetahui segala sesuatu.”

di dalam Al-Quran juga tercantum hukum-hukum buat berkeluarga, pembagian hak waris, hukum ritual mirip sholat, berzakat atau kewajiban berpuasa. ada juga larangan-larangan untuk mengkonsumsi hal-hal yg diharamkan mirip makan babi atau minum anggur. Al-Quran juga menjelaskan tentang hukuman buat pencurian atau pembunuhan, hukuman orang yang riba atau curang dalam berdagang.

Al-Quran merupakan kitab suci bagi umat Islam yang dijadikan petunjuk, penuntun, serta juga pedoman. dalam memahami isi tulisan di dalamnya, kitab Sekelumit Kandungan Isi Al Qur’an ini bisa engkau jadikan pedoman.

Al-Quran membentuk fondasi hukum untuk umat Islam, meskipun rincian dari hukum-hukum tersebut tidak dituliskan dari Al-Quran, namun bisa dilihat dari hal-hal yg dilakukan oleh Nabi Muhammad atau yg disebut dengan hadits.

Sejarah Al-Quran

Sumber-sumber sejarah Islam mengatakan bahwa kumpulan wahyu Al-Quran yang lengkap ditulis setelah kematian Nabi Muhammad. saat banyak sahabat-sahabat Nabi yg hafal Al-Quran terbunuh di medan perang, ketakutan akan kehilangan pengetahuan Al-Quran mulai ada. Maka dari itu diputuskan untuk mengumpulkan wahyu Al-Quran. tulisan-tulisan wahyu Al-Quran datang dari berbagai bahan seperti cabang pohon palem, batu dan ingatan para sahabat.

sahabat Nabi, Zaid bin Tsabit, diketahui telah menyalin ayat-ayat Al Quran pada lembaran perkamen apapun yg bisa ditemukan, serta kemudian menyerahkannya kepada Khalifah Umar bin Khattab yang pada saat itu menjabat dari 634 – 644 M. setelah kematian Umar bin Khattab, koleksi dari catatan Al-Quran diwariskan kepada putrinya Hafsah.

pada saat kepemimpinan Khalifah Ketiga, Utsman bin Affan, ia mulai menyadari adanya sedikit berbeda-beda dalam pengucapan Al-Quran saat Islam berkembang dari Jazirah Arab ke Persia dan Afrika Utara. buat mencegah adanya berbeda-beda pada penulisan ayat-ayat Al Quran, Khalifah Utsman bin Affan yg menjabat dari tahun 644-656 M memerintahkan salinan dari Zaid bin Tsabit dikirim ke pusat kota.

dalam dua puluh tahun sesudah kematian Nabi Muhammad, Al-Quran dibuat dalam bentuk tertulis. Teks tersebut menjadi contoh dari mana salinan dibuat serta disebarluaskan ke seluruh pusat kota negara-negara Muslim. Beberapa versi lain dari Al-Quran kini telah dimusnahkan. Para ilmuwan dan sejarawan Muslim meyakini serta menerima bahwa teks Al-Quran saat ini merupakan versi asli yang disusun oleh para Khalifah.

di tahun 1972, di masjid yang berada di kota Sanaa Yaman, sebuah manuskrip ditemukan. Manuskrip tadi telah terbukti sebagai teks Al-Quran yg paling kuno yg diketahui ada di saat itu. Studi menunjukan bahwa perkamen tersebut berasal dari periode sebelum 671 M.

dari sejarah Islam, Al-Quran diturunkan kepada nabi Muhammad secara terpisah serta berangsur-angsur. seringkali ayat-ayat yg diturunkan merupakan kelompok ayat yg terpisah. sumber-sumber Islam menyimpan sejumlah besar laporan ihwal peristiwa pada mana suatu surat atau bagian dari sebuah surat diturunkan. dengan demikian, para penafsir Al-Quran pra-modern membayangkan wahyu AL-Quran terkait erat dengan peristiwa-peristiwa tertentu dalam kehidupan Nabi Muhammad.

buat mempelajari Al-Quran, engkau bisa membaca buku ini sebagai referensi yaitu kitab pintar Al-Quran: Segala Hal yg Perlu Kita Ketahui tentang Al-Quran, yg disusun oleh Lingkar Kalam. kitab ini disusun dengan bahasa yg mudah dimengerti dan juga tersemat gambar-gambar sebagai penunjang pembahasan kitab tersebut.

menjadi kitab suci yang tepat bagi umat Islam serta menjadi seebuah panduan para umatnya dalam menjalankan kehidupan. terdapat proses yang sebagai sejarah dari Al-Quran yg secara ringkas bisa kamu pelajari pada buku Sejarah Ringkas Al Quran Kandungan & Keutamaannya.

Hikmah Khutbah Shalat Jumat

Hikmah Khutbah Shalat Jumat – Allah menetapkan khutbah pada shalat Jumat buat mengingatkan umat Islam tentang urusan dunia dan akhiratnya. sebab itu, khatib seharusnya tidak hanya menyinggung tentang surga dan neraka saja, tetapi juga setiap hal yg berfaedah, sekalipun bersifat duniawi.

Shalat Jumat ialah salah satu ibadah wajib yang dilaksanakan setiap pekan sekali. semua umat Islam yang sudah baligh, berakal, pintar, bertempat tinggal tetap, diwajibkan buat menunaikan ibadah tersebut.

Selain buat mendekatkan diri kepada Allah swt dan memanen pahala dari-Nya pada hari yang mulia, ibadah satu ini juga menjadi momentum pertemuan di antara umat Islam. Mereka yg sebelumnya sibuk dengan pekerjaan, dan kesibukan lainnya, akan berhenti sejenak untuk melaksanakan shalat Jumat dengan cara berjamaah.

  1. Shalat Jumat sendiri mempunyai beberapa syarat yg wajib dipenuhi, di antaranya:
  2. dilakukan pada waktu Dzuhur;
  3. dilakukan di pemukiman;
  4. berjamaah;
  5. terdiri dari 40 jamaah;
  6.  2 khutbah Jumat; dan beberapa syarat lainnya.

Dalam kesempatan ini, penulis akan menjelaskan hikmah di balik adanya syarat khutbah dalam shalat Jumat.

karena, shalat-shalat harus yg tidak bisa sah tanpa adanya khutbah hanyalah shalat Jumat, bukan yang lainnya.
Secara etimologis, khutbah merupakan ungkapan-ungkapan yg disampaikan oleh seseorang pembicara (khatib) kepada orang-orang dengan bahasa yang lugas.

Sedangkan khutbah secara terminologis adalah sebuah pidato berisikan nasehat yg disampaikan seseorang pembicara pada banyak pendengar dengan bahasa yg fasih serta lugas. (Mausu’ah Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, [Mesir, Dârus Shafwah: 1427], juz XIX, halaman 176).

Hikmah Khutbah Shalat Jumat

Sebagaimana yg telah dijelaskan, shalat Jumat tidak sah Bila tanpa khutbah. sebab itu, sudah seharusnya bagi semua umat Islam buat memperhatikannya, mulai dari rukun, serta syarat-syaratnya. karena, Bila khutbah tidak sah, maka shalat pula tidak sah.

namun demikian, khutbah tidak hanya berlaku sebagai syarat sah shalat Jumat. Lebih dari itu terdapat nasihat yang sangat Istimewa di dalamnya. Bahkan, Allah tidak menjadikan khutbah sebagai syarat sahnya shalat kecuali di ketika shalat Jumat.
salah satu ulama Al-Azhar Mesir, Syekh Ali Ahmad al-Jurjawi dalam kitabnya mengatakan bahwa sifat manusia pada umumnya ialah condong pada kejelekan, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an:

إِنَّ الْإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعاً (19) إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعاً (20) وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعاً (21)

artinya, “sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh. apabila dia ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah, serta jika mendapat kebaikan (harta) dia jadi kikir.” (QS Al-Ma’arij:19-21).

karena itu, Allah menetapkan adanya khutbah shalat Jumat buat mengingatkan umat Islam kembali tentang urusan dunia dan akhiratnya. Mereka berkumpul pada satu tempat buat sama-sama mendengarkan nasehat yg disampaikan sang khatib, sehingga perbuatannya bisa manjadi baik dan kuat akidahnya.

karena itu, khatib seharusnya tidak hanya menyinggung tentang surga dan neraka saja, tetapi juga setiap hal-hal yang berfaedah, sekalipun berupa dunia:

لَقَدْ كَانَ السَّلَفُ الصَّالِحِ لَا يَقْتَصِرُوْنَ عَلَى التَّبْشِيْرِ بِالْجَنَّةِ وَالتَّحْذِيْرِ مِنَ النَّارِ وَكُلِّ مَا هُوَ مُتَعَلِّقٌ بِأَمْرِ الْأَخِرَةِ، بَلْ كَانُوْا يَشْرَحُوْنَ لِلْمُصَلِّيْنَ كُلَّ مَا فِيْهِ فَائِدَةٌ دُنْيَوِيَةٌ أَوْ أُخْرَوِيَةٌ تَعُوْدُ عَلَيْهِمْ

artinya, “Para ulama salafus shalih tak hanya menyampaikan nasehat kebahagiaan perihal nikmat surga , atau nasehat menakutkan tentang neraka, dan hal lain yg berhubungan dengan neraka saja, namun juga menjelaskan kepada orang-orang yang shalat (jamaah) tentang setiap sesuatu yang di dalamnya terdapat faedah, bagi dunia serta akhirat mereka.”

كَانَ الْخَطِيْبُ فِي صَدْرِ الْاِسْلَامِ يَقِفُ عَلَى الْمِنْبَرِ وَيَشْرَحُ الدَّاءَ الَّذِيْ أُصِيْبَتْ بِهِ جمَاعَةُ الْمُسْلِمِيْنَ وَيَصِفُ الدَّوَاءَ بِصُوْرَةٍ مُؤَثِّرَةٍ. فَاِذَا كَانَ الْجِهَادُ شُرِحَ لَهُمْ ثَوَابَ الْكِرَامِ الْمُحْسِنِيْنَ، وَاِذَا كَانَتْ هُنَاكَ فِتَنٌ وَمَا أَشْبَهَ ذَلِكَ شُرِحَ لَهُمْ مَا يُوْطِدُ دَعَائِمَ الْأَمْنِ فِي الْبِلَادِ وَهَدَاهُمْ اِلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيْمِ وَاِلَى صَلَاحِ أَمْرَيْ الدُّنْيَا وَالْأَخِرَةِ

artinya, “Khatib di awal Islam berdiri di atas mimbar dan menjelaskan kepada jamaah tentang penyakit yg menimpa mereka, kemudian menjelaskan obatnya dengan cara yg sangat menggugah. Jika sedang terjadi jihad, maka dijelaskan kepada mereka perihal balasan pahala orang-orang yg berbuat kebaikan. Jika terjadi fitnah (permasalahan), maka dijelaskan pada mereka pilar-pilar keamanan negara, dan mengajak mereka di jalan yang lurus serta pada kebaikan dunia serta akhirat.” (Syekh al-Jurjawi, Hikmatut Tasyrî’ wa Falsafatuh, [Maktabah at-Taufiq, Darul Fikr: 1997], juz I, page 90-91).

Demikian adanya hikmah khutbah shalat Jumat. Seolah, Allah hendak memberikan peringatan kepada umat Islam dalam setiap pekan satu kali melalui khutbah yang disampaikan pada shalat Jumat. Hal itu untuk manjadi nasehat agar umat Islam masih sesuai dengan ajaran-ajaran Islam, baik dalam berbuat, berkata, dan yang lainnya. Wallahu A’lam bisshawab.

Sumber: https://islam.nu.or.id/hikmah/hikmah-khutbah-shalat-jumat-W3j7w

Manfaat serta Keutamaan Ayat Kursi

Manfaat serta Keutamaan Ayat Kursi

Keutamaan Ayat Kursi Dari Ubay bin Ka’ab radhiallahu ‘anhu bahwasanya ia mempunyai lumbung kurma yang terus berkurang tanpa memahami apa penyebabnya. di suatu malam beliau pun menjaganya, kemudian dia mendapati seekor hewan melata yg menyerupai anak kecil yang baru beranjak dewasa. Ubay mengucapkan salam pada anak tersebut dan anak itu menjawab salamnya. Ubay bertanya, “Siapa Anda? Jin atau manusia?” Anak itu menjawab, “Jin.” Ubay berkata, “Tunjukkan tanganmu!” kemudian anak itu menunjukkan tangannya, ternyata tangannya serupa dengan tangan anjing serta bulunya pun seperti bulu anjing.

Ubay bertanya lagi, “Apakah ini wujud dari jin?” Jin itu menjawab, “Bangsa jin telah mengetahui bahwa tidak ada di antara mereka yang lebih kuat dariku.” Ubay bertanya, “Apa yg menyebabkanmu datang ke sini?” Jin itu menjawab, “telah sampai isu kepadaku bahwa engkau suka bersedekah, maka kami datang untuk mencuri makananmu.” Ubay berkata, “Apa yang bisa menyelamatkan kami dari kalian?” Jin itu menjawab, “Ayat ini yg berada di dalam surat al-Baqarah: Allaahu laa ilaaha illa huwal Hayyul Qayyuum…” Barangsiapa membacanya di sore hari, niscaya dia akan dilindungi dari kami hingga pagi dan barangsiapa yg membacanya di pagi hari, pasti ia akan dilindungi dari kami hingga sore.”

Pagi harinya Ubay mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan peristiwa tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Makhluk buruk itu telah berkata benar.” [HR an-Nasai dan at-Thabrani. Dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahiihut Targhiib]

Nash ini menunjukkan akan kuatnya pengaruh Ayat Kursi dalam menjaga hamba, mengusir syaithan serta menjauhkan mereka dari suatu tempat serta melindungi dari tipu daya dan kejahatan mereka. Jika anda membacanya pada peristiwa-peristiwa yang disebabkan oleh syaithan, pasti anda bisa menolaknya, sebagaimana yg ditegaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah di beberapa tempat dalam kitab-kitabnya.

beliau berkata dalam buku al-Furqaan: “Jika anda dengan ikhlas membaca Ayat Kursi (pada peristiwa-peristiwa yg ditimbulkan oleh syaithan) dengan benar, niscaya hal itu akan sirna. Sesungguhnya tauhid dapat mengusir syaithan.” [Al-Furqaan baina Auliyaa’ir Rahmaan wa Auliyaa’isy Syaithaan hal. 146]

ia juga berkata, “Jika seseorang membacanya dengan benar pada peristiwa-peristiwa yg ditimbulkan oleh syaithan, niscaya ia bisa membuatnya sirna.” [ibid hal. 140]

dalam kitab Qaa’idah Jaliilah fit Tawassul wal Waasilah, beliau berkata, “Hendaklah dia membaca Ayat Kursi dengan ikhlas. Jika ia sudah membacanya, niscaya hal itu akan sirna terbenam ke dalam bumi atau terhalangi.” [Qaa’idah jaliilah hal. 28]

beliau berkata, “Orang-orang yang ikhlas serta beriman tidak dapat diganggu (dikuasai) oleh syaithan-syaithan. oleh karena itu mereka akan lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya Surat al-Baqarah. Mereka juga lari dari Ayat Kursi, ayat terakhir dari Surat al-Baqarah serta ayat-ayat pilihan lainnya dari al-Qur’an. di antara kalangan jin ada yg memberitakan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di masa yg akan datang pada para dukun dan yang lainnya dari apa yang mereka dapat curi dengar. Dahulu terdapat banyak dukun di negeri Arab. tetapi waktu tauhid tampak dominan, para syaithan pun lari dan sirnalah atau berkuranglah jumlah para dukun. lalu hal itu timbul di daerah-daerah yang tidak tampak pengaruh tauhid di dalamnya.” [An-Nubuwwat I/280]

beliau juga mengatakan, “peristiwa-peristiwa yg disebabkan oleh syaithan seperti ini akan sirna serta semakin melemah Bila disebutkan nama Allah, tauhid kepada-Nya, serta dibacakan ayat-ayat pilihan dari al-Qur’an. Terutama Ayat Kursi, sesungguhnya bacaan itu bisa menghilangkan semua keanehan-keanehan yg ditimbulkan oleh syaithan.” [ibid I/283]

Anjuran buat memperbanyak membacanya, sebagaimana yang terdapat dalam AS-Sunnah, ialah suatu bukti akan kebutuhan mendesak seorang muslim terhadap ayat ini, juga terhadap tauhid dan pengagungan kepada Allah yang terandung di dalamnya. tidak akan ada kebatilan yang bisa tegak di hadapannya, bahkan ia akan menghancurkan tiang-tiangnya, menggoncangkan bangunannya, menceraiberaikan persatuannya, dan menghilangkan wujudnya dan seluruh dampaknya.

Nash yg lalu memberikan pengertian kepada kita tentang disunnahkannya bagi seorang muslim membaca ayat ini delapan kali setiap hari serta malam; dua kali pada pagi serta sore hari, sekali saat hendak tidur, serta lima kali sesudah menunaikan shalat 5 waktu. saat seorang muslim sudah dimudahkan dalam mengulang-ulang ayat ini, diiringi dengan menghadirkan hati buat memahami makna serta maksud yang terkandung di dalamnya, dan merenungi tujuan dan sasarannya, maka kadar tauhid yang ada di dalam hatinya akan semakin kuat dan ikatannya pun akan semakin kokoh. niscaya dengan tauhid ini dia sudah berpegang dengan tali yang kokoh, yg tidak akan putus sebagaimana dijelaskan dalam ayat sesudah Ayat Kursi ini.

yang diharapkan bukanlah hanya membaca tanpa merenungi maknanya, juga bukan mengulang saja tanpa mengkaji maksud serta tujuannya. Allah berfirman mengenai keumuman al-Qur’an, “Apakah mereka tidak mau merenungi (makna ayat-ayat) al-Qur’an?…” (QS. An-Nisaa: 82)

Maka bagaimana terhadap ayat yang paling agung serta paling utama, yaitu Ayat Kursi? Jika tak ada perenungan terhadap maknanya, akan menjadi lemahlah pengaruhnya dan sedikit juga manfaatnya. Baru saja berlalu asal kita pernyataan Syaikhul Islam: “Jika dia membacanya dengan ikhlas…” secara berulang-ulang. Ini dia ucapkan sebagai peringatan bahwa hanya membacanya saja tidak menggunakan sendirinya bisa meraih maksud yang diinginkan. adalah sangat berbeda antara orang yang membacanya dengan hati yg lalai dengan orang yg membacanya sembari memikirkan kandungan maknanya yang agung serta maksudnya yang penuh berkah, yaitu berupa tauhid serta pengagungan terhadap Allah. dengan demikian hatinya menjadi penuh dengan tauhid dan makmur dengan keimanan dan pengagungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Membacanya berulang-ulang disertai perenungan terhadap maknanya mengandung manfaat yg besar serta penting yang banyak ditinggalkan oleh banyak orang. Ketahuilah, hal itu karena pentingnya mengingat tauhid serta mengingatkan kembali pilar-pilarnya, menghunjamkan akar-akarnya ke dalam hati serta melapangkan wilayah di dalamnya. berbeda dengan orang yg meremehkan tauhid serta enggan mengkajinya. ia beranggapan bahwa cukup dengan mempelajarinya dalam beberapa menit dan beberapa waktu, sehingga tidak perlu mengingatnya terus menerus serta mengkajinya dengan kajian yg konsisten.

Disusun ulang dan diringkas dari Keagungan Nilai-Nilai Tauhid dalam Ayat Kursi Bab Kapan Saja Ayat Kursi Dibaca, karya Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad al-Badr penerbit Pustaka Imam asy-Syafi’I 2007

 

Artikel : https://alhilyahblog.wordpress.com

telah membeli
45 minutes ago